Monday, July 8, 2013
Betapa kaget nya aku ketika sebuah sms datang meminta izin untuk mengapresiasi salah satu puisiku dalam blognya. Bapak Said Adlin, ketua Dewan Kesenian Labuhanbatu tertarik untuk mengapresiasi salah satu puisi yang dianggapnya menarik, ini dia catatan yang ku intip dalam blognya tadi.
Aku dan Pinta
Hingga ujung kalam-Nya nanti
aku tak hendak menyisipkan lara dalam setiap perjumpaan
Yang kutahu hanya satu
Bilik-bilik hati yang terasa hening ini
kunikmati dengan segenap doa
Bahkan ketika yang ditakdirkan dalam masa itu tiba
Yang terpinta dalam sepanjang sajadah itu
Hanyalah ku dan Mu
Juga tak lupa bahwa jiwa yang sebenarnya
selalu menyimpan kesah ini
Adalah raga yang tak sanggup berdiri
tanpa kasih juga hendak-Nya
Pun jika kelak,mata menutup selamanya
Adalah pinta untuk mati
dalam istiqomah dan husnul khotimah
-Hidup mulia atau mati sahid
Rantauprapat,26 Oktober 2012
Zainab Alkausar
Hingga ujung kalam-Nya nanti
aku tak hendak menyisipkan lara dalam setiap perjumpaan
Yang kutahu hanya satu
Bilik-bilik hati yang terasa hening ini
kunikmati dengan segenap doa
Bahkan ketika yang ditakdirkan dalam masa itu tiba
Yang terpinta dalam sepanjang sajadah itu
Hanyalah ku dan Mu
Juga tak lupa bahwa jiwa yang sebenarnya
selalu menyimpan kesah ini
Adalah raga yang tak sanggup berdiri
tanpa kasih juga hendak-Nya
Pun jika kelak,mata menutup selamanya
Adalah pinta untuk mati
dalam istiqomah dan husnul khotimah
-Hidup mulia atau mati sahid
Rantauprapat,26 Oktober 2012
Zainab Alkausar
Demikian Zainab Alkausar mengkomunikasikan isi hatinya kepada pembaca bahwa betapa pun penderitaan hidup yang dialami oleh beliau ( penyair ) , beliau tak pernah mau untuk menunjukkannya kepada sang khalik dalam setiap kesempatan , apakah ketika beliau berdoa,maupun mungkin ketika beliau sholat.Penyair kelihatannya seorang yang menerapkan sikap qona'ah dalam mengharungi kehidupan ini,beliau menikmati saja suasana hati yang dimilikinya sebagai sebuah kebahagiaan tersendiri,ya kebahagiaan hidup berada dekat dengan sang pemberi kebahagiaan,ketenangan,dan keteduhan.
Aku tak hendak menyisipkan lara dalam tiap perjumpaan
Yang kutahu hanya satu
Bilik-bilik hati yang terasa hening ini
kunikmati dengan segenap doa
( Aku tak mau berkeluh kesah kepada-Mu wahai Allah,karena bagiku segala apa yang Kau beri ke dalam hati ini adalah anugrah yang kunikmati dengan penuh rasa syukur kepada-Mu)
Bahkan dalam setiap doanya , ketika Allah mentakdirkan untuk memanggilnya , Zainab Alkausar tidak menginginkan apa-apa selain hanya Allah dan dirinya saja,karena beliau sadar keluh kesah meskipun di dalam hati adalah bukti bahwa sesungguhnya beliau adalah makhluk yang dha'if yang tak sanggup berbuat apa-apa tanpa kasih sayang dan pertolongan dari Allah semata.
Juga tak lupa bahwa jiwa yang sebenarnya
selalu menyimpan kesah ini
Adalah raga yang tak sanggup berdiri
tanpa kasih juga hendak-Nya
( Kuakui,keluh kesah atas penderitaan hidup yang Kau takdirkan kepadaku selalu mendera hati ini,dan itu adalah bukti bahwa aku ini adalah hamba-Mu yang lemah , jika tanpa kasih sayang dan pertolongan-Mu wahai Allah )
Di akhir puisinya Zainab Alkausar kembali mengungkapkan satu harapan bahwa jika pun Allah memanggilnya nanti Zainab berharap dipanggil dalam istiqomah di jalan Allah,dan husnul khotimah, sebagai akhir kehidupannya yang baik dalam pandangan Allah.
Pun jika kelak,mata menutup selamanya
Adalah pinta untuk mati
dalam istiqomah dan husnul khotimah
Sederhana memang puisi religi berjudul Aku dan Pinta ini,namun kata yang dipilih oleh Zainab untuk mewakili perasaannya begitu lancar mengalir dan menurut saya mampu membuai pembacanya larut dalam suasana hening seperti heningnya bilik-bilik hati Zainab dalam kebahagiaan yang bukan karena materi keduniaan,melainkan karena merasa Allah selalu ada di sana , bersemayam di bilik-bilik hati Zainab.
Siapakah Zainab Alkausar ? Saya juga belum mengenal beliau.Nama itu begitu asing dalam fikiran saya,namun begitu saya disuguhkan oleh sahabat saya Th Pohan seonggok puisi untuk saya beri review atau semacam komentar atau apalah kata Th Pohan,karena katanya puisi-puisi itu akan diterbitkan,maka saya sedikit terperangah membaca puisi-puisi Zainab yang bernada religius.Ada toh anak Rantauprapat yang mampu menulis puisi seapik ini ? fikir saya. Maaf lo bagi penulis puisi yang lain yang satu onggok akan diterbitkan itu,yang lain juga bagus puisinya kok.
Bagi Saudaraku peminat sastra,jika dalam waktu dekat seonggok puisi itu sudah terbit dengan judul :Sajak Langit Panai,silakan simak puisi mereka ; Th Pohan,Agung S,de Puspa,Zainab Alkausar,Ibn Ven,Herlina Hsb,Qaireen Izz,Ahmad Fajar Septian,Faisal,dan Dita Fadhilah Azri.
Sungguh kiranya Allah senantiasa membimbing hati kita semua dalam suasana religius yang berarti Allah masih bersemayam di sana yang salah satunya tercermin dari puisi-puisi yang kita tulis.
Rantauprapat,8 Juli 2013
Diposkan oleh Sayyid Adlin
Al-Yahya di 17.57
Hatiku gerimis oleh haru, tak menyangka masih ada yang
peduli pada puisi sederhana itu. Tadinya aku minder, sudah tak percaya
perdiri menulis puisi kala menyaksikan jejeran puisi apik yang ada dalam
antologi puisi kami yang akan cetak nanti. Rasa tak bisa menulis puisi
karena merasa 'kalah' oleh puisi teman-teman menajdikanku 'off' sementara
menulis, bahkan tak ada gairah untuk sekedar berencana menulis puisi. Ah, gitu
aja kok sudah mewek yah, gak keren banget ya gua...
But, ini mungkin sentilan semangat untuk berkarya lagi.
Bukankah masing-masing penulis punya ciri kkas dan pangsa pasar sendiri dalam
menemukan pembacanya? Berarti sekarang harusnya tak ada kata minder, yang ada
adalah tetap menulis, baik dipuji maupun dikritik habis nantinya.
Terimakasih...
Sunday, July 7, 2013
Mimpi? Itu mah gua banget..
Sudah ntah berapa banyak mimpi yang di orat-arit di buku diari. Ada sekitar 6o-an mungkin, itu yang tertulis, beda lagi sama yang menari-nari di khayalan setiap waktu, bisa ratusan malah.
Betewe, mimpi itu asyik. Ya iyalah asyik, wong ngeluarin keringet aja enggak, apalagi capek berpeluh ria. Cuma mereka-reka dan memimpikan hal yang terindah yang kita inginkan dalam kehidupan, dan itu adalah hal yang mengasyikkan. Mimpi kan gak capek, wong yang di impikan adalah hal menyenangkan yang diinginkan, emang ada yang memimpikan hal yang buruk untuk dirinya sendiri?kayaknya gak ada deh, kalaupun ada perlu dilestarikan tuh orang, di museumkan kalau perlu.
Tapiiii jarak antara mimpi dan kenyataan itu jauuuuuuuuuh bangeeeet. Kayak bumi sama bulan, kayak laut sama gunung, kayak gula sama garam, kayak.....*halah malah ngawur*. Karena mewujudkan mimpi itu adalah hal yang gak mudah, bahkan tidak jarang banyak mimpi yang hanya berakhir sebagai tulisan semata, dan menghuni lembaran buku yang abadi.
Itulah mengapa kita tak dianjurkan hanya bermimpi tanpa bekerja. Bekerja terus terusan tanpa punya tujuan impian juga kayak berjalan tanpa tujuan, bisa nyebur empang tuh kalau keterusan atau malah nyasar kemana-mana. Artinya memang harus seimbang, realistis saja dalam memimpikan sesuatu dan tetap punya cara usaha untuk mewujudkannya.
Tapi aku pernah mendengar, usaha bisa saja menjadi nomor 2 ketika Allah telah membantu dan turun tangan mengijabah mimpi. Maka kedekatan kepada-Nya amatlah penting dalam rangka aksi pedekate agar segala impian dapat terwujud dengan indahnya. Iya gak sih? Udah ada yang bisa dijadikan saksi mata? Hayo hayo..
Ada tuh cerita ketika aku menuliskan impian pengen ke tanah jawa buat liat Kraton dan menyaksikan hamparan sawah yang menghijau disana, alhamdulillah tercapai. Beberapa waktu lalu aku didaulat menjadi salah satu guru yang diajak ke Jogjakarta untuk study banding kesana. Gak nyangka, padahal waktu menuliskan mimpi yang satu itu, aku sendiri juga gak tahu gimana cara mewujudkannya. Ternyata Allah punya cara yang lebih indah.
So? kalau kamu gimana?
Sudah ntah berapa banyak mimpi yang di orat-arit di buku diari. Ada sekitar 6o-an mungkin, itu yang tertulis, beda lagi sama yang menari-nari di khayalan setiap waktu, bisa ratusan malah.
Betewe, mimpi itu asyik. Ya iyalah asyik, wong ngeluarin keringet aja enggak, apalagi capek berpeluh ria. Cuma mereka-reka dan memimpikan hal yang terindah yang kita inginkan dalam kehidupan, dan itu adalah hal yang mengasyikkan. Mimpi kan gak capek, wong yang di impikan adalah hal menyenangkan yang diinginkan, emang ada yang memimpikan hal yang buruk untuk dirinya sendiri?kayaknya gak ada deh, kalaupun ada perlu dilestarikan tuh orang, di museumkan kalau perlu.
Tapiiii jarak antara mimpi dan kenyataan itu jauuuuuuuuuh bangeeeet. Kayak bumi sama bulan, kayak laut sama gunung, kayak gula sama garam, kayak.....*halah malah ngawur*. Karena mewujudkan mimpi itu adalah hal yang gak mudah, bahkan tidak jarang banyak mimpi yang hanya berakhir sebagai tulisan semata, dan menghuni lembaran buku yang abadi.
Itulah mengapa kita tak dianjurkan hanya bermimpi tanpa bekerja. Bekerja terus terusan tanpa punya tujuan impian juga kayak berjalan tanpa tujuan, bisa nyebur empang tuh kalau keterusan atau malah nyasar kemana-mana. Artinya memang harus seimbang, realistis saja dalam memimpikan sesuatu dan tetap punya cara usaha untuk mewujudkannya.
Tapi aku pernah mendengar, usaha bisa saja menjadi nomor 2 ketika Allah telah membantu dan turun tangan mengijabah mimpi. Maka kedekatan kepada-Nya amatlah penting dalam rangka aksi pedekate agar segala impian dapat terwujud dengan indahnya. Iya gak sih? Udah ada yang bisa dijadikan saksi mata? Hayo hayo..
Ada tuh cerita ketika aku menuliskan impian pengen ke tanah jawa buat liat Kraton dan menyaksikan hamparan sawah yang menghijau disana, alhamdulillah tercapai. Beberapa waktu lalu aku didaulat menjadi salah satu guru yang diajak ke Jogjakarta untuk study banding kesana. Gak nyangka, padahal waktu menuliskan mimpi yang satu itu, aku sendiri juga gak tahu gimana cara mewujudkannya. Ternyata Allah punya cara yang lebih indah.
So? kalau kamu gimana?
Thursday, July 4, 2013
Apakah harus ada alasan untuk mencintai? Hah, aneh. Pertanyaan ngawur bin gak nyambung plus lebay. But, ini realy realy mengganggu fikiran beberapa hari ini. Sebab, ntah darimana datangnya pertanyaan ngawur yang gak tau darimana juntrungannya itu tiba-tiba sudah meneror isi kepalaku untuk meminta jawaban. Mau jawab apa? wong saya juga amatiran kalau soal cinta, gimana bentuk dan sensasinya juga kagak pernah tahu dan rasakan.
Perlukah alasan untuk mencintai?
Kebanyakan yang kena teror pertanyaan ini menjawab dengan koor, 'Perluuuu'. Masak iya cinta gak punya alasan?aneh dong. Wong benci aja pake alasan, masak cinta gak punya alasan.
Nah, dari sekian banyak yang ditanya, jawabannya tetap sama. Namun hatiku belum puas, masih belum cukup dengan jawaban yang biasa itu. Entah butuh jawaban seperti apalagi, aku juga tak tahu pasti, yang jelas ujung-ujungnya aku jadi menilik kedalam diriku sendiri. Seorang perempuan dingin yang gak punya hati dan perasaan ini mana mungkin tahu arti cinta sedangkan banyak hati yang tersakiti olehnya dan dia tak pernah peduli bahkan tak pernah merasa bersalah. Ah sudahlah, jangan curhat disini, malu sama yang diatas kalau belum apa apa sudah mewek.
Balik lagi ke topik, lagi lagi belum nemuin jawaban. Ada yang bisa bantu? Kalau mencintai itu perlu alasan, maka mungkin aku adalah orang yang tak akan mendapat cinta, mengingat tak punya sifat atau sesuatu yang ideal selayaknya orang mencintai sesamanya. Maka, betapa malangnya nasibku. Apakah ini buntut sebab pertanyaan ini setia nguntit kemana daku pergi? untuk meminta diri berinstropeksi agar merubah diri menjadi ideal layaknya yang lain, agar layak mendapat cinta.
Namun aku ingin mendapat jawaban bahwa cinta itu gak butuh alasan. Adakah yang mencintai tanpa alasan? Sebab, jika alasan mencintai itu tak ada lagi maka apakah cinta juga turut hilang? Sekali lagi, ini pertanyaan aneh. Maka mungkin hatimu juga akan mempertanyakan, haruskan hal ini dipertanyakan? hahaha, aku juga sedang berfikir hal yang sama denganmu.
Maka kali ini, marilah kita sudahi kebingungan ini.
Semoga seperti halnya Allah, yang mencintai Hamba-Nya tanpa Pamrih dan tanpa alasan lebay, dia akan senantiasa mencintai siapa saja yang mendekat dan menghamba padanya, kita bisa mengambil makna tersuratnya nya.
Perlukah alasan untuk mencintai?
Kebanyakan yang kena teror pertanyaan ini menjawab dengan koor, 'Perluuuu'. Masak iya cinta gak punya alasan?aneh dong. Wong benci aja pake alasan, masak cinta gak punya alasan.
Nah, dari sekian banyak yang ditanya, jawabannya tetap sama. Namun hatiku belum puas, masih belum cukup dengan jawaban yang biasa itu. Entah butuh jawaban seperti apalagi, aku juga tak tahu pasti, yang jelas ujung-ujungnya aku jadi menilik kedalam diriku sendiri. Seorang perempuan dingin yang gak punya hati dan perasaan ini mana mungkin tahu arti cinta sedangkan banyak hati yang tersakiti olehnya dan dia tak pernah peduli bahkan tak pernah merasa bersalah. Ah sudahlah, jangan curhat disini, malu sama yang diatas kalau belum apa apa sudah mewek.
Balik lagi ke topik, lagi lagi belum nemuin jawaban. Ada yang bisa bantu? Kalau mencintai itu perlu alasan, maka mungkin aku adalah orang yang tak akan mendapat cinta, mengingat tak punya sifat atau sesuatu yang ideal selayaknya orang mencintai sesamanya. Maka, betapa malangnya nasibku. Apakah ini buntut sebab pertanyaan ini setia nguntit kemana daku pergi? untuk meminta diri berinstropeksi agar merubah diri menjadi ideal layaknya yang lain, agar layak mendapat cinta.
Namun aku ingin mendapat jawaban bahwa cinta itu gak butuh alasan. Adakah yang mencintai tanpa alasan? Sebab, jika alasan mencintai itu tak ada lagi maka apakah cinta juga turut hilang? Sekali lagi, ini pertanyaan aneh. Maka mungkin hatimu juga akan mempertanyakan, haruskan hal ini dipertanyakan? hahaha, aku juga sedang berfikir hal yang sama denganmu.
Maka kali ini, marilah kita sudahi kebingungan ini.
Semoga seperti halnya Allah, yang mencintai Hamba-Nya tanpa Pamrih dan tanpa alasan lebay, dia akan senantiasa mencintai siapa saja yang mendekat dan menghamba padanya, kita bisa mengambil makna tersuratnya nya.
Subscribe to:
Comments (Atom)



