Wednesday, March 27, 2013
Apa cerita kita? Bukankah telah lama mengendapkan segala rasa bisa mewujudkan rentetan diksi yang merdu untuk dinikmati?
Menurutku ini cepat sekali. Bahkan aku masih seperti mimpi ada di dalam kenyataan mimpi itu sendiri. Semuanya nyata, laksana mimpi yang indah dalam tidur yang panjang dan kemudian terbangun seketika dalam keadaan yang sama didalam mimpi itu tadi.
Aku masih ingat sekali, bahkan sangat segar diingatan saat hujan menjadi moment paling romantis yang menyatukan 3 mimpi sekaligus dalam satu pinta. Dibawah hujan, naungan rahmat-Nya menjadi sebuah saksi bisu dari mimpi-mimpi kami yang melangit tinggi. Merajutkan cerita yang kami tak tahu akan berakhir menjadi sebuah cerita sajakah atau akan mewujud nyata.
Satu pinta telah mewujud, giliran mimpi berikutnya telah mencapai titik terang dan tinggal menunggu hari. Alangkah indahnya, ketika mengingat tumpukan cerita yang melangit itu.
Sebagai konsekuensi, aku akan ditinggal sendiri. Dan diri menyadari, semuanya akan berakhir sendiri.
Rindu untuk menyapa raga, rindu menghunus cerita. Rindu pada wejangan Mbak Pucuk, Rindu candaaan ringan si bungsu, Rindu pada tatap lembut si sulung...kapan meet time? :-)
Pada mula mata berjabat dengan tatapanmu
Pada awal tangan menggenggam salam perjumpaan
Pada saat itulah aku telah melabuhkan hati
Dijalan ini...denganmu.
Aku berbicara tentang tali cinta yang menautkan sebagian bahkan keseuruhan ingatanku tentangmu
Laksana bara yang menyala membuat cahaya pada dermaga rindu
Ini masih tentangmu..
Yang menautkan lekat parasmu di bilik kalbuku
Kali ini, biarkan asaku menumpuk diksi tentangmu
Karena dengan inilah aku menciptakan sendiri pinta serta doa yang melingkarkan cita-cita.
Menurutku ini cepat sekali. Bahkan aku masih seperti mimpi ada di dalam kenyataan mimpi itu sendiri. Semuanya nyata, laksana mimpi yang indah dalam tidur yang panjang dan kemudian terbangun seketika dalam keadaan yang sama didalam mimpi itu tadi.
Aku masih ingat sekali, bahkan sangat segar diingatan saat hujan menjadi moment paling romantis yang menyatukan 3 mimpi sekaligus dalam satu pinta. Dibawah hujan, naungan rahmat-Nya menjadi sebuah saksi bisu dari mimpi-mimpi kami yang melangit tinggi. Merajutkan cerita yang kami tak tahu akan berakhir menjadi sebuah cerita sajakah atau akan mewujud nyata.
Satu pinta telah mewujud, giliran mimpi berikutnya telah mencapai titik terang dan tinggal menunggu hari. Alangkah indahnya, ketika mengingat tumpukan cerita yang melangit itu.
Sebagai konsekuensi, aku akan ditinggal sendiri. Dan diri menyadari, semuanya akan berakhir sendiri.
Rindu untuk menyapa raga, rindu menghunus cerita. Rindu pada wejangan Mbak Pucuk, Rindu candaaan ringan si bungsu, Rindu pada tatap lembut si sulung...kapan meet time? :-)
Pada mula mata berjabat dengan tatapanmu
Pada awal tangan menggenggam salam perjumpaan
Pada saat itulah aku telah melabuhkan hati
Dijalan ini...denganmu.
Aku berbicara tentang tali cinta yang menautkan sebagian bahkan keseuruhan ingatanku tentangmu
Laksana bara yang menyala membuat cahaya pada dermaga rindu
Ini masih tentangmu..
Yang menautkan lekat parasmu di bilik kalbuku
Kali ini, biarkan asaku menumpuk diksi tentangmu
Karena dengan inilah aku menciptakan sendiri pinta serta doa yang melingkarkan cita-cita.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

2 comments:
Assalamu'alaikum
Mbak, tiara suka sekali sama catatan2 yang mbak buat, banyak yang menyentuh :)
Waalaikumsalam Mbak Tiara...
Addduh jadi malau saiia...ini hanya catatan unek unek doang mbak..maklum kagak ahli nge-blog, jadi ya apa adanya aja...
Salam kenal mbak Tiara, follow blog saya ya..saya izin follow blog mbak juga...
Post a Comment