Thursday, March 28, 2013
Tak ada yang lebih menusuk hati selain mengingatnya, bukan..tepatnya saat membicarakan tentang malaikat senja yang hadir di langkahku ini.
Dia selalu ada di depan rumah dengan duduk bertelanjang dada, menanti-nanti kemunculanku disana. Serta-merta menghadangku dengan pertanyaan yang sudah kuhafal sampai saat ini.
" Dari mana saja kok sekarang baru pulang?"
Dan akupun melenggang masuk hanya dengan menjawab pertanyaan tidak sinergis
" iya, baru pulang"
Dia hanya butuh kehadiranku, setelah itu dunianya serasa kembali. Tinggallah aku yang menyisakan ruang luka karena merasa bersalah telah meninggalkannya seharian dengan aktivtas yang tak mungkin kutinggalkan.
Terkadang, dia mencari-cari kehadiranku dalam setiap tatap nya hingga seringkali ia merasa kehilangan padahal aku ada diruang yang lain di tempat itu
Terkadang, ia tak hendak melakukan apapun tanpa aku. Bahkan menahankan haus dan lapar hanya demi menunggu hadirku disisinya walau sampai jam berapapun aku kembali dari seabrek aktivitas diluar sana.
Seringnya, ia akan memasang wajah kecewa jika aku sudah berpamitan lagi untuk kesekian kali dengan berpakaian rapi hendak keluar rumah menunaikan amanah.
Seringnya, ia akan merasa nyaman dengan hadirku. Hanya melihat raga tanpa bertegur sapa sekalipun, baginya sudah lebih dari cukup mendapatkan teman di usia senja ini.
Senja adalah niscaya, namun teman mengarungi senja adalah anugrah. Aku bukanlah anugrah, hanya belajar mencintai senja.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

0 comments:
Post a Comment