Saturday, November 30, 2013

Ramai Sendiri



Dulu sekali, kerap harapan melangit tinggi dan serta merta membayangkan betapa nikmatnya keramaian. Karena kesendirian buatku saat itu adalah kebosanan yang sama sekali tak berwarna, jemu dan melelahkan hati. Sejak dimana seharusnya raga ini hangat oleh himpitan orang-orang yang seharusnya ada seperti orang kebanyakan, aku  harus merelakan tawaran tanpa pilihan dari sang hakin yang telah memvonis keadaan. Berjalan, walau meraba tak tentu arah.

Namun ternyata ketika harapan itu terwujud sebagian, disanalah hati belajar bahwa ternyata menyesuaikan diri dalam keramaian amatlah sulit, sama seperti dulu ketika usia masih amat dini untuk mengerti apa arti sunyi sendiri. Kini usia sudah amat tua untuk tak terbiasa memaknai setiap peristiwa. Tapi inilah kenyataannya, keramaian tak selamanya menjajikan kebahagiaan dan kehangatan. Malah disana, kita harus lebih menyediakan banyak ruang dan perasaan untuk menghadapi banyak wajah dan tingkah. Ya, inilah resiko dari setiap keadaan. Semua ada plus minusnya, ada fase yang kerap menjanjikan banyak cerita.

Dan ternyata, banyak yang merasa’sendiri’ dalam keramaiannya. Banyak yang menyimpan duka dalam tawanya. Aku melihat itu di banyak mata. Yah, Setiap kondisi memang selalu punya peristiwa.

Memaknai kesendirian adalah sebuah kesyukuran. Jika telah berhasil berdamai dengan keadaan, maka pastilah ia akan menjadi sosok yang lapang hatinya, dan cerdas pemikirannya. Tak semua orang mampu melewati kesendirian dengan gagah, tetap berjalan ketujuan bersama seulas senyum tulus yang ia persembahkan buat orang-orang yang ia temui disepanjang jalan, tidak semua.

Kesendirian adalah fase menjernihkan hati dan fikiran. Hikmah dari setiap keadaan tak pernah didapatkan buat mereka yang sempit hatinya dan pendek akalnya. Banyak manusia yang menjalani hidup dengan memprihatinkan bahkan mengakhiri hidup secara tragis. Dan itu semua terjadi ketika hati tak pernah berdamai dengan kenyataan, menjadikan keputusan untuk ‘kalah’ sebagai satu-satunya jalan.

Kini, aku sangat tahu. Jalan yang ditunjukkan sang hakim dengan kesendirian itu ternyata memberikan kehidupan baru, seakan hidup kembali hidup begitu ia memaknai setiap kejadian. Banyak yang hendak kesendirian tunjukkan pada kita, tentang apa saja yang tak dapat kita nikmati ketika raga terbuai dengan keramaian. Sementara kesendirian amat sangat dapat memaknai keramaian sebagai sebuah anugrah yang tak boleh di sia-siakan.




Meraih Langit di Genangan Hujan

Amat sederhana, ketika sewaktu kecil dulu menghayalkan sesuatu akan menjadi apa kelak jika usia telah merambat dewasa. Deretan nomor pada tiap pinta disusun apik. Lantas kemudian di waktu yang lain, hidup telah memaksanya 'bertahan' dari seruan kekalahan. Walau ia tak tahu persis, apa yang sedang ia pertahankan.

Dan fase-fase yang tiap tapaknya mencipta jejak, adalah cara untuk menengok kebelakang ketika nanti diri mencari jalan pulang. Pergantian waktu yang menggilas akal dan menguras imunitas jiwa, seharusnya dapat menjadi penanda bahwa ada banyak hal yang akan menjadi sangat mengejutkan dan sama sekali tak diharapkan. Banyak kejutan-kejutan, yang melapisi manisnya setiap sisi yang telah disediakan. Dan diri harus tahu, bagaimana menempatkan indra perasa agar tak mengganggu panca indra yang lain. Ah, benarkah demikian?

Langit, amat mewah untuk didaki oleh seorang penghayal musiman yang hanya berfungsi ketika hujan tiba. Seringnya, ia akan menatap langit ketika tubuhnya kuyup, dan wajahnya yang menahan perih melawan derai. Ia amat jauh dari kata ‘bersua’ dan ‘berbincang’ dengan mesra tanpa ada pertentangan didalamnya. Yang terjadi malah, banyak gugatan yang melayang-layang tanpa tujuan. Hendak menggapai jauh, namun tak sanggup berdiri melompat.

Namun, sejatinya langit tahu. Bahwa ia tak hanya menemani hujan menghujam, namun juga memberi kesempatan pada nyala matahari untuk mencipta kerontang. Yang terjadi kini, betapa biasnya cengkrama sang penghayal pada langit. Tak sampai-sampai akalnya menafsirkan setiap lorong yang tiap lekuknya mempunyai sekat yang harus ia terobos dengan keberanian.

Langit, masihkah kau simpan mimpi kekanak-kanakan itu?