Saturday, November 30, 2013

Meraih Langit di Genangan Hujan

Amat sederhana, ketika sewaktu kecil dulu menghayalkan sesuatu akan menjadi apa kelak jika usia telah merambat dewasa. Deretan nomor pada tiap pinta disusun apik. Lantas kemudian di waktu yang lain, hidup telah memaksanya 'bertahan' dari seruan kekalahan. Walau ia tak tahu persis, apa yang sedang ia pertahankan.

Dan fase-fase yang tiap tapaknya mencipta jejak, adalah cara untuk menengok kebelakang ketika nanti diri mencari jalan pulang. Pergantian waktu yang menggilas akal dan menguras imunitas jiwa, seharusnya dapat menjadi penanda bahwa ada banyak hal yang akan menjadi sangat mengejutkan dan sama sekali tak diharapkan. Banyak kejutan-kejutan, yang melapisi manisnya setiap sisi yang telah disediakan. Dan diri harus tahu, bagaimana menempatkan indra perasa agar tak mengganggu panca indra yang lain. Ah, benarkah demikian?

Langit, amat mewah untuk didaki oleh seorang penghayal musiman yang hanya berfungsi ketika hujan tiba. Seringnya, ia akan menatap langit ketika tubuhnya kuyup, dan wajahnya yang menahan perih melawan derai. Ia amat jauh dari kata ‘bersua’ dan ‘berbincang’ dengan mesra tanpa ada pertentangan didalamnya. Yang terjadi malah, banyak gugatan yang melayang-layang tanpa tujuan. Hendak menggapai jauh, namun tak sanggup berdiri melompat.

Namun, sejatinya langit tahu. Bahwa ia tak hanya menemani hujan menghujam, namun juga memberi kesempatan pada nyala matahari untuk mencipta kerontang. Yang terjadi kini, betapa biasnya cengkrama sang penghayal pada langit. Tak sampai-sampai akalnya menafsirkan setiap lorong yang tiap lekuknya mempunyai sekat yang harus ia terobos dengan keberanian.

Langit, masihkah kau simpan mimpi kekanak-kanakan itu?



0 comments:

Post a Comment