Friday, December 7, 2012
Seorang ummahat suatu hari pernah bercerita kepadaku,
tentang kisah salah seorang murobbyahnya yang berubah drastis selama tidak
bertemu. Jilbab yang dulu lebar menjulur kini menyusut hingga hanya beberapa
centi dari lehernya, juga dengan pakaian yang kini tak sempurna menutup aurat.
Saat itu kami hanya terdiam membisu, tak sanggup berkomentar
apapun.
Lain lagi dengan romansa seorang saudara di jalan dakwah
ini. Ketika ada seorang teman dengan semangat membara berkata “ kalau untuk
urusan dakwah, ku acungkan dua jempolku untuknya. Tapi kalau untuk urusan
cinta, jempolku kuarahkan kebawah untuknya, payah! bayangkan saja, aktivis
dakwah kok malah kayak orang pacaran “
hanya lantunan
istighfar yang kuberikan sebagai komentar, mencoba memahami walau tak mengerti.
Juga ketika sekian kali aku mendengar curhatan seoarang
teman tentang seorang saudarinya yang mengenalkannya pada dakwah kini terlihat
asing dengan identitas dakwah yang
melekat dulu. Aku mengerti apa yang dia rasakan. Betapa hati seperti teriris
sembiluh kala menyaksikan dia yang dulu luar biasa mencotohkan dan menjabarkan
dengan semangat menggebu tentang makna dakwah dan aktivitasnnya, kini berubah
menjadi sosok yang berbeda…sangat berbeda. Tak perlu menjabarkan apa yang
berubah, tapi saat mengenangnya cukuplah buliran bening yang mengendap di sudut
mata menjadi saksi hati.
Entahlah, mungkin banyak lagi fenomena yang tumpah di cawan
jamaah dakwah ini. Ada yang “berwajah dua”, ada yang larut pada dunia, ada yang
tak lagi produktif mengemban amanah dakwah. Ada yang terlempar dan
‘menghilang’, ada yang…..
Lalu aku?
Mencoba melihat diriku didiri mereka. Bukankah saudara kita
adalah cerminan diri? Ketika diri bercermin dan melihat bayangan yang muncul di
cermin adalah sosok yang jelek dan kurang rapi,lantas kita menghancurkan dan
menghardik cermin? Bukankah yang harus diperbaiki itu adalah diri yang
bercermin? Bisa jadi ada kewajiban yang belum kita tunaikan, ada hak mereka
yang belum kita penuhi.
Dan bukankah aib mereka yang kita tahu bisa jadi belum
seberapa dengan aib diri sendiri? Hanya tinggal menunggu waktu kapan Allah mau
membukanya di depan mata saudara kita yang lain.
Namun bagiku tetap saja meminta istiqomah itu membersamai
langkah, karena sungguh aku tak tahu apa yang terjadi dengan diri yang hina
ini. Hanya ingin memantaskan langkah bersama para mujahid dan mujahidah dakwah
menuju jannah-Nya, walau merasa diri sangat tak pantas.
Terakhir, bukankah dakwah ini adalah jalan yang telah kau
pilih hai kader dakwah? Cinta yang diikrarkan dalam tekadmu dulu adalah nafas
itu? Identitas islam yang kau lekatkan dulu adalah piala yang kau junjung
dengan bangga dalam setiap kerlingan matamu? Masih adakah ia saat ini?
#Karena dakwah adalah cinta
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

0 comments:
Post a Comment