Saturday, December 19, 2015

Tetaplah Ia (Hujan)

Mungkin bahasaku tidak sepuitis dulu, dalam menerjemahkan hujan setiap kali ia hadir.
Ada banyak hal yang berubah (mungkin), dalam beberapa kurun waktu berganti. Ada yang datang dan ada yang digantikannya ketika pergi.
Tapi tetaplah ia (hujan) menjadi cinta yang tak pernah lekang oleh masa manapun. Tidak ada yang menggantikannya, walau sajak tidak lagi selalu mewujudkannya.
 
Tentunya hanya hujan yang masih menyimpan doa-doa yang aku langitkan sejak dulu, beberapa kini hanya menjadi kenangan manis karena satu persatu berwujud nyata, sementara yang lain masih menunggu antrian diantara doa-doa para pecintaNya yang sedang sama menunggu.
 
Bulan kedelapan, di malam-malam yang hujan.
Walau kadang hanya bisa memandangnya lewat pintu dan jendela, sebab ada alasan mengapa kini tidak lagi bisa sesuka hati bermandikan airnya, semua rasa dan cinta tetap sama.
Ia tetap hujan, yang menghadirkan cinta.
 
Bulan kedelapan, kini bersama hujan yang sama aku berbincang, beberapa masa kemudian pengalaman baru akan menantang, menjadi seorang ibu.
 
Ah, hujan, cinta.
Selalu saja menghadirkan sisi melankolis, ketika membersamainya berbincang.