Tuesday, May 21, 2013
Rinduku pada menulis begitu memburu, bahkan aku tak sanggup menahan gejolaknya. Namun kali ini aku tak jua mempertemukan jemari dengan jiwa untuk menghasilkan baris diksi. Ya, kali ini aku kehilangan diriku sendiri.
Aku ingin membersemai hari dengan jutaan mimpi baru, mengabadikannya lewat kata dan membaginya dengan siapa yang hendak bersua.
Tuesday, May 7, 2013
Ketika jejak embun menyentuh dedaun
Dengan susah payah aku menerjemahkan rasa yang berkelebat ini dalam baris diksi
Jika mungkin aku bisa berbicara dengan titi bening itu
Maka tak akan bisa aku berpisah sedetik saja dalam membersamainya
Sunday, May 5, 2013
Tetap pe-de dengan rumah sederhana bernama Blog 'embun' ini. Dengan desain apa adanya dan isi tulisan yang hanya curahan hati ini awalnya ingin kupersembahkan untuk diriku semata. Namun, lambat laun aku mengerti mengapa aku begitu suka menulis di blog ini.Karena sifatnya yang berbau curhat, dengan senang hati tanpa mengenal waktu tertentu, setiap ada rasa yang hendak tumpah, maka aku akan melepaskannya disini, dirumah sederhana.
Selamat datang didunia mayaku, dunia kedua yang selalu kukunjungi saban hari.
Saturday, May 4, 2013
Pada kali pertama sejak hatiku kau ambil, aku telah berjanji untuk mencintaimu.
Ini kali pertama seluruh ruang hatiku kau kuasai, begitu meraja dan menjadi kuasa atas segala rasa. Sangat tak biasa bagiku, namun ulur tangan tulus dan sikap sabar yang begitu lebih dalam menghadapi si watak keras ini adalah keping-keping kenangan yang akan terus kususun hingga utuh.
Apa kabar keluarga aneh? Maaf jika aku menyebutnya begitu, karena menurut akal kala aku sehat, kita berempat adalah keluarga yang aneh, lain dari kebanyakan teman yang lain. Membersamai kangen dengan ‘meet time’ dan ngopi-ngopi cantik’, menyelesaikan gundah dengan belanja, chating rame-rame didunia maya, juga nekat kesana kemari dengan becak yang menjadi kendaraan favorit.
Jika inspirasi itu adalah kamu. Bolehkah kukatakan, bahwa energy menulisku akan tumbuh berlipat-lipat jika bersamamu. Mula pertama aku bisa menuliskan cerita perjalanan dibawah hujan dengan begitu apik. Pun dengan cerita-cerita lain yang meluap begitu saja dengan diksi yang entah darimana datangnya, membuat siapapun yang membacanya akan ikut hanyut bersama kebersamaanku denganmu. Berarti inspirasi itu hadir karena ada kamu. Maka, kamu adalah tulisanku.
Dengan tingkah laku dalam dunia nyata aku sungguh tak pandai mewujudkan rindu dan cinta, bahkan aku selalu mengecewakan. Tapi biarlah, semoga rindu ini bisa menghasilkan karya yang dapat dinikmati banyak orang nantinya. Tulisan ini belum berakhir, karena luapan diksi yang muntah ketika menuliskan cerita cerita kenangan tentangmu begitu menyesakkan rongga fikiranku. Semua kata berjejal menanti, namun kadang bingung menuliskannya.
Maaf ya, aku kerap melaporkanmu pada kekasihku. Pada-Nya aku selalu menceritakan siapa kamu dan mimpi-mimpi yang begitu melangit itu. Aku ingin DIA tahu, aku sungguh mengharapkan DIA menjagamu dengan sebaik-baiknya penjagaan. Dengan mencintaimu, semangatku untuk terus bersama-Nya juga semakin besar. Untuk Kamu..ya kamu.. Si sulung, Si Bungsu dan si Pucuk. Maya Sebrina, Rossy Nurhasanah, Ayu
Ini kali pertama seluruh ruang hatiku kau kuasai, begitu meraja dan menjadi kuasa atas segala rasa. Sangat tak biasa bagiku, namun ulur tangan tulus dan sikap sabar yang begitu lebih dalam menghadapi si watak keras ini adalah keping-keping kenangan yang akan terus kususun hingga utuh.
Apa kabar keluarga aneh? Maaf jika aku menyebutnya begitu, karena menurut akal kala aku sehat, kita berempat adalah keluarga yang aneh, lain dari kebanyakan teman yang lain. Membersamai kangen dengan ‘meet time’ dan ngopi-ngopi cantik’, menyelesaikan gundah dengan belanja, chating rame-rame didunia maya, juga nekat kesana kemari dengan becak yang menjadi kendaraan favorit.
Jika inspirasi itu adalah kamu. Bolehkah kukatakan, bahwa energy menulisku akan tumbuh berlipat-lipat jika bersamamu. Mula pertama aku bisa menuliskan cerita perjalanan dibawah hujan dengan begitu apik. Pun dengan cerita-cerita lain yang meluap begitu saja dengan diksi yang entah darimana datangnya, membuat siapapun yang membacanya akan ikut hanyut bersama kebersamaanku denganmu. Berarti inspirasi itu hadir karena ada kamu. Maka, kamu adalah tulisanku.
Dengan tingkah laku dalam dunia nyata aku sungguh tak pandai mewujudkan rindu dan cinta, bahkan aku selalu mengecewakan. Tapi biarlah, semoga rindu ini bisa menghasilkan karya yang dapat dinikmati banyak orang nantinya. Tulisan ini belum berakhir, karena luapan diksi yang muntah ketika menuliskan cerita cerita kenangan tentangmu begitu menyesakkan rongga fikiranku. Semua kata berjejal menanti, namun kadang bingung menuliskannya.
Maaf ya, aku kerap melaporkanmu pada kekasihku. Pada-Nya aku selalu menceritakan siapa kamu dan mimpi-mimpi yang begitu melangit itu. Aku ingin DIA tahu, aku sungguh mengharapkan DIA menjagamu dengan sebaik-baiknya penjagaan. Dengan mencintaimu, semangatku untuk terus bersama-Nya juga semakin besar. Untuk Kamu..ya kamu.. Si sulung, Si Bungsu dan si Pucuk. Maya Sebrina, Rossy Nurhasanah, Ayu
Friday, May 3, 2013
Senja telah menanti, jingga telah menua di ufuk barat.
Baru saja kaki menginjakkan kaki di rumah cinta, kembali pada dunia nyata yang tersisa.
Meet time kali ini sungguh tak terduga, bahkan tidak direncanakan sama sekali. Siang tadi, selepas mengunjungi ROHIS, dan kaki baru saja menjejak lantai rumah, nada sms bergetar dan ajakan untuk bertemu begitu begitu menggiurkan. Ada satu keinginan yang belum kesampaian, bisa mencapai stage 3 dalam arena bermain basket di sebuah area bermain anak di Suzuya Plaza.
Mengekspresikan diri lewat lemparan demi lemparan bola kekeranjang dan menyisakan keringat yang menguap di sela pori-pori wajah, adalah hal yang menyenangkan sekaligus melelahkan. Edisi meet time kali ini adalah yang pertama kalinya terjadi semenjak si sulung berstatus menikah. Terasa berbeda, namun telah menambah warna cerita yang sekarang telah memasukkan nama suami-suami mereka kedalam cerita yang mengalir apa adanya itu. Dan tentu saja aku adalah pendengar paling setia dari cerita itu, hanya sesekali menimpali atau diam saja tanpa ekspresi.
Dua wajah yang kali ini hadir menemani sore, menemani raga yang menjadi semakin segar padahal lelah awalnya. Aku tahu, ini hanya sarana agar raga saling bertatap mata, ketika rindu untuk meluapkan cerita yang mengendap telah tak tertahankan, maka moment langka seperti ini adalah anugrah yang begitu nikmat rasanya.
Setelah lelah terasa, keringat membanjiri lapisan kulit, juga kaki yang gemetar menahan tubuh yang berdiri meloncat loncat sedari tadi, maka akhirnya kami menyerah. Menyerah karena ternyata kami belum bisa menembus stage 3. ( hahaha *kasihan sekali)
Lalu, sebagai pengobat lelah, sebuah cube tempat berfhoto ria adalah tujuan akhir. Lelah terbayar ketika menyaksikan 3 wajah dalam selembar kertas fhoto dengan berbagai gaya. Senyum mengembang, syukur memenuhi rongga hati, dan semoga Allah meridhai ukhuwah ini.
Aku telah memintamu pada-Nya
Dengan segenap kekurangan yang kerap menerbitkan kecewa, aku memberanikan diri mencintaimu
Pada waktu yang menggamit cerita
Tak sekejap pun aku luput dari mengenangmu
Terimakasih telah menjejak sejarah cintaku
Walaupun aku harus belajar kehilangan sebelum berpisah
Karena sungguh, rindu yang menumpuk ditiap harinya
Hanya bisa kuabadikan lewat deretan kata
*Yang mencintaimu..
Zainab Al-Kausar
Baru saja kaki menginjakkan kaki di rumah cinta, kembali pada dunia nyata yang tersisa.
Meet time kali ini sungguh tak terduga, bahkan tidak direncanakan sama sekali. Siang tadi, selepas mengunjungi ROHIS, dan kaki baru saja menjejak lantai rumah, nada sms bergetar dan ajakan untuk bertemu begitu begitu menggiurkan. Ada satu keinginan yang belum kesampaian, bisa mencapai stage 3 dalam arena bermain basket di sebuah area bermain anak di Suzuya Plaza.
Mengekspresikan diri lewat lemparan demi lemparan bola kekeranjang dan menyisakan keringat yang menguap di sela pori-pori wajah, adalah hal yang menyenangkan sekaligus melelahkan. Edisi meet time kali ini adalah yang pertama kalinya terjadi semenjak si sulung berstatus menikah. Terasa berbeda, namun telah menambah warna cerita yang sekarang telah memasukkan nama suami-suami mereka kedalam cerita yang mengalir apa adanya itu. Dan tentu saja aku adalah pendengar paling setia dari cerita itu, hanya sesekali menimpali atau diam saja tanpa ekspresi.
Dua wajah yang kali ini hadir menemani sore, menemani raga yang menjadi semakin segar padahal lelah awalnya. Aku tahu, ini hanya sarana agar raga saling bertatap mata, ketika rindu untuk meluapkan cerita yang mengendap telah tak tertahankan, maka moment langka seperti ini adalah anugrah yang begitu nikmat rasanya.
Setelah lelah terasa, keringat membanjiri lapisan kulit, juga kaki yang gemetar menahan tubuh yang berdiri meloncat loncat sedari tadi, maka akhirnya kami menyerah. Menyerah karena ternyata kami belum bisa menembus stage 3. ( hahaha *kasihan sekali)
Lalu, sebagai pengobat lelah, sebuah cube tempat berfhoto ria adalah tujuan akhir. Lelah terbayar ketika menyaksikan 3 wajah dalam selembar kertas fhoto dengan berbagai gaya. Senyum mengembang, syukur memenuhi rongga hati, dan semoga Allah meridhai ukhuwah ini.
Aku telah memintamu pada-Nya
Dengan segenap kekurangan yang kerap menerbitkan kecewa, aku memberanikan diri mencintaimu
Pada waktu yang menggamit cerita
Tak sekejap pun aku luput dari mengenangmu
Terimakasih telah menjejak sejarah cintaku
Walaupun aku harus belajar kehilangan sebelum berpisah
Karena sungguh, rindu yang menumpuk ditiap harinya
Hanya bisa kuabadikan lewat deretan kata
*Yang mencintaimu..
Zainab Al-Kausar
Subscribe to:
Comments (Atom)