Sunday, August 4, 2013
Pertanyaan seputar menikah memang tak hanya sekali saja mampir padaku. Bahkan lumayan 'enek' juga menghadapinya. Bukannya enggan berbagi atau pelit kata dalam menjelaskan, namun bagiku menjelaskan panjang lebar pendapat dan prinsipku tentang menikah pada mereka yang tak paham dasar perjalanan dimana aku melabuhkan diri selama ini, maka itu sama halnya dengan sia-sia. Toh mereka tak akan pernah faham.
Banyak malah yang mencemooh prinsip ku dan mungkin juga sama dengan prisnsip akhwat yang lain. Mereka mungkin lelah meyakinkan, atau mungkin cenderung gerah dengan keakraban beberapa kader lain dalam kesendirian ketimbang cepat-cepat menikah. Beberapa diantaranya mencemooh mengapa kader dakwah suka 'plih-pilh'. Ya iyalah mesti memilih, kan gak mungkin juga menerima semua yang datang tanpa seleksi.
Adapun keinginan tentang pendamping hidup yang harus sama-sama dari kader dakwah juga, dalam hal ini sesama kader PKS. Maka inilah penjelasannya.
Jika kader berkeinginan mendapatkan pasangan hidup seperti itu, maka wajarlah. Mereka tak menikah demi kepentingan pribadi, namun untuk keberlangsungan dakwah. Mereka ingin memperjuangkan dakwah dengan makin kuat ketika telah menikah, karena disokong oleh pasangan hidup yang se'fikiran' dan se-ide. Bayangkan saja akan cacatnya sebuah keluarga jika salah satu pasangannnya tak paham dengan perjalanan dakwah pasangannya, ia tak mengerti tentang betapa pentingnya dakwah dalam hidup seorang kader. Maka bisa dipastikan, keluarga seperti ini akan menghilang dari peredaran dan menjauh dari amanah dakwah.
Lantas, apa tak boleh kader dakwah menikah dengan orang umum?
Jawabannya boleh!
Asalkan sang pendamping tersebut mau ikut bergabung dalam jamaah dakwah, mau ikut liqoat(pengajian) mingguan, ikut setiap kegiatan dakwah, dan aktif berinteraksi dengan kader-kader lain. Banyak juga akhwat yang menikah denga lelaki yang awalnya bukan kader dakwah, tidak dilarang. Namun, diantara mereka tak semuanya bertahan. Bersatatus seorang istri yang harus patuh pada suami, menjadikan mereka terkadang harus berbenturan pendapat dengan suami mereka yang kadang tak mendukung langkah dakwah sang istri. Ah, irohis sekali.
Lalu bagaimana denganku?
Aku tetap berkeinginan menikah dengan kader dakwah, yang bisa bersama berjuang tanpa cacat sebelah dalam pemahaman tentang langkah perjuangan. Yang dengan rela membiarkan istri mengambil bagian dalam agenda dakwah yang memang sibuk ini. Yang dengan rela menyokong istri dalam menguatkan langkah ketika telah mulai lelah dan putus asa. Ah, mungkin mimpi ini terlalu indah.
Namun tak menutup kemungkina, menerima mereka yang awalnya bukan bagian dari kader dakwah. But, harus menetapi syarat yang paling dasar, paling urgent, kalau syarat-syarat ini tak sanggup dipenuhi, maka ya sudahlah, lebih baik saya bersabar dalam kesendirian sambil menunggu waktu yang lebih tepat.
Adapun syaratnya adalah...jreng..jreng..:
1. Harus ikut ngaji dulu, minimal 3 bulan.Pengajiannya harus saya yang rekomendasikan. Darisana akan diilihat progresnya, dia bertahan atau tidak.
2. Harus berhenti merokok, bagi yang merokok.
3. Harus menjaga adab dengan lawan jenis
4. Sholatnya gak boleh tinggal
5. Menerima segala kekurangan diri, termasuk menerima keluarga dengan apa adanya.
Karena pernikahan buatku adalah:
Sebuah bangunan yang baru, yang menaungi siapapun yang ada didalamnya dengan kenyamanan. Pernikahan adalah pertemuan dua orang yang berbeda yang awalnya tak mengenal menjadi satu tim dalam menjalani hidup. Pernikahan adalah ibadah, menggenapkan separuh agama dan membuat bergetar Arasy Allah karenanya. Pernikahan itu begitu khidmat, penuh doa melangit dan harap yang melingkupi sebuah keluarga yang baru terbentuk.
Aku besar dalam ruang lingkup dakwah, maka juga akan berjalan didalamnya sampai ajal tiba. Banyak amanah yang menanti, dan takkan mengerti seribu alasan yang diberi. Dakwah memang tidak butuh kita, bahkan dia tetap mulia tanpa adanya kita. Namun, kitalah yang membutuhkannya. Kita yang meminta ridho Allah ketika melaluinya.
Dakwah telah membuatku dewasa, mengenal Allah, mengenal saudara, mencintai amanah, dan merasa berarti. Dakwah telah menawarkan madu dunia akhirat yang membuatku candu untuk kembali meneguknya, lagi dan lagi.
Maka akan dengan bangga kukatakan: Aku ingin menikah dijalan dakwah.
Banyak malah yang mencemooh prinsip ku dan mungkin juga sama dengan prisnsip akhwat yang lain. Mereka mungkin lelah meyakinkan, atau mungkin cenderung gerah dengan keakraban beberapa kader lain dalam kesendirian ketimbang cepat-cepat menikah. Beberapa diantaranya mencemooh mengapa kader dakwah suka 'plih-pilh'. Ya iyalah mesti memilih, kan gak mungkin juga menerima semua yang datang tanpa seleksi.
Adapun keinginan tentang pendamping hidup yang harus sama-sama dari kader dakwah juga, dalam hal ini sesama kader PKS. Maka inilah penjelasannya.
Jika kader berkeinginan mendapatkan pasangan hidup seperti itu, maka wajarlah. Mereka tak menikah demi kepentingan pribadi, namun untuk keberlangsungan dakwah. Mereka ingin memperjuangkan dakwah dengan makin kuat ketika telah menikah, karena disokong oleh pasangan hidup yang se'fikiran' dan se-ide. Bayangkan saja akan cacatnya sebuah keluarga jika salah satu pasangannnya tak paham dengan perjalanan dakwah pasangannya, ia tak mengerti tentang betapa pentingnya dakwah dalam hidup seorang kader. Maka bisa dipastikan, keluarga seperti ini akan menghilang dari peredaran dan menjauh dari amanah dakwah.
Lantas, apa tak boleh kader dakwah menikah dengan orang umum?
Jawabannya boleh!
Asalkan sang pendamping tersebut mau ikut bergabung dalam jamaah dakwah, mau ikut liqoat(pengajian) mingguan, ikut setiap kegiatan dakwah, dan aktif berinteraksi dengan kader-kader lain. Banyak juga akhwat yang menikah denga lelaki yang awalnya bukan kader dakwah, tidak dilarang. Namun, diantara mereka tak semuanya bertahan. Bersatatus seorang istri yang harus patuh pada suami, menjadikan mereka terkadang harus berbenturan pendapat dengan suami mereka yang kadang tak mendukung langkah dakwah sang istri. Ah, irohis sekali.
Lalu bagaimana denganku?
Aku tetap berkeinginan menikah dengan kader dakwah, yang bisa bersama berjuang tanpa cacat sebelah dalam pemahaman tentang langkah perjuangan. Yang dengan rela membiarkan istri mengambil bagian dalam agenda dakwah yang memang sibuk ini. Yang dengan rela menyokong istri dalam menguatkan langkah ketika telah mulai lelah dan putus asa. Ah, mungkin mimpi ini terlalu indah.
Namun tak menutup kemungkina, menerima mereka yang awalnya bukan bagian dari kader dakwah. But, harus menetapi syarat yang paling dasar, paling urgent, kalau syarat-syarat ini tak sanggup dipenuhi, maka ya sudahlah, lebih baik saya bersabar dalam kesendirian sambil menunggu waktu yang lebih tepat.
Adapun syaratnya adalah...jreng..jreng..:
1. Harus ikut ngaji dulu, minimal 3 bulan.Pengajiannya harus saya yang rekomendasikan. Darisana akan diilihat progresnya, dia bertahan atau tidak.
2. Harus berhenti merokok, bagi yang merokok.
3. Harus menjaga adab dengan lawan jenis
4. Sholatnya gak boleh tinggal
5. Menerima segala kekurangan diri, termasuk menerima keluarga dengan apa adanya.
Karena pernikahan buatku adalah:
Sebuah bangunan yang baru, yang menaungi siapapun yang ada didalamnya dengan kenyamanan. Pernikahan adalah pertemuan dua orang yang berbeda yang awalnya tak mengenal menjadi satu tim dalam menjalani hidup. Pernikahan adalah ibadah, menggenapkan separuh agama dan membuat bergetar Arasy Allah karenanya. Pernikahan itu begitu khidmat, penuh doa melangit dan harap yang melingkupi sebuah keluarga yang baru terbentuk.
Aku besar dalam ruang lingkup dakwah, maka juga akan berjalan didalamnya sampai ajal tiba. Banyak amanah yang menanti, dan takkan mengerti seribu alasan yang diberi. Dakwah memang tidak butuh kita, bahkan dia tetap mulia tanpa adanya kita. Namun, kitalah yang membutuhkannya. Kita yang meminta ridho Allah ketika melaluinya.
Dakwah telah membuatku dewasa, mengenal Allah, mengenal saudara, mencintai amanah, dan merasa berarti. Dakwah telah menawarkan madu dunia akhirat yang membuatku candu untuk kembali meneguknya, lagi dan lagi.
Maka akan dengan bangga kukatakan: Aku ingin menikah dijalan dakwah.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

0 comments:
Post a Comment