Saturday, April 27, 2013
Beberapa waktu lalu, ketika batinku terhenyak dengan sebuah lintasan yang begitu pekik dihati. Dalam kekeringan iman yang tak lagi menyulut semangat, mungkin Allah tak hendak membiarkan(lagi) jasad ini terlalu lama dalam kelalaian yang nyata, yang bisa membawa langkah kaki menjauh dari kebenaran. Lintasan hati berbisik, " Bisa jadi, kali ini aku akan bermimpi hal itu lagi "
Benar saja, tak membutuhkan waktu lama, firasat itu mewujud. Mimpi itu hadir dengan sangat jelas. Bahkan masih sama dengan beberapa waktu yang lalu, percaya atau tidak, sebelumnya aku sudah memimpikan 2 kali tentang mimpi yang sama persis.
Dalam mimpi yang ketiga kali ini, masih sama persis dengan yang lalu. Aku menghadap sebuah cermin, melihat pantulan wajahku sendiri disana. Namun aku melihat sosok wajah yang mirip diri ini, dengan wajah kusam dan sedikit gelap warna kulitnya. Wajah kusam itu, selama beberapa waktu menimbulkan banyak tanya dihatiku. Apakah gerangan maksud mimpi ini?
Dan lambat laun, aku menyadari maknanya. Apalagi ketika mimpi ini kerap hadir dikala kondisi iman sedang surut, sedang dalam kondisi kering nan gersang. Setidaknya aku tahu ini alarm peringatan dari Allah, sebuah teguran nan manis untuk mengingatkan bahwa kondisi hati sedang butuh penanganan segera. Buatku ini mimpi spesial, berhubung aku juga sangat jarang bermimpi kala tidur.
Tak ada pilihan lain kecuali merapat,tak ada jalan lain selain menemui-Nya. Kembali mengaku salah dan meminta ampun, kembali khusyuk menengadahkan tangan dengan penuh kepasrahan, kembali melangitkan doa, kembali mencari dimana pekat noda yang menghuni hati, kembali dengan sekuat tenaga untuk mengikis endapan pekat dosa. Tentu saja, tak ada pilihan selain kembali.
Terimakasih ya Robb, telah menegur dengan begitu manis.
Benar saja, tak membutuhkan waktu lama, firasat itu mewujud. Mimpi itu hadir dengan sangat jelas. Bahkan masih sama dengan beberapa waktu yang lalu, percaya atau tidak, sebelumnya aku sudah memimpikan 2 kali tentang mimpi yang sama persis.
Dalam mimpi yang ketiga kali ini, masih sama persis dengan yang lalu. Aku menghadap sebuah cermin, melihat pantulan wajahku sendiri disana. Namun aku melihat sosok wajah yang mirip diri ini, dengan wajah kusam dan sedikit gelap warna kulitnya. Wajah kusam itu, selama beberapa waktu menimbulkan banyak tanya dihatiku. Apakah gerangan maksud mimpi ini?
Dan lambat laun, aku menyadari maknanya. Apalagi ketika mimpi ini kerap hadir dikala kondisi iman sedang surut, sedang dalam kondisi kering nan gersang. Setidaknya aku tahu ini alarm peringatan dari Allah, sebuah teguran nan manis untuk mengingatkan bahwa kondisi hati sedang butuh penanganan segera. Buatku ini mimpi spesial, berhubung aku juga sangat jarang bermimpi kala tidur.
Tak ada pilihan lain kecuali merapat,tak ada jalan lain selain menemui-Nya. Kembali mengaku salah dan meminta ampun, kembali khusyuk menengadahkan tangan dengan penuh kepasrahan, kembali melangitkan doa, kembali mencari dimana pekat noda yang menghuni hati, kembali dengan sekuat tenaga untuk mengikis endapan pekat dosa. Tentu saja, tak ada pilihan selain kembali.
Terimakasih ya Robb, telah menegur dengan begitu manis.
Friday, April 26, 2013
Setelah lelah bermain-main dengan sensasi yang dicari-cari itu, maka adakah pilihan selain kembali?
Setelah puas menyimpan bara karena tak sepaham dan merasa diacuhkan atau terlalu disudutkan, apakah menyingkir adalah pilihan?
Setiap rasa pasti akan bermuara, pada sebuah akhir bernama lelah dia akan memadu padankan semua perdebatan yang ada. Setiap orang juga punyak hak untuk memilih, namun kerinduan yang datang tanpa diundang bukankah sebuah siksaan jiwa yang akan terus menggerogoti hari?
Pada jalan terjal bebatuan, kita diajarkan bagaimana menyemai rindu dan memanen cinta dalam bingkai bernama ukhuwah.
Pada jalan tak berujung ini, kita diajarkan bagaimana harus kecewa dan berontak karena tak sepaham dan merasa dinomor sekiankan.
Pada jalan penuh halang rintang ini, kita banyak dipertemukan dengan wajah-wajah penuh cinta, teduh dalam pandangannya, namun juga tak jarang kita menemukan amarah yang menggelora dihadapan mata.
Namun pada akhirnya, adakah pilihan selain kembali? Dakwah yang kita mulai karena Allah, haruskah berakhir karena manusia?
Karena, ketika diri memilih untuk'keluar', apakah ada ganti yang bisa menjadi penghuni rumah hati ketika ia harus digantikan dengan yang lain? Bisa jadi, dengan keegoan itu, diri akan lebih terpuruk dan jauh dari semangat kebaikan itu sendiri.
Bagiku, selalu saja ada jalan untuk kembali.
Ye..ye..ye..Semangat ngotak-ngatik blog nih, rubah sana, rubah sini. Gak tahu deh apa hasilnya, tapi setidaknya sudah memuaskan keingin tahuan sayya. Ya namanya juga gaptek,hehehe.
Berhubung rumah blog nya ada 2, saya juga jadi bingung mengatur postingan agar adil merata. Karena sejauh ini saya nya mah lebih suka mosting dimari, daripada rumah sebelah sono. Ya kedepannya semoga aja saya bisa lebih adil dan merata ya *kok kayak sila ke lima pancasila ya.
Masih harus belajar nih, namanya juga masih amatir. Doain ilmu sayya bertambah ya....
Berhubung rumah blog nya ada 2, saya juga jadi bingung mengatur postingan agar adil merata. Karena sejauh ini saya nya mah lebih suka mosting dimari, daripada rumah sebelah sono. Ya kedepannya semoga aja saya bisa lebih adil dan merata ya *kok kayak sila ke lima pancasila ya.
Masih harus belajar nih, namanya juga masih amatir. Doain ilmu sayya bertambah ya....
Acapkali dulu
ketika waktu bersantai tiba, kakek selalu meminta untuk mencari uban(rambut
yang memutih) dengan imbalan uang receh. Aku yang kala itu masih anak-anak akan
dengan sangat senang mengerjakannya. Lalu dengan berjalannya sang waktu, uban
di kepala sang kakek terus bertambah banyak, dan kesibukan dengan jenjang
pendidikan yang semakin tinggi membuat waktu bersantai dengannya semakin
sedikit.
Hingga masa
tuanya merambat senja, rambutnya memutih semua. Beberapa kali kakek meminta
untuk duduk berdua merambati waktu dengan mencari uban di rambutnya, namun
dengan segala alasan kesibukan, aku menampik halus ajakannya, pun juga tak lagi
berselera dengan imbalan uang receh, karena dalam saku seragamku sudah dipenuhi
banyak uang kertas.
Suatu ketika
sang kakek berkata kala aku dan dia duduk di meja makan yang sama :
“ Nak, jika
kau tua nanti, apa yang kau inginkan?” Saat itu aku menjawab seenaknya,
,mengatakan bahwa tua itu akan lama lagi masanya, jadi tak perlu memikirkannya
saat ini.
Namun,
akhirnya aku paham dan berfikir sendiri. Bukankah senja itu adalah sebuah
keniscayaan? Ketika tua menerpa, tak ada anugrah terindah selain hadirnya teman
di sisi untuk menemani hari. Tak guna harta melimpah, karena masa tua bukalah
masa menikmati dunia, namun lebih menghargai sisa usia didunia bersama orang
terkasih. Lalu bagaimana masa tuaku? Jika meminta untuk mencarikan uban saja
kelak keluargaku enggan, apalagikah jika mengurus raga ringkih yang tak lagi
bertenaga?
Tuesday, April 16, 2013
Aku sangat ingat, bahkan masih sangat lekat diingatan betapa seringnya kita merapal doa diantara jamuan rindu hujan pada bumi. Aku yang sedari dulu selalu sendiri mulai tertarik pada tulus ulur tanganmu menyambungkan tali ukhuwah yang berbeda dari saudari kebanyakan. Perlahan tapi pasti setiap centi hati mulai kau ambil alih.
Dan masihkah kau ingat, betapa ragam julukan telah tersemat diwajah kita bertiga? Mulai dari trio embek, trio jawa, trio becak, tim ad-hock, dan sebagainya, adalah cerminan betapa raga kita yang kala itu selalu bersama dalam segala aktivitas juga telah mencuri banyak mata dengan tingkah yang kita yang kerap menimbulkan kontroversi. Kita memang berbeda, namun punya rasa gerakan yang sama. Kita memang punya sifat yang saling bertolak belakang, namun begitu manis saat disandingkan. Kita memang tak punya kekuasaan apapun, namun bisa menghandle sebuah kekuatan besar. Kita memang tak selalu sepaham, namun begitu serasi dalam satu keputusan. Itulah kita...
Dan sering sekali, hujan mewarnai langkah tertatih kita. Berdesakan didalam becak, bertiga memandangi hujan dengan tatapan cinta, lalu melangitkan doa dan haarapan pada-Nya. Bahkan tak jarang kita berlarian kecil menghindari tetes rahmat itu, berteduh dalam derap suara hati. Suatu kali kita pernah sengaja memilih membersamai hujan dengan duduk manis dibawah dedaun yang berterbangan serta langit yang telah berubah pekat. Sungguh, kita punya kenangan yang indah dengan hujan itu. Begitu juga dengan segala doa dan cita yang kita gelar dibawah rinainya, dengan segala keyakinan pada kekuasaan Allah, kita meyakinkan diri pada setiap harap itu.
Kita kerap menuai banyak komentar, dan rata-rata negatif. Betapa banyak hati yang tak paham dengan jalan fikiran kita yang nyeleneh dari kebanyakan teman. Kita bertiga juga yang acapkali kena marah dari berbagai pihak dengan segala ulah yang kontroversial itu. Bahkan sampai saat ini, kita masih memecahkan rekor'gila' yang mungkin baru kali ini masuk dalam daftar merah para 'atasan'. Kita tahu, dan berazzam untuk memperbaiki, karena sejatinya sahabat adalah saling mengingatkan.
Seperti mimpi, si bungsu pun telah lebih dulu menuai terkabulnya doa itu. Awal tahun ini dia telah lebih dulu menggenapkan mimpinya untuk menikah, bahkan dengan sosok yang begitu tak asing dengan segala cerita itu. Dan rahmat untuknya datang bertubi-tubi, ketika ALLAH mengamanahkan sebuah janin didalam kandungannya.
Kini, mungkin Allah hendak menunjukkan bahwa DIA begitu merahmati perjalan kita itu. Tanggal 28 nanti, si sulung akan menyusul si bungsu, juga dengan orang yang tak asing dalam cerita-cerita kita. Aku benar-benar tak percaya, betapa ini begitu cepat berlalu. Begitu cepatnya semua kisah itu menjadi kenangan, padahal kami belum menunaikan cita membersamai guyuran hujan deras itu. Tapi sudahlah, bukankah kita harus berbahagia dengan kelanjutan kisah kita?
Aku bahagia teman, sekaligus sedih.Karena ini berarti aku akan kembali sendiri seperti dulu. Namun aku berterimakasih pada jalinan kisah yang menyejarah dihidupku ini, yang telah dapat melahirkan puisi-puisi indah dari dinginnya hatiku, juga yang telah memberi ruh baru pada episode cita-cita kita.
Ini langkah pertama dari cita-cita besar yang kita rangkai, karena Allah juga tak buta dan tak tuli dari menyaksikan harap tulus kita. Aku sudah cukup bahagia, walau hanya dengan menuliskan setiap moment perjalanan kita. Juga teriring doa, kelak aku bisa membukukan kisah menyejarah ini dan membagikan kepada mereka, yang punya mimpi besar dengan segala ketidakmungkinannya.
*Si bungsu yang akan mengejar beasiswa S2 nya semoga lulus dan menuntut ilmu disana. Bukankah ini masuk dalam doa itu?
*Si sulung yang sedang dag dig dug menjelang pernikahannya, semoga dimudahkan.
*Pada hujan yang lain, aku menitipkan doa untuk sahabat terakasih ini.
Dan masihkah kau ingat, betapa ragam julukan telah tersemat diwajah kita bertiga? Mulai dari trio embek, trio jawa, trio becak, tim ad-hock, dan sebagainya, adalah cerminan betapa raga kita yang kala itu selalu bersama dalam segala aktivitas juga telah mencuri banyak mata dengan tingkah yang kita yang kerap menimbulkan kontroversi. Kita memang berbeda, namun punya rasa gerakan yang sama. Kita memang punya sifat yang saling bertolak belakang, namun begitu manis saat disandingkan. Kita memang tak punya kekuasaan apapun, namun bisa menghandle sebuah kekuatan besar. Kita memang tak selalu sepaham, namun begitu serasi dalam satu keputusan. Itulah kita...
Dan sering sekali, hujan mewarnai langkah tertatih kita. Berdesakan didalam becak, bertiga memandangi hujan dengan tatapan cinta, lalu melangitkan doa dan haarapan pada-Nya. Bahkan tak jarang kita berlarian kecil menghindari tetes rahmat itu, berteduh dalam derap suara hati. Suatu kali kita pernah sengaja memilih membersamai hujan dengan duduk manis dibawah dedaun yang berterbangan serta langit yang telah berubah pekat. Sungguh, kita punya kenangan yang indah dengan hujan itu. Begitu juga dengan segala doa dan cita yang kita gelar dibawah rinainya, dengan segala keyakinan pada kekuasaan Allah, kita meyakinkan diri pada setiap harap itu.
Kita kerap menuai banyak komentar, dan rata-rata negatif. Betapa banyak hati yang tak paham dengan jalan fikiran kita yang nyeleneh dari kebanyakan teman. Kita bertiga juga yang acapkali kena marah dari berbagai pihak dengan segala ulah yang kontroversial itu. Bahkan sampai saat ini, kita masih memecahkan rekor'gila' yang mungkin baru kali ini masuk dalam daftar merah para 'atasan'. Kita tahu, dan berazzam untuk memperbaiki, karena sejatinya sahabat adalah saling mengingatkan.
Seperti mimpi, si bungsu pun telah lebih dulu menuai terkabulnya doa itu. Awal tahun ini dia telah lebih dulu menggenapkan mimpinya untuk menikah, bahkan dengan sosok yang begitu tak asing dengan segala cerita itu. Dan rahmat untuknya datang bertubi-tubi, ketika ALLAH mengamanahkan sebuah janin didalam kandungannya.
Kini, mungkin Allah hendak menunjukkan bahwa DIA begitu merahmati perjalan kita itu. Tanggal 28 nanti, si sulung akan menyusul si bungsu, juga dengan orang yang tak asing dalam cerita-cerita kita. Aku benar-benar tak percaya, betapa ini begitu cepat berlalu. Begitu cepatnya semua kisah itu menjadi kenangan, padahal kami belum menunaikan cita membersamai guyuran hujan deras itu. Tapi sudahlah, bukankah kita harus berbahagia dengan kelanjutan kisah kita?
Aku bahagia teman, sekaligus sedih.Karena ini berarti aku akan kembali sendiri seperti dulu. Namun aku berterimakasih pada jalinan kisah yang menyejarah dihidupku ini, yang telah dapat melahirkan puisi-puisi indah dari dinginnya hatiku, juga yang telah memberi ruh baru pada episode cita-cita kita.
Ini langkah pertama dari cita-cita besar yang kita rangkai, karena Allah juga tak buta dan tak tuli dari menyaksikan harap tulus kita. Aku sudah cukup bahagia, walau hanya dengan menuliskan setiap moment perjalanan kita. Juga teriring doa, kelak aku bisa membukukan kisah menyejarah ini dan membagikan kepada mereka, yang punya mimpi besar dengan segala ketidakmungkinannya.
*Si bungsu yang akan mengejar beasiswa S2 nya semoga lulus dan menuntut ilmu disana. Bukankah ini masuk dalam doa itu?
*Si sulung yang sedang dag dig dug menjelang pernikahannya, semoga dimudahkan.
*Pada hujan yang lain, aku menitipkan doa untuk sahabat terakasih ini.
Subscribe to:
Comments (Atom)

.jpg)

