Tuesday, July 22, 2014
Za, lihatlah pagi ini.
Entah kapan terakhir kali aku menyadari bahwa begitu banyak kisah yang ingin matahari perbincangkan diantara silau keemasan yang menyembul diantara rerimbun daun yang kering (walau masih pagi) karena hujan tak turun beberapa hari ini.
Sudah lama sekali memang, tak ada wujud pagi, embun dan matahari yang kuselipkan di rambut-rambut kalimat.
Ah, ternyata keadaaanya sudah teramat kusut.
Lama sekali aku tak merawatnya.
Za, memang tak ada hujan
namun haruskah aku menekuk kepala dan bersedih terlalu lama menangisi diri yang kenapa harus begitu akutnya mencintai hujan lantas terkapar kekeringan ketika musimnya berganti sejenak kepada kekuasaan matahari?
Aku memang penulis musiman, Za.
Maafkan aku.
Adapun yang hilang beberapa masa yang lalu tentu masih bisa dihidangkan lagi di altar pesembahan menu-menu aneka rasa kata.
Karena di atas meja-meja yang kita duduk melingkarinya ini, selalu ada kesempatan kita untuk saling menatap walau kata kita senyap.
Dan tentu saja, kita dilarang memperbincangkan keresahan, kesedihan, kehilangan, dan kebencian ketika menyantap menu spesial yang disiapkan spesial untuk kita.
Kekhawatiran itu aku maklumi, Za
Seperti yang dulu kerap kita diskusikan, bahwa bisa jadi suatu masa nanti aku ataupun engkau akan mengalami masa dimana kita takkan bisa menatap dan merangkul dengan erat.
Kita mungkin akan berjauhan dengan segala kondisi yang tak pernah kita prediksi sebelumnya.
Dan rasa kehilangan akan mencabik-cabik hati, disertai demam kerinduan yang menjalar sampai ke nadi.
Ketika itu kita mungkin hanya akan melihat kesunyian
maka pekerjaan kita selanjutnya adalah saling mendeteksi keberadaan masing-masing
Dan bergegas menyusul
Seperti halnya saat ini
Aku bergegeas menyusulmu
Kapankah kita kembali menarikan pena?
Aku amat rindu, Za.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 comments:
Post a Comment