Tuesday, July 29, 2014
Sejatinya cinta dan ukhuwah itu takkan pernah berbatas jarak dan waktu.
Yang menjadikannya begitu indah dan berbeda adalah ketika hati mereka begitu bertaut dalam setiap kondisi.
Bahkan ketika lidah tak hendak bersua kata dan menerjemah gundah kedalam aksara,
maka cukuplah hati yang bertaut itu adalah bukti ketika risau dengan keadaan seorang saudari yang tak hendak berbagi.
Puji bagi Allah yang menjadikan sosok itu nyata dalam jalan hidup ini.
Bahkan ketika diri kerap menorehkan kecewa, dia adalah orang yang dengan segera memaafkan dan memahami.
Sungguh anugrah dengan segenap cinta yang luar biasa.
Begitu juga hadirmu, yang menjadi warna baru dalam episode cerita.
Hanya untaian doa yang melangit serta rasa terimakasih yang besar yang kupanjatkan pada -Nya.
Kelak, hanya DIA yang dapat memabalas kebaikan itu.
Yang menjadikannya begitu indah dan berbeda adalah ketika hati mereka begitu bertaut dalam setiap kondisi.
Bahkan ketika lidah tak hendak bersua kata dan menerjemah gundah kedalam aksara,
maka cukuplah hati yang bertaut itu adalah bukti ketika risau dengan keadaan seorang saudari yang tak hendak berbagi.
Puji bagi Allah yang menjadikan sosok itu nyata dalam jalan hidup ini.
Bahkan ketika diri kerap menorehkan kecewa, dia adalah orang yang dengan segera memaafkan dan memahami.
Sungguh anugrah dengan segenap cinta yang luar biasa.
Begitu juga hadirmu, yang menjadi warna baru dalam episode cerita.
Hanya untaian doa yang melangit serta rasa terimakasih yang besar yang kupanjatkan pada -Nya.
Kelak, hanya DIA yang dapat memabalas kebaikan itu.
Sunday, July 27, 2014
Thursday, July 24, 2014
Rinduku kertap di sepanjang
jalan penantian
Sejenak terik menggigit
Lantas mengunyah rupa-rupa
wajah
Menjadi retak berkepanjangan
Tiada kesabaran yang membosankan
Selain hanya menanti kabar kosong
Dari angin yang sepintas lalu mengabarkan
Namun tak ada apa apa sesudahnya
Sepintas lalu rupamu nyata
Lewat gemerisik dedaun yang bersolek embun
Namun ternyata raga mu tetap lisut
Keping-keping kemuning beringsut sujud pada tanah
Kata-kata para pemuja
Menembus langit-langit
Kidung cinta para perindu
Menggetarkan nirwana
Tuesday, July 22, 2014
Jika kau melihat banyak keburukan pada diriku
Atau jika kau mendengar mereka memperbincangkanku beserta seluruh aib kesalahan diri ini
Maka teman, sesungguhnya aku lebih buruk dari apa yang kau lihat dan yang kau dengar.
Karena kasihNya lah aib keburukan diri masih ditutup dengan kemurahan kasihNya.
Atau jika kau mendengar mereka memperbincangkanku beserta seluruh aib kesalahan diri ini
Maka teman, sesungguhnya aku lebih buruk dari apa yang kau lihat dan yang kau dengar.
Karena kasihNya lah aib keburukan diri masih ditutup dengan kemurahan kasihNya.
Aku tak punya alasan untuk membencimu ataupun mereka, sebab apa yang kau lihat dan kau dengar itu benar adanya.
Terimakasih telah mengingatkanku.
Za, lihatlah pagi ini.
Entah kapan terakhir kali aku menyadari bahwa begitu banyak kisah yang ingin matahari perbincangkan diantara silau keemasan yang menyembul diantara rerimbun daun yang kering (walau masih pagi) karena hujan tak turun beberapa hari ini.
Sudah lama sekali memang, tak ada wujud pagi, embun dan matahari yang kuselipkan di rambut-rambut kalimat.
Ah, ternyata keadaaanya sudah teramat kusut.
Lama sekali aku tak merawatnya.
Za, memang tak ada hujan
namun haruskah aku menekuk kepala dan bersedih terlalu lama menangisi diri yang kenapa harus begitu akutnya mencintai hujan lantas terkapar kekeringan ketika musimnya berganti sejenak kepada kekuasaan matahari?
Aku memang penulis musiman, Za.
Maafkan aku.
Adapun yang hilang beberapa masa yang lalu tentu masih bisa dihidangkan lagi di altar pesembahan menu-menu aneka rasa kata.
Karena di atas meja-meja yang kita duduk melingkarinya ini, selalu ada kesempatan kita untuk saling menatap walau kata kita senyap.
Dan tentu saja, kita dilarang memperbincangkan keresahan, kesedihan, kehilangan, dan kebencian ketika menyantap menu spesial yang disiapkan spesial untuk kita.
Kekhawatiran itu aku maklumi, Za
Seperti yang dulu kerap kita diskusikan, bahwa bisa jadi suatu masa nanti aku ataupun engkau akan mengalami masa dimana kita takkan bisa menatap dan merangkul dengan erat.
Kita mungkin akan berjauhan dengan segala kondisi yang tak pernah kita prediksi sebelumnya.
Dan rasa kehilangan akan mencabik-cabik hati, disertai demam kerinduan yang menjalar sampai ke nadi.
Ketika itu kita mungkin hanya akan melihat kesunyian
maka pekerjaan kita selanjutnya adalah saling mendeteksi keberadaan masing-masing
Dan bergegas menyusul
Seperti halnya saat ini
Aku bergegeas menyusulmu
Kapankah kita kembali menarikan pena?
Aku amat rindu, Za.
Subscribe to:
Comments (Atom)
.jpg)