Tuesday, April 16, 2013
Aku sangat ingat, bahkan masih sangat lekat diingatan betapa seringnya kita merapal doa diantara jamuan rindu hujan pada bumi. Aku yang sedari dulu selalu sendiri mulai tertarik pada tulus ulur tanganmu menyambungkan tali ukhuwah yang berbeda dari saudari kebanyakan. Perlahan tapi pasti setiap centi hati mulai kau ambil alih.
Dan masihkah kau ingat, betapa ragam julukan telah tersemat diwajah kita bertiga? Mulai dari trio embek, trio jawa, trio becak, tim ad-hock, dan sebagainya, adalah cerminan betapa raga kita yang kala itu selalu bersama dalam segala aktivitas juga telah mencuri banyak mata dengan tingkah yang kita yang kerap menimbulkan kontroversi. Kita memang berbeda, namun punya rasa gerakan yang sama. Kita memang punya sifat yang saling bertolak belakang, namun begitu manis saat disandingkan. Kita memang tak punya kekuasaan apapun, namun bisa menghandle sebuah kekuatan besar. Kita memang tak selalu sepaham, namun begitu serasi dalam satu keputusan. Itulah kita...
Dan sering sekali, hujan mewarnai langkah tertatih kita. Berdesakan didalam becak, bertiga memandangi hujan dengan tatapan cinta, lalu melangitkan doa dan haarapan pada-Nya. Bahkan tak jarang kita berlarian kecil menghindari tetes rahmat itu, berteduh dalam derap suara hati. Suatu kali kita pernah sengaja memilih membersamai hujan dengan duduk manis dibawah dedaun yang berterbangan serta langit yang telah berubah pekat. Sungguh, kita punya kenangan yang indah dengan hujan itu. Begitu juga dengan segala doa dan cita yang kita gelar dibawah rinainya, dengan segala keyakinan pada kekuasaan Allah, kita meyakinkan diri pada setiap harap itu.
Kita kerap menuai banyak komentar, dan rata-rata negatif. Betapa banyak hati yang tak paham dengan jalan fikiran kita yang nyeleneh dari kebanyakan teman. Kita bertiga juga yang acapkali kena marah dari berbagai pihak dengan segala ulah yang kontroversial itu. Bahkan sampai saat ini, kita masih memecahkan rekor'gila' yang mungkin baru kali ini masuk dalam daftar merah para 'atasan'. Kita tahu, dan berazzam untuk memperbaiki, karena sejatinya sahabat adalah saling mengingatkan.
Seperti mimpi, si bungsu pun telah lebih dulu menuai terkabulnya doa itu. Awal tahun ini dia telah lebih dulu menggenapkan mimpinya untuk menikah, bahkan dengan sosok yang begitu tak asing dengan segala cerita itu. Dan rahmat untuknya datang bertubi-tubi, ketika ALLAH mengamanahkan sebuah janin didalam kandungannya.
Kini, mungkin Allah hendak menunjukkan bahwa DIA begitu merahmati perjalan kita itu. Tanggal 28 nanti, si sulung akan menyusul si bungsu, juga dengan orang yang tak asing dalam cerita-cerita kita. Aku benar-benar tak percaya, betapa ini begitu cepat berlalu. Begitu cepatnya semua kisah itu menjadi kenangan, padahal kami belum menunaikan cita membersamai guyuran hujan deras itu. Tapi sudahlah, bukankah kita harus berbahagia dengan kelanjutan kisah kita?
Aku bahagia teman, sekaligus sedih.Karena ini berarti aku akan kembali sendiri seperti dulu. Namun aku berterimakasih pada jalinan kisah yang menyejarah dihidupku ini, yang telah dapat melahirkan puisi-puisi indah dari dinginnya hatiku, juga yang telah memberi ruh baru pada episode cita-cita kita.
Ini langkah pertama dari cita-cita besar yang kita rangkai, karena Allah juga tak buta dan tak tuli dari menyaksikan harap tulus kita. Aku sudah cukup bahagia, walau hanya dengan menuliskan setiap moment perjalanan kita. Juga teriring doa, kelak aku bisa membukukan kisah menyejarah ini dan membagikan kepada mereka, yang punya mimpi besar dengan segala ketidakmungkinannya.
*Si bungsu yang akan mengejar beasiswa S2 nya semoga lulus dan menuntut ilmu disana. Bukankah ini masuk dalam doa itu?
*Si sulung yang sedang dag dig dug menjelang pernikahannya, semoga dimudahkan.
*Pada hujan yang lain, aku menitipkan doa untuk sahabat terakasih ini.
Dan masihkah kau ingat, betapa ragam julukan telah tersemat diwajah kita bertiga? Mulai dari trio embek, trio jawa, trio becak, tim ad-hock, dan sebagainya, adalah cerminan betapa raga kita yang kala itu selalu bersama dalam segala aktivitas juga telah mencuri banyak mata dengan tingkah yang kita yang kerap menimbulkan kontroversi. Kita memang berbeda, namun punya rasa gerakan yang sama. Kita memang punya sifat yang saling bertolak belakang, namun begitu manis saat disandingkan. Kita memang tak punya kekuasaan apapun, namun bisa menghandle sebuah kekuatan besar. Kita memang tak selalu sepaham, namun begitu serasi dalam satu keputusan. Itulah kita...
Dan sering sekali, hujan mewarnai langkah tertatih kita. Berdesakan didalam becak, bertiga memandangi hujan dengan tatapan cinta, lalu melangitkan doa dan haarapan pada-Nya. Bahkan tak jarang kita berlarian kecil menghindari tetes rahmat itu, berteduh dalam derap suara hati. Suatu kali kita pernah sengaja memilih membersamai hujan dengan duduk manis dibawah dedaun yang berterbangan serta langit yang telah berubah pekat. Sungguh, kita punya kenangan yang indah dengan hujan itu. Begitu juga dengan segala doa dan cita yang kita gelar dibawah rinainya, dengan segala keyakinan pada kekuasaan Allah, kita meyakinkan diri pada setiap harap itu.
Kita kerap menuai banyak komentar, dan rata-rata negatif. Betapa banyak hati yang tak paham dengan jalan fikiran kita yang nyeleneh dari kebanyakan teman. Kita bertiga juga yang acapkali kena marah dari berbagai pihak dengan segala ulah yang kontroversial itu. Bahkan sampai saat ini, kita masih memecahkan rekor'gila' yang mungkin baru kali ini masuk dalam daftar merah para 'atasan'. Kita tahu, dan berazzam untuk memperbaiki, karena sejatinya sahabat adalah saling mengingatkan.
Seperti mimpi, si bungsu pun telah lebih dulu menuai terkabulnya doa itu. Awal tahun ini dia telah lebih dulu menggenapkan mimpinya untuk menikah, bahkan dengan sosok yang begitu tak asing dengan segala cerita itu. Dan rahmat untuknya datang bertubi-tubi, ketika ALLAH mengamanahkan sebuah janin didalam kandungannya.
Kini, mungkin Allah hendak menunjukkan bahwa DIA begitu merahmati perjalan kita itu. Tanggal 28 nanti, si sulung akan menyusul si bungsu, juga dengan orang yang tak asing dalam cerita-cerita kita. Aku benar-benar tak percaya, betapa ini begitu cepat berlalu. Begitu cepatnya semua kisah itu menjadi kenangan, padahal kami belum menunaikan cita membersamai guyuran hujan deras itu. Tapi sudahlah, bukankah kita harus berbahagia dengan kelanjutan kisah kita?
Aku bahagia teman, sekaligus sedih.Karena ini berarti aku akan kembali sendiri seperti dulu. Namun aku berterimakasih pada jalinan kisah yang menyejarah dihidupku ini, yang telah dapat melahirkan puisi-puisi indah dari dinginnya hatiku, juga yang telah memberi ruh baru pada episode cita-cita kita.
Ini langkah pertama dari cita-cita besar yang kita rangkai, karena Allah juga tak buta dan tak tuli dari menyaksikan harap tulus kita. Aku sudah cukup bahagia, walau hanya dengan menuliskan setiap moment perjalanan kita. Juga teriring doa, kelak aku bisa membukukan kisah menyejarah ini dan membagikan kepada mereka, yang punya mimpi besar dengan segala ketidakmungkinannya.
*Si bungsu yang akan mengejar beasiswa S2 nya semoga lulus dan menuntut ilmu disana. Bukankah ini masuk dalam doa itu?
*Si sulung yang sedang dag dig dug menjelang pernikahannya, semoga dimudahkan.
*Pada hujan yang lain, aku menitipkan doa untuk sahabat terakasih ini.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

0 comments:
Post a Comment