Thursday, May 1, 2014
Persahabatan adalah musim yang
selalu semi, dedaun dan bunga menjadi indah walau terkadang satu-satu harus
rebah menatap cakrawala.
Bukan
tak pernah mau untuk menuliskan sebait atau dua bait kalimat tentangnya atau
terlampau sibuk untuk tak menyempatkan diri berkisah sebentar saja, ada alasan
yang tak bisa terucap lisan ini ketika pertanyaan itu kerap di lontarkan
darinya untukku.
Bersebab
ia terlalu dekat, merapat, dan membaur dalam tiap sisi ingatanlah, yang
mengakibatkan otakku selalu lumpuh dalam membahasakannya walau dalam bentuk
yang sederhana. Karena ada masa, sesuatu yang indah itu hanya dapat dirasakan
keindahannya lewat sensasi rasa yang ia ciptakan tanpa mampu mewujudkan
keindahan itu dalam bentuk rupa bahasa. Aku selalu khawatir, kebodohanku dalam
bertutur membuat segala keindahan itu menjadi pudar. Dan jika hal itu terjadi,
maka bisa dipastikan aku takkan dapat memaafkan diriku sendiri.
Tapi
tak mengapalah, kali ini akan kuminta hatiku berdamai. Semoga hati berkenan
memberikan ijin padaku untuk mengangkat sebuah nama yang kusimpan rapi di
bilik-biliknya, akan kutunjukkan ia pada sesiapa yang mungkin ingin
mengetahuinya. Semoga penuturan sederhana ini mendapat pemakluman jika dirasa
kurang ‘asam garamnya’
****************************
Aku
lupa kapan tepatnya, tapi mungkin sekitar tahun 2011 atau setelahnya, aku
pernah mencoba menyapanya lewat inbox facebook. Rasa inginku berkomunikasi
dengan si pemilik nama yang indah dan lumayan membuatku penasaran itu,
membuatku memberanikan diri menyapa, karena sejatinya kami tak pernah mengenal.
Lalu setelah itu aku lupa, mungkin interaksi kami di dunia maya yang tak begitu
sering terhubung membuat aku tak lagi dapat mengenalnya lebih jauh seperti
inginku kala itu.
Bertahun
kemudian, aku kembali bertemu akun facebook si pemilik nama indah itu. Ia
mendarat dan komentar pada postingan facebook yang kala itu sedikit curhat
mengenai tugas dari mentoring penulisan dalam organisasi menulis yang kala itu
aku ikuti. Ternyata, ia, si pemilik nama itu esok harinya akan datang menjadi
mentor dalam mentoring kelas menulis esok harinya. Forum kepenulisan yang saat
itu aku ikuti baru saja membuka cabang di kota kecil kami. Dan sebagai
konseuensinya, para pengurus wilayah yang berada di Medan, harus bergantian
datang ke kota kami untuk memberikan pelatihan menulis setiap 2 minggu sekali.
Dan pada waktu itu, giliran si pemilik nama indah itu yang menjejak kota kami.
Tidak menyangka, dapat
bertemu raga
Padahal beberapa waktu lalu
ia hanya ada dalam rekaan saja
Cuma berbekal sebuah nama
Kini ia telah sempurna
Menjadi cerita
Setelah
pertemuan itu, tak dinyana kami semakin dekat. Ia supel, ramah dan bersahaja.
Ia tak segan-segan sms lebih dahulu, atau menelfon untuk bercerita apa saja,
bahkan tanpa diminta. Waktu yang mengiringi kami, menjadikan masing-masing kami
seolah telah berteman sangat lama. Padahal kami baru satu kali bertemu, dan
jarak geografis daerah juga tak memungkinkan kami untuk rutin bersua.
Namun
dari komunikasi yang sederhana itulah, aku menemukan banyak hal darinya, jujur
aku pun belajar banyak. Setidaknya, secara tidak langsung masing-masing kami
pasti sama sama belajar ketika tiap kali membahas banyak hal, mulai dari sastra
, dakwah, dan cinta.
Sejauh
ini kami memang amat hobi berbincang lama, bahkan dalam hitungan jam, lewat
telfon tentunya. Kami berbincang apa saja, atau hanya sekedar tertawa
terbahak-bahak bersama, mendengarkan masing-masing kami bernyanyi lagu
kesukaan, atau curhat sendu berbumbu air mata haru. Maka tak heranlah,
teman-teman banyak yang sudah menganggap kami berdua adalah pasangan soulmate,
belahan jiwa. Mungkin kami terlanjur saling memahami dan menyanyangi. Mungkin….
Dan
yang paling membahagiakan dari semua cerita cerita dan kabar darinya, ada satu
hal yang membuatku menjadi sahabat yang paling bersyukur bahkan hingga saat
ini. Beberapa tahun sudah ketika kala itu ia meninggalkan lingkaran cahaya,
tempat ia biasa melarungkan cinta pada jamaah dan dakwah. Ada miris yang sangat
didadaku waktu itu, namun doa yang tulus dalam sujud sujud panjangku, aku
selalu menyelipkan ia. Maka, ketika ia mengabarkan tekad untuk kembali
kelingkaran cahaya, adalah sebuah kado persahabatan yang amat indah. Tak ada
bahagia yang membuncah selain ucapan hamdallah yang menggema pada ruang jiwaku.
Ah, bahagia itu memang sederhana. Sesederhana kado bahagia pertama buatku
darinya ini.
Aku
masih ingat lagu yang kulantunkan untuknya by telephone, tengah malam, saat ia
berada di perjalanan pulang bersama teman-teman FLP seusai melaksanakan kegiatan
untuk kami disini. Syair yang tulus, menggambarkan betapa inginku
menghadiahkannya beribu kunang-kunang agar malam tak terlalu kelam untuknya,
namun tentu aku tak bisa.
Aku masih seperti yang dulu
Mencintaimu dengan rasa
imanku
Sampai kini, semua belum
berubah
Sebab cintaku, bukan karena
dunia
Setelah
lagu itu kulantunkan, telfon diakhiri. Maka sms itu pun datang, mengatakan
bahwa ia ingin kembali. Benar-benar kembali.
**************************************
Mungkin waktu teramat
berkuasa atas kita, hingga siapapun tak punya kuasa untuk menarik, mengulur
atau mengobrak-abriknya seenak mau kita. Waktu memang menjadi tuan rumah dari
kisah kita yang terlampau sederhana ini. Namun aku meyakini, waktu takkan bisa
menguasai ikrar kasih yang telah kita langitkan semenjak tatap mata kita
bertemu untuk yang pertama.
Maka untukmu, Dinda..
Seperti apapun rupa laku
yang kadang sengaja ku munculkan dan kau tak menyukainya, adalah frasa-frasa
yang kuajarkan padamu agar kau lebih banyak memahami ketimbang meminta untuk
dipahami. Karena dengan memahamilah, sejatinya kita telah mentarbiyah jiwa-jiwa
yang rapuh dan kosong tanpa lentera. Aku, mungkin sedang terpaku menyesali
kesengajaanku untuk membiarkanmu sendiri menghadapi hidup yang begitu gagah
mempertontonkan kekuatannya kepada kita. Namun, aku telah lebih dulu
menitipkanmu pada sang maha. KepadaNya lah, aku mempercayakan keselamatanmu
lebih dari apapun. Semoga kau mengerti dan memaafkan kelemahanku.
Subscribe to:
Comments (Atom)