Sunday, June 21, 2026
Jika rindumu serupa malam, apakah ada yang lebih gulita daripada keheningan?
Menyeret sedemikian langkah terus menjauh
Sedikit berlari ketika hati resah tanpa arah
Menyerahkan takdir hidup lagi pada menit kemudian
Hai, Juni.
Tanahku kering, tidak seperti tahun-tahun lalu ketika ada gerimis mengiringi
hujan seperti berlari tidak seperti puisi- puisi sapardi
lantas aku juga sama, ada hujan yang hilang di setiap diksi ini
Hai, Juni
Jika kisah kita dibukakan, sudah sampai Bab yang mana?
Si introvert ini tetap sama, ia tak pandai jujur pada dirinya walaupun dalam tulisan saja
Ia tak berani menatap kisahnya sendiri
yang bisa ia lakukan hanya terus berjalan, menciptakan keheningan-keheningan yang lain
Hai, Juni
Jika ada pembicaraan yang harus kita selesaikan malam ini
kira-kira tentang apa?
apakah tentang kunang-kunang yang hanya bersinar di malam kelam, paginya lalu menghilang?
atau tentang pelangi yang muncul ketika hujan menerjang panas saja?
Atau, tentang kenapa aku jtak juga menyukai kopi seberapapun aku berusaha?
Hai, Juni
Kesadaranku pernah hampir hilang dijalan
Dalam setengah sadar aku meminta nyawa
Tolong hidupkan aku lagi demi hari ini
Karena ada buku yang belum kuselesaikan
Ada rindu yang belum kujenguk
Ada keheningan yang belum kunikmati
Ada ruang yang belum kukunci
Ada luka yang masih belum bersih
Dan, ada engkau belum kutemui
Hai, Juni
Jika angka-angka hari jadi menjadi penting
Apakah kita harus merayakannya?
Padahal sejatinya bukankah semakin dekat kembali?
Rasa-rasanya pantas saja jika kita menjadi pena dan aksara
Kau menjadikanku juni yang indah
Walau hanya aku yang memujinya
Dan kau selalu menatapku takjub
Walau hanya aku yang merasakannya
Esok, mari berbincang lebih sering
Agar tidak ada lagi keheningan yang minta dirayakan malam