Friday, April 26, 2013
Setelah lelah bermain-main dengan sensasi yang dicari-cari itu, maka adakah pilihan selain kembali?
Setelah puas menyimpan bara karena tak sepaham dan merasa diacuhkan atau terlalu disudutkan, apakah menyingkir adalah pilihan?
Setiap rasa pasti akan bermuara, pada sebuah akhir bernama lelah dia akan memadu padankan semua perdebatan yang ada. Setiap orang juga punyak hak untuk memilih, namun kerinduan yang datang tanpa diundang bukankah sebuah siksaan jiwa yang akan terus menggerogoti hari?
Pada jalan terjal bebatuan, kita diajarkan bagaimana menyemai rindu dan memanen cinta dalam bingkai bernama ukhuwah.
Pada jalan tak berujung ini, kita diajarkan bagaimana harus kecewa dan berontak karena tak sepaham dan merasa dinomor sekiankan.
Pada jalan penuh halang rintang ini, kita banyak dipertemukan dengan wajah-wajah penuh cinta, teduh dalam pandangannya, namun juga tak jarang kita menemukan amarah yang menggelora dihadapan mata.
Namun pada akhirnya, adakah pilihan selain kembali? Dakwah yang kita mulai karena Allah, haruskah berakhir karena manusia?
Karena, ketika diri memilih untuk'keluar', apakah ada ganti yang bisa menjadi penghuni rumah hati ketika ia harus digantikan dengan yang lain? Bisa jadi, dengan keegoan itu, diri akan lebih terpuruk dan jauh dari semangat kebaikan itu sendiri.
Bagiku, selalu saja ada jalan untuk kembali.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
.jpg)
0 comments:
Post a Comment