Wednesday, August 21, 2013
Lalu
apakah kabar hujan? Teman yang selalu menemani mimpi dan rapal doa yang kita
langitkan bersama hujamannya.
Dirimu
pasti sangat tahu, bahwa takkan mungkin aku mengosongkan sebuah bilik hati dari
lekat parasmu, setelah sekian lama bersemayam dan telah mengalir bersama darah
keseluruh penjuru tubuh.
Maka,
pelukan hangat penuh tangis haru di sore itu selepas ashar berjamaah akan
menjadi salah satu bahan cerita yang pasti akan ku abadikan semampuku, walau
mungkin tak semanis yang kau harap.
Tak
ada yang merestui perpisahan kecuali waktu. Apalagi jika kau meminta ijin
kepadaku, maka akan dengan sangat cepat aku akan menahan dengan segenap mampu.
Namun, perpisahan ini adalah keniscayaan dari pinta yang telah kita langitkan
bersama. Maka, bukanlah wewenang diri ini untuk mengahalangi wujudnya menjadi
nyata.
Sejujurnya,
engkaulah tulisan-tulisanku. Ketika mereka bertanya, apa resep menulis sebaik
tulisan yang menurutku masih sangat sederhana itu, aku masih sangat bingung
menjawabnya. Aku masih sangat bisa mengingat, bahwa semenjak berteman hujan
bersamamu lah perlahan-lahan tulisan tulisan itu hadir dalam keadaannya yang
sederhana. Itu artinya, kau telah amat pandai mengambil sebuah ruang di dalam
kalbu, yang kemudian mengendap menjadi darah untuk menjadi apa saja dalam
bentuk cinta. Kau lekat diingatan, dan tanpa sadar telah mengalirkan jutaan
kata-kata untuk kupadukan menjadi wujudmu disana. Maka kini aku tahu, resep
menulis yang baik adalah dengan jatuh cinta pada apa yang hendak dituliskan.
Apa
kabar mimpi?Sebuah kata yang sanggup menyatukan 3 kegilaan dalam satu wadah.
Aku bahkan sempat berfikir, jikalau kita disatukan dalam waktu yang agak lama
dalam sebuah event, bayangkanlah apa yang terjadi nantinya? Hal gila? ya,
mungkin saja. Bukankah kita sudah banyak mendapat sorotan tajam banyak mata?
Banyak
sudah yang kita lalui, dan rata-rata adalah hal yang tak biasa, yang jarang
ditempuh oleh mereka sebelumnya. Dan aku menikmati itu, menikmati setiap
pembicaraan mimpi, obrolan obsesi, bahkan masalah cinta dan menikah.
Bukankah
kau masih ingat? Ketika membicarakan masalah pernikahan dan siapa mempelai pria
nya, maka serta merta banyak cerita yang kita gelar dibawah hujan. Dan kini kau
telah memanen hasil obrolan itu. Dengan caraNya kini kau telah bersanding,
persis dengan orang yang kita perbincangkan, walau saat itu kita tahu bahwa ada
yang berhak punya cerita untuk diberikan pada seorang hamba. Kau telah berlari
berkilo-kilo meter jauh meninggalkanku, meninggalkan seorang gadis dengan hati
dingin dan penuh misteri yang hanya bisa kembali menyendiri meneruskan mimpi.
Lalu mimpi yang lain telah
meminta wujudnya, maka berbahagialah. Walaupun itu berarti raga harus terpisah
bertahun lamanya. Maafkan diri ini yang tak pernah mampu membahasakan rindu lewat
sikap nyata didepanmu, malah terkadang membuat kecewa. Namun kau tetap yang
paling tahu, memahami dan merangkulku dengan penuh kasih.
Lalu jika akhirnya aku hanya bisa mengenangmu lewat
hujan, apalah ini adil bagiku?
Namun tak mengapa, terimakasih telah pernah hadir dalam membantuku menjemput mimpi. Aku cukup bahagia hanya dengan bermain hujan sendirian, karena lewat engkau aku sangat tahu bahwa malaikat ada bersama tetes beningnya. Maka walau dianggap gila, aku akan berbincang padaNya lewat hujan yang menjamu rindu bumi, sembari mengingat bahwa pernah ada cerita manis sepanjang hidup yang terkisah dibawahnya. Ah, aku sungguh tak berlebihan, walau banyak orang yang mengatakannya begitu. Karena cerita itu sungguh abadi dalam saku perjalananku, yang akan kutunjukkan dengan bangga pada siapapun yang mampir untuk minum bersama atau sekedar berteduh disampingku. Pada siapapun itu, aku takkan pernah bosan menceritakannya satu persatu, walau aku bingung harus memulai dan berhenti dibagian yang mana. Entah denganmu, yang mungkin menganggap semua yang terjadi biasa saja dan tak berarti apa-apa.
Namun tak mengapa, terimakasih telah pernah hadir dalam membantuku menjemput mimpi. Aku cukup bahagia hanya dengan bermain hujan sendirian, karena lewat engkau aku sangat tahu bahwa malaikat ada bersama tetes beningnya. Maka walau dianggap gila, aku akan berbincang padaNya lewat hujan yang menjamu rindu bumi, sembari mengingat bahwa pernah ada cerita manis sepanjang hidup yang terkisah dibawahnya. Ah, aku sungguh tak berlebihan, walau banyak orang yang mengatakannya begitu. Karena cerita itu sungguh abadi dalam saku perjalananku, yang akan kutunjukkan dengan bangga pada siapapun yang mampir untuk minum bersama atau sekedar berteduh disampingku. Pada siapapun itu, aku takkan pernah bosan menceritakannya satu persatu, walau aku bingung harus memulai dan berhenti dibagian yang mana. Entah denganmu, yang mungkin menganggap semua yang terjadi biasa saja dan tak berarti apa-apa.
Dalam
hujan yang lain, aku menitip cinta pada sahabat terkasih ini, Kau.
Kau,
2 rindu yang tak pernah hilang walau sepanjang waktu bertemu.
Seperti
halnya hujan yang selalu meninggalkan basah, maka demikian hal nya lah setiap kepingan
cerita yang terserak, yang berusaha ku kumpulkan dalam deretan kata. Selalu ada
genangan air mata, selalu ada mimpi baru, juga selalu ada rencana-rencana manis
dariNya yang tak pernah diduga.
*Melepas
si Bungsu yang akan terbang ke Bogor untuk melanjutkan studi S2 nya.
*Untuk
si Sulung yang semoga tak berhenti dalam mencintai.
Tulisan
ini untuk 2 cinta yang menjadi nyawa dalam setiap tulisan-tulisan ini.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

0 comments:
Post a Comment