Saturday, March 30, 2013

Titipan Ungu...

" Ini ada titipan, Kak"
Dewi lantas memberikan sebuah tas jinjing kecil yang dilakban menandakan ada sesuatu didalamnya. Dengan sumingrah aku menerimanya hangat. Beberapa waktu lalu, sang pemilik titipan ungu itu telah mengabarkan akan menitipkan sesuatu untukku melalui temannya yang akan menjadi pemateri mentoring kepenulisan di kota kecilku ini.

Dengan rasa penasaran aku membukanya segera. sebuah kaset CD nasyid dimana ada dia dan kelompok nasyidnya disana, sebuah buku antologi cerpen, sebuah gantungan kunci dari Sibolga, dan satu lagi...sepucuk surat dengan tulisan tangannya yang khas.

Beberapa waktu kemudian, aku jatuh cinta dengan tas jinjing ungu itu. Aku membawanya kemana-mana dan kuisi apa saja yang bisa kubawa, walaupun sebenarnya bisa kumasukkan ke dalam tas ranselku. Kombinasi warna ungu dengan gambar daun yang meneteskan embun menjadikan relaksasi harmoni keindahan disana. Sungguh aku benar-benar terpikat olehnya.

Lama kelamaan aku menyadari, jika tas jinjing itu terus-terusan kubawa kesana kemari maka besar kemungkinan akan rusak. Sejurus kemudian, keputusan untuk 'memusiumkan' tas ungu itu adalah keputusan terbaik. Melipatnya rapi dan menyimpannya dibawah tumpukan buku-buku agar tetap kelihatan bagus.

Titipan ungu itu adalah cerminan sang empunya. Dengan ketulusan yang besar, titipan itu akhirnya mewujud sebuah raga yang indah dan berkesan sampai kapanpun.Ukhuwah yang terajut dengan hanya hitungan beberapa hari semenjak pertemuan pertama kami di mentoring penulisan 1 bulan yang lalu itu ibarat sebuah syair kerinduan yang sanggup memenjarakan setiap rasa agar berubah menjadi raga perjumpaan.

Hanya Allah yang sanggup membalas cinta manusia, juga segala pengorbanannya. Karena diri menyadari, kerap memberi kecewa pada setiap hati yang menautkan namaku pada dinding hati. Pun dengan wujud titipan ungu ini, sebuah doa menghampar pada bumi untuknya, seorang saudari yang merelakan memberi sedikit ruang hatinya untukku yang kerap mengecewakan setiap raga.

Aku selalu mengejar misteri akan sebuah tanya
Pada hamparan kabut yang menyapa 
Dengan segunung kasih yang dibentangkan pada setiap rentang langkah
Ada aku dan guratan noda mengendap lekat

*Terimakasih untuk adindaku Lailan Syafira, atas titipan ungu yang mampu menawan hatiku. Juga segenap perhatian yang menggugurkan setiap sangka akan fenomena tipisnya ukhuwah.






Hatiku, saat ini...

Huaaah...susah menggambarkannya. Kondisi dan suasana hatiku sedang naik turun tak menentu. Mulai dari susah berfikir, marah-marah tanpa alasan, gamang, galau, malas, dan...entah apalagi. Satu hal yang kuambil hikmahnya adalah, kali ini aku harus berjuang dengan segenap usaha  bisa mengembalikan 'rasa' itu agar kembali melingkupi hati. Hari-hari kedepan akan sangat berat, dan 'berat' ini adalah mujahadah yang begitu diperlukan saat ini.

Robbi, kali ini aku mengetuk pintu-Mu untuk yang kesekian kali
Hendak meminta segenap mampu dalam kubangan air mata
Raga yang bersimbah cerita, antara aku dan dunia fana
Dalamnya rindu pada naungan ketenangan kalbu.

Thursday, March 28, 2013

Lelaki Senja Itu


Tak ada yang lebih menusuk hati selain mengingatnya, bukan..tepatnya saat membicarakan tentang malaikat senja yang hadir di langkahku ini.

Dia selalu ada di depan rumah dengan duduk bertelanjang dada, menanti-nanti kemunculanku disana. Serta-merta menghadangku dengan pertanyaan yang sudah kuhafal sampai saat ini.
" Dari mana saja kok sekarang baru pulang?"
Dan akupun melenggang masuk hanya dengan menjawab pertanyaan tidak sinergis
" iya, baru pulang"
 Dia hanya butuh kehadiranku, setelah itu dunianya serasa kembali. Tinggallah aku yang menyisakan ruang luka karena merasa bersalah telah meninggalkannya seharian dengan aktivtas yang tak mungkin kutinggalkan.

Terkadang, dia mencari-cari kehadiranku dalam setiap tatap nya hingga seringkali ia merasa kehilangan padahal aku ada diruang yang lain di tempat itu
Terkadang, ia tak hendak melakukan apapun tanpa aku. Bahkan menahankan haus dan lapar hanya demi menunggu hadirku disisinya walau sampai jam berapapun aku kembali dari seabrek aktivitas diluar sana.
Seringnya, ia akan memasang wajah kecewa jika aku sudah berpamitan lagi untuk kesekian kali dengan berpakaian rapi hendak keluar rumah menunaikan amanah.
Seringnya, ia akan merasa nyaman dengan hadirku. Hanya melihat raga tanpa bertegur sapa sekalipun, baginya sudah lebih dari cukup mendapatkan teman di usia senja ini.


Senja adalah niscaya, namun teman mengarungi senja adalah anugrah. Aku bukanlah anugrah, hanya belajar mencintai senja.




Wednesday, March 27, 2013

Rindu pada wejangan Mbak Pucuk, Rindu candaaan ringan si bungsu, Rindu pada tatap lembut si sulung...kapan meet time? :-)

Apa cerita kita? Bukankah telah lama mengendapkan segala rasa bisa mewujudkan rentetan diksi yang merdu untuk dinikmati?

Menurutku ini cepat sekali. Bahkan aku masih seperti mimpi ada di dalam kenyataan mimpi itu sendiri. Semuanya nyata, laksana mimpi yang indah dalam tidur yang panjang dan kemudian terbangun seketika dalam keadaan yang sama didalam mimpi itu tadi.

Aku masih ingat sekali, bahkan sangat segar diingatan saat hujan menjadi moment paling romantis yang menyatukan 3 mimpi sekaligus dalam satu pinta. Dibawah hujan, naungan rahmat-Nya menjadi sebuah saksi bisu dari mimpi-mimpi kami yang melangit tinggi. Merajutkan cerita yang kami tak tahu akan berakhir menjadi sebuah cerita sajakah atau akan mewujud nyata.

Satu pinta telah mewujud, giliran mimpi berikutnya telah mencapai titik terang dan tinggal menunggu hari. Alangkah indahnya, ketika mengingat tumpukan cerita yang melangit itu.

Sebagai konsekuensi, aku akan ditinggal sendiri. Dan diri menyadari, semuanya akan berakhir sendiri.

Rindu untuk menyapa raga, rindu menghunus cerita. Rindu pada wejangan Mbak Pucuk, Rindu candaaan ringan si bungsu, Rindu pada tatap lembut si sulung...kapan meet time? :-)

Pada mula mata berjabat dengan tatapanmu
Pada awal tangan menggenggam salam perjumpaan
Pada saat itulah aku telah melabuhkan hati
Dijalan ini...denganmu.

Aku berbicara tentang tali cinta yang menautkan sebagian bahkan keseuruhan ingatanku tentangmu
Laksana bara yang menyala membuat cahaya pada dermaga rindu
Ini masih tentangmu..
Yang menautkan lekat parasmu di bilik kalbuku

Kali ini, biarkan asaku menumpuk diksi tentangmu
Karena dengan inilah aku menciptakan sendiri pinta serta doa yang melingkarkan cita-cita.


Wednesday, March 20, 2013

Mungkin kita pernah jenuh untuk berada pada satu titik. Hendak merasakan sensasi berbeda pada titik yang lain. Dan mungkin saja, dua pasang mata atau lebih akan menjadi penatap paling tajam pada aktivitas berbeda yang dengan santai begitu nyaman dilakukan.

Tetap sama..
Jika hendak pergi, segeralah kembali

Adakalanya sensasi berbeda yang hendak dirasa justru tak lebih baik dari rasa jenuh itu sendiri

Karena sesungguhnya sebagai manusia yang luar biasa
Potensi 'berontak' itu pasti ada, bahkan selalu meminta kisah

Dan karena sebagai manusia yang berfikir jernih
Anggaplah bagian kisah itu sebagai kidung merdu pelepas lara

Tetap saja..
Selalu ada kisah yang begitu manis untuk suatu masa