Thursday, July 4, 2013

Apakah cinta harus punya alasan?

Apakah harus ada alasan untuk mencintai? Hah, aneh. Pertanyaan ngawur bin gak nyambung plus lebay. But, ini  realy realy mengganggu fikiran beberapa hari ini. Sebab, ntah darimana datangnya pertanyaan ngawur yang gak tau darimana juntrungannya itu tiba-tiba sudah meneror isi kepalaku untuk meminta jawaban. Mau jawab apa? wong saya juga amatiran kalau soal cinta, gimana bentuk dan sensasinya juga kagak pernah tahu dan rasakan.

Perlukah alasan untuk mencintai?
Kebanyakan yang kena teror pertanyaan ini menjawab dengan koor, 'Perluuuu'. Masak iya cinta gak punya alasan?aneh dong. Wong benci aja pake alasan, masak cinta gak punya alasan.

Nah, dari sekian banyak yang ditanya, jawabannya tetap sama. Namun hatiku belum puas, masih belum cukup dengan jawaban yang biasa itu. Entah butuh jawaban seperti apalagi, aku juga tak tahu pasti, yang jelas ujung-ujungnya aku jadi menilik kedalam diriku sendiri. Seorang perempuan dingin yang gak punya hati dan perasaan ini mana mungkin tahu arti cinta sedangkan banyak hati yang  tersakiti olehnya dan dia tak pernah peduli bahkan tak pernah merasa bersalah. Ah sudahlah, jangan curhat disini, malu sama yang diatas kalau belum apa apa sudah mewek.

Balik lagi ke topik, lagi lagi belum nemuin jawaban. Ada yang bisa bantu? Kalau mencintai itu perlu alasan, maka mungkin aku adalah orang yang tak akan mendapat cinta, mengingat tak punya sifat atau sesuatu yang ideal selayaknya orang mencintai sesamanya. Maka, betapa malangnya nasibku. Apakah ini buntut sebab pertanyaan ini setia nguntit kemana daku pergi? untuk meminta diri berinstropeksi agar merubah diri menjadi ideal layaknya yang lain, agar layak mendapat cinta.

Namun aku ingin mendapat jawaban bahwa cinta itu gak butuh alasan. Adakah yang mencintai tanpa alasan? Sebab, jika alasan mencintai itu tak ada lagi maka apakah cinta juga turut hilang? Sekali lagi, ini pertanyaan aneh. Maka mungkin hatimu juga akan mempertanyakan, haruskan hal ini dipertanyakan? hahaha, aku juga sedang berfikir hal yang sama denganmu.

Maka kali ini, marilah kita sudahi kebingungan ini.

Semoga seperti halnya Allah, yang mencintai Hamba-Nya tanpa Pamrih dan tanpa alasan lebay, dia akan senantiasa mencintai siapa saja yang mendekat dan menghamba padanya, kita bisa mengambil makna tersuratnya nya.




0 comments:

Post a Comment