Friday, April 26, 2013

UBAN SANG MALAIKAT SENJA


Acapkali dulu ketika waktu bersantai tiba, kakek selalu meminta untuk mencari uban(rambut yang memutih) dengan imbalan uang receh. Aku yang kala itu masih anak-anak akan dengan sangat senang mengerjakannya. Lalu dengan berjalannya sang waktu, uban di kepala sang kakek terus bertambah banyak, dan kesibukan dengan jenjang pendidikan yang semakin tinggi membuat waktu bersantai dengannya semakin sedikit.

Hingga masa tuanya merambat senja, rambutnya memutih semua. Beberapa kali kakek meminta untuk duduk berdua merambati waktu dengan mencari uban di rambutnya, namun dengan segala alasan kesibukan, aku menampik halus ajakannya, pun juga tak lagi berselera dengan imbalan uang receh, karena dalam saku seragamku sudah dipenuhi banyak uang kertas.

Suatu ketika sang kakek berkata kala aku dan dia duduk di meja makan yang sama :
“ Nak, jika kau tua nanti, apa yang kau inginkan?” Saat itu aku menjawab seenaknya, ,mengatakan bahwa tua itu akan lama lagi masanya, jadi tak perlu memikirkannya saat ini.

Namun, akhirnya aku paham dan berfikir sendiri. Bukankah senja itu adalah sebuah keniscayaan? Ketika tua menerpa, tak ada anugrah terindah selain hadirnya teman di sisi untuk menemani hari. Tak guna harta melimpah, karena masa tua bukalah masa menikmati dunia, namun lebih menghargai sisa usia didunia bersama orang terkasih. Lalu bagaimana masa tuaku? Jika meminta untuk mencarikan uban saja kelak keluargaku enggan, apalagikah jika mengurus raga ringkih yang tak lagi bertenaga?

Uban sang kakek mengajarkanku banyak hal, ada tautan hati yang ingin ia perbincangkan denganku kala itu. 


0 comments:

Post a Comment