Saturday, January 5, 2019
Mari namai saja catatan ini dengan "gumam". Sesuatu yang diucapkan tapi tidak jelas didengar oleh orang di dekatnya. Anggap saja ini sebuah ketidak jelasan untukmu yang membacanya, namun begitu jelas bagiku untuk menuliskan. Namun begitu pun semoga sedikit saja ada rasa yang tertinggal seusai nanti kau meninggalkan tulisan ini.
Dalam beberapa waktu belakangan, kerap timbul banyak gumaman di benak ini. Setiap waktu berganti topik, hingga ingatan menjadi kelimpungan menampung. Akhirnya semua menjadi penghuni ruang gelap paling dasar, tempatku menyembunyikan segala kenangan.
SAHABAT
Dulu, ketika banyak yang melingkari dengan menjual nama cinta dan tuhan, aku menganggap mereka adalah sahabat. Seseorang yang kupercaya dalam suka dan duka, mau tak mau menerima baik dan bobroknya diri. Seiring berjalannya waktu dengan berbagai peristiwa, aku mencatat satu hal. Tidak ada yang benar benar tinggal di sisi badan selain sepi dan kenangan. Tunggu, aku sedang tidak membicarakan tentang si(apa) dan kesalahannya, bukan tentang gurat gurat kecewa di wajah mereka atau di wajahku. Aku hanya ingin menekankan, sungguh bersiaplah untuk sendirian jika manusia menjadi harapan.
Dan aku adalah seorang sahabat yang amat buruk perangai dan akhlak, maka jauhi saja aku. Dengan jarak yang mereka buat selama ini, setidaknya ini membuatku terbiasa dengan sepi. Tapi tetap saja, semua yang dulu pernah melingkari dan kini dia telah pergi sewaktu waktu muncul dengan seenaknya saja. Pada moment moment tertentu, ia hadir sesukanya saja, menggeruduk tanpa ampun semua kenangan. Kamu tahu rasanya? ya begitulah, rasanya sungguh tidak enak.
Sahabat. Jika kau pernah menamai seseorang sebagai sahabat, mungkin kamu salah. Atau aku yang salah? Ah tidak. Mungkin sahabatmu tidak seperti sahabatku. Sahabatmu yang dulu pasti masih menjadi sahabatmu yang sekarang. Mereka pasti masih membersamai dalam suka dan dukamu. Tidak seperti aku.
Sahabat. Karena aku bukanlah sahabat yang baik buat sahabatku. Tidak sepertimu. Kamu pasti sahabat yang baik buat orang orang di sekitarmu. Hingga mereka tak pernah beranjak dari sisimu hingga kini. Maukah kau berbagi kisah denganku?
kini? Tidak ada sahabat yang kekal di sisi. Semua berganti, semua berubah. Yang dulu begitu manis, kini bisa menjadi hambar apa adanya saja. Bertegur sapa ala kadarnya, komen komenan di sosial media seperti orang yang baru kenal kemarin saja. Ah, inilah prosesnya. Proses memahamkan diri bahwa yang yang sesungguhnya kekal disisi adalah SENDIRI. Setidaknya kesendirian akan mengajak diri untuk lebih dekat kepada kekasih sejati, Ilahi Robbi. Ikhlas? Harus.
Gumam selanjutnya adalah tentang CINTA
Tapi aku ingin menuliskan ini di halaman berikutnya saja.
kenapa aku selalu menyimpan gumam dalam tiap percakapan?
Mungkin karena aku sedang ingin menyembunyikan kenangan lebih dalam
(05/01/2019, Malang, menyibak ingatan)
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

0 comments:
Post a Comment