Monday, July 8, 2013
Sunday, July 7, 2013
Mimpi? Itu mah gua banget..
Sudah ntah berapa banyak mimpi yang di orat-arit di buku diari. Ada sekitar 6o-an mungkin, itu yang tertulis, beda lagi sama yang menari-nari di khayalan setiap waktu, bisa ratusan malah.
Betewe, mimpi itu asyik. Ya iyalah asyik, wong ngeluarin keringet aja enggak, apalagi capek berpeluh ria. Cuma mereka-reka dan memimpikan hal yang terindah yang kita inginkan dalam kehidupan, dan itu adalah hal yang mengasyikkan. Mimpi kan gak capek, wong yang di impikan adalah hal menyenangkan yang diinginkan, emang ada yang memimpikan hal yang buruk untuk dirinya sendiri?kayaknya gak ada deh, kalaupun ada perlu dilestarikan tuh orang, di museumkan kalau perlu.
Tapiiii jarak antara mimpi dan kenyataan itu jauuuuuuuuuh bangeeeet. Kayak bumi sama bulan, kayak laut sama gunung, kayak gula sama garam, kayak.....*halah malah ngawur*. Karena mewujudkan mimpi itu adalah hal yang gak mudah, bahkan tidak jarang banyak mimpi yang hanya berakhir sebagai tulisan semata, dan menghuni lembaran buku yang abadi.
Itulah mengapa kita tak dianjurkan hanya bermimpi tanpa bekerja. Bekerja terus terusan tanpa punya tujuan impian juga kayak berjalan tanpa tujuan, bisa nyebur empang tuh kalau keterusan atau malah nyasar kemana-mana. Artinya memang harus seimbang, realistis saja dalam memimpikan sesuatu dan tetap punya cara usaha untuk mewujudkannya.
Tapi aku pernah mendengar, usaha bisa saja menjadi nomor 2 ketika Allah telah membantu dan turun tangan mengijabah mimpi. Maka kedekatan kepada-Nya amatlah penting dalam rangka aksi pedekate agar segala impian dapat terwujud dengan indahnya. Iya gak sih? Udah ada yang bisa dijadikan saksi mata? Hayo hayo..
Ada tuh cerita ketika aku menuliskan impian pengen ke tanah jawa buat liat Kraton dan menyaksikan hamparan sawah yang menghijau disana, alhamdulillah tercapai. Beberapa waktu lalu aku didaulat menjadi salah satu guru yang diajak ke Jogjakarta untuk study banding kesana. Gak nyangka, padahal waktu menuliskan mimpi yang satu itu, aku sendiri juga gak tahu gimana cara mewujudkannya. Ternyata Allah punya cara yang lebih indah.
So? kalau kamu gimana?
Sudah ntah berapa banyak mimpi yang di orat-arit di buku diari. Ada sekitar 6o-an mungkin, itu yang tertulis, beda lagi sama yang menari-nari di khayalan setiap waktu, bisa ratusan malah.
Betewe, mimpi itu asyik. Ya iyalah asyik, wong ngeluarin keringet aja enggak, apalagi capek berpeluh ria. Cuma mereka-reka dan memimpikan hal yang terindah yang kita inginkan dalam kehidupan, dan itu adalah hal yang mengasyikkan. Mimpi kan gak capek, wong yang di impikan adalah hal menyenangkan yang diinginkan, emang ada yang memimpikan hal yang buruk untuk dirinya sendiri?kayaknya gak ada deh, kalaupun ada perlu dilestarikan tuh orang, di museumkan kalau perlu.
Tapiiii jarak antara mimpi dan kenyataan itu jauuuuuuuuuh bangeeeet. Kayak bumi sama bulan, kayak laut sama gunung, kayak gula sama garam, kayak.....*halah malah ngawur*. Karena mewujudkan mimpi itu adalah hal yang gak mudah, bahkan tidak jarang banyak mimpi yang hanya berakhir sebagai tulisan semata, dan menghuni lembaran buku yang abadi.
Itulah mengapa kita tak dianjurkan hanya bermimpi tanpa bekerja. Bekerja terus terusan tanpa punya tujuan impian juga kayak berjalan tanpa tujuan, bisa nyebur empang tuh kalau keterusan atau malah nyasar kemana-mana. Artinya memang harus seimbang, realistis saja dalam memimpikan sesuatu dan tetap punya cara usaha untuk mewujudkannya.
Tapi aku pernah mendengar, usaha bisa saja menjadi nomor 2 ketika Allah telah membantu dan turun tangan mengijabah mimpi. Maka kedekatan kepada-Nya amatlah penting dalam rangka aksi pedekate agar segala impian dapat terwujud dengan indahnya. Iya gak sih? Udah ada yang bisa dijadikan saksi mata? Hayo hayo..
Ada tuh cerita ketika aku menuliskan impian pengen ke tanah jawa buat liat Kraton dan menyaksikan hamparan sawah yang menghijau disana, alhamdulillah tercapai. Beberapa waktu lalu aku didaulat menjadi salah satu guru yang diajak ke Jogjakarta untuk study banding kesana. Gak nyangka, padahal waktu menuliskan mimpi yang satu itu, aku sendiri juga gak tahu gimana cara mewujudkannya. Ternyata Allah punya cara yang lebih indah.
So? kalau kamu gimana?
Thursday, July 4, 2013
Apakah harus ada alasan untuk mencintai? Hah, aneh. Pertanyaan ngawur bin gak nyambung plus lebay. But, ini realy realy mengganggu fikiran beberapa hari ini. Sebab, ntah darimana datangnya pertanyaan ngawur yang gak tau darimana juntrungannya itu tiba-tiba sudah meneror isi kepalaku untuk meminta jawaban. Mau jawab apa? wong saya juga amatiran kalau soal cinta, gimana bentuk dan sensasinya juga kagak pernah tahu dan rasakan.
Perlukah alasan untuk mencintai?
Kebanyakan yang kena teror pertanyaan ini menjawab dengan koor, 'Perluuuu'. Masak iya cinta gak punya alasan?aneh dong. Wong benci aja pake alasan, masak cinta gak punya alasan.
Nah, dari sekian banyak yang ditanya, jawabannya tetap sama. Namun hatiku belum puas, masih belum cukup dengan jawaban yang biasa itu. Entah butuh jawaban seperti apalagi, aku juga tak tahu pasti, yang jelas ujung-ujungnya aku jadi menilik kedalam diriku sendiri. Seorang perempuan dingin yang gak punya hati dan perasaan ini mana mungkin tahu arti cinta sedangkan banyak hati yang tersakiti olehnya dan dia tak pernah peduli bahkan tak pernah merasa bersalah. Ah sudahlah, jangan curhat disini, malu sama yang diatas kalau belum apa apa sudah mewek.
Balik lagi ke topik, lagi lagi belum nemuin jawaban. Ada yang bisa bantu? Kalau mencintai itu perlu alasan, maka mungkin aku adalah orang yang tak akan mendapat cinta, mengingat tak punya sifat atau sesuatu yang ideal selayaknya orang mencintai sesamanya. Maka, betapa malangnya nasibku. Apakah ini buntut sebab pertanyaan ini setia nguntit kemana daku pergi? untuk meminta diri berinstropeksi agar merubah diri menjadi ideal layaknya yang lain, agar layak mendapat cinta.
Namun aku ingin mendapat jawaban bahwa cinta itu gak butuh alasan. Adakah yang mencintai tanpa alasan? Sebab, jika alasan mencintai itu tak ada lagi maka apakah cinta juga turut hilang? Sekali lagi, ini pertanyaan aneh. Maka mungkin hatimu juga akan mempertanyakan, haruskan hal ini dipertanyakan? hahaha, aku juga sedang berfikir hal yang sama denganmu.
Maka kali ini, marilah kita sudahi kebingungan ini.
Semoga seperti halnya Allah, yang mencintai Hamba-Nya tanpa Pamrih dan tanpa alasan lebay, dia akan senantiasa mencintai siapa saja yang mendekat dan menghamba padanya, kita bisa mengambil makna tersuratnya nya.
Perlukah alasan untuk mencintai?
Kebanyakan yang kena teror pertanyaan ini menjawab dengan koor, 'Perluuuu'. Masak iya cinta gak punya alasan?aneh dong. Wong benci aja pake alasan, masak cinta gak punya alasan.
Nah, dari sekian banyak yang ditanya, jawabannya tetap sama. Namun hatiku belum puas, masih belum cukup dengan jawaban yang biasa itu. Entah butuh jawaban seperti apalagi, aku juga tak tahu pasti, yang jelas ujung-ujungnya aku jadi menilik kedalam diriku sendiri. Seorang perempuan dingin yang gak punya hati dan perasaan ini mana mungkin tahu arti cinta sedangkan banyak hati yang tersakiti olehnya dan dia tak pernah peduli bahkan tak pernah merasa bersalah. Ah sudahlah, jangan curhat disini, malu sama yang diatas kalau belum apa apa sudah mewek.
Balik lagi ke topik, lagi lagi belum nemuin jawaban. Ada yang bisa bantu? Kalau mencintai itu perlu alasan, maka mungkin aku adalah orang yang tak akan mendapat cinta, mengingat tak punya sifat atau sesuatu yang ideal selayaknya orang mencintai sesamanya. Maka, betapa malangnya nasibku. Apakah ini buntut sebab pertanyaan ini setia nguntit kemana daku pergi? untuk meminta diri berinstropeksi agar merubah diri menjadi ideal layaknya yang lain, agar layak mendapat cinta.
Namun aku ingin mendapat jawaban bahwa cinta itu gak butuh alasan. Adakah yang mencintai tanpa alasan? Sebab, jika alasan mencintai itu tak ada lagi maka apakah cinta juga turut hilang? Sekali lagi, ini pertanyaan aneh. Maka mungkin hatimu juga akan mempertanyakan, haruskan hal ini dipertanyakan? hahaha, aku juga sedang berfikir hal yang sama denganmu.
Maka kali ini, marilah kita sudahi kebingungan ini.
Semoga seperti halnya Allah, yang mencintai Hamba-Nya tanpa Pamrih dan tanpa alasan lebay, dia akan senantiasa mencintai siapa saja yang mendekat dan menghamba padanya, kita bisa mengambil makna tersuratnya nya.
Sunday, June 30, 2013
Senja, semakin senja saja ternyata. Begitu jingga diufuk sana, juga jingga yang menua di istana kecilku.
Teman, siapapun dirimu, maukah mendengar cerita singkatku? Tentang seorang malaikat yang Allah hadirkan untuk membesarkan, merawat, mendidik dan membentuk karakterku. Dia bukan ibu, bukan ayah, tapi seorang kakek. Pria yang hidup semasa aku bisa melihat dunia, telah hidup sendiri tanpa seorang istri. Dan ketika aku lahir, dia masih harus merawatku sampai saat ini, sampai usianya telah begitu senja.
Jangan tanyakan mengapa aku harus dirawat oleh seorang kakek, karena aku juga bingung akan menjelaskannya darimana dulu. Hidupku penuh warna, juga cerita, namun belum saatnya aku berbagi untuk hal yang satu ini, karena aku masih ingin memperbincangkan dia, pria senja yang setia disisiku.
Teman, dia begitu senja diusia hampir 90 tahun. Dia selalu sendiri sepanjang hari, dan aku tak punya kuasa menemaninya setiap waktu. Aku harus bekerja, mencari penghidupan untukku dan untuknya. Kami hanya tinggal berdua, menikmati setiap liku waktu dengan hanya berdua. Memperbincangkan apapun yang ada dengan dialog 2 hati yang kadang sama sekali tak nyambung, namun aku menikmatinya.
Teman, siapapun dirimu, maukah mendengar cerita singkatku? Tentang seorang malaikat yang Allah hadirkan untuk membesarkan, merawat, mendidik dan membentuk karakterku. Dia bukan ibu, bukan ayah, tapi seorang kakek. Pria yang hidup semasa aku bisa melihat dunia, telah hidup sendiri tanpa seorang istri. Dan ketika aku lahir, dia masih harus merawatku sampai saat ini, sampai usianya telah begitu senja.
Jangan tanyakan mengapa aku harus dirawat oleh seorang kakek, karena aku juga bingung akan menjelaskannya darimana dulu. Hidupku penuh warna, juga cerita, namun belum saatnya aku berbagi untuk hal yang satu ini, karena aku masih ingin memperbincangkan dia, pria senja yang setia disisiku.
Teman, dia begitu senja diusia hampir 90 tahun. Dia selalu sendiri sepanjang hari, dan aku tak punya kuasa menemaninya setiap waktu. Aku harus bekerja, mencari penghidupan untukku dan untuknya. Kami hanya tinggal berdua, menikmati setiap liku waktu dengan hanya berdua. Memperbincangkan apapun yang ada dengan dialog 2 hati yang kadang sama sekali tak nyambung, namun aku menikmatinya.
Saturday, June 29, 2013
Tuesday, June 18, 2013
Tensi sedang naik,
mengeluarkan segala sifat asli, hati-hati jadi sasaran.
*Menghindarlah selagi bisa
Menghindarlah, karena aku tak suka disapa atau diajak bicara, tak suka
keramaian atau hiruk pikuk, tak suka dengan suara sekecil apapun, tak suka
dengan apapun selain kesendirian dan tempat pelampiasan.
Maka menghindarlah dariku, karena bisa jadi nanti aku akan melampiaskan padamu,
atau membuatmu tersakiti dengan tingkah laku ini.
Biarkan aku dengan tuhanku yang mengambil sebuah tempat untuk menyendiri,
berkasih dengan-Nya yang maha mencinta tanpa sebab.
Subscribe to:
Posts (Atom)




.jpg)