Friday, March 21, 2014
Karena terlalu banyak yang hendak kutuliskan tentangmu, maka baiknya aku menunda satu chapter kisah untuk di publikasikan nanti.
-Padang Rumput Sabana-
Thursday, March 20, 2014
Panas terik menaungi kepala yang berat, di bawa-bawa dengan paksa, bahkan tanpa senyum ketika bertemu sapa dengan siapa saja. Hatinya gundah gulana, bahkan matanya telah amat mendung. Ia tahan sebisanya, ia paksa hatinya berdialog dengan apa saja yang masih waras dalam jiwa dan isi kepalanya. Tak ingin ia menghujani siang terik dalam tempat yang tak tepat. Pandangannya hanya ingin melihat rumah, tempatnya paling nyaman untuk berteriak sekeras yang ia mau.
Dan itulah endingnya. Ketika dengan serta merta ia mengambil air wudhu dan berdiri tegak menghadapkan wajah ke arah ka'bah berdiri gagah. Bahkan takbir pertama belum usai ia tunaikan, matanya telah hujan. Pandangannya mengabur, ia memusatkan rasa pada kalimat yang ia baca. Ia resapi maknanya, dan hujan semakin deras tanpa ia bisa ia redam.
Dalam sujud panjang dan tengadah doa, ia hanya menyelipkan pinta.
'Robbi, jangan tinggalkan aku sendiri. Sudah terlalu banyak dunia ini mengaburkan banyak mata. Maka izinkan aku menyatakan satu hal ya Robb, izinkan aku mencintaiMu dengan kehinaan yang kupunya sebagai hamba. Hanya itu, karena dengan mencintaiMu lah aku mendapatkan segalanya, segala yang terindah'
Diluar sana surya masih saja terik, namun di sebuah sudut kamar ada hujan yang masih saja rintik.
Dan itulah endingnya. Ketika dengan serta merta ia mengambil air wudhu dan berdiri tegak menghadapkan wajah ke arah ka'bah berdiri gagah. Bahkan takbir pertama belum usai ia tunaikan, matanya telah hujan. Pandangannya mengabur, ia memusatkan rasa pada kalimat yang ia baca. Ia resapi maknanya, dan hujan semakin deras tanpa ia bisa ia redam.
Dalam sujud panjang dan tengadah doa, ia hanya menyelipkan pinta.
'Robbi, jangan tinggalkan aku sendiri. Sudah terlalu banyak dunia ini mengaburkan banyak mata. Maka izinkan aku menyatakan satu hal ya Robb, izinkan aku mencintaiMu dengan kehinaan yang kupunya sebagai hamba. Hanya itu, karena dengan mencintaiMu lah aku mendapatkan segalanya, segala yang terindah'
Diluar sana surya masih saja terik, namun di sebuah sudut kamar ada hujan yang masih saja rintik.
-Hutan Hujan Tropis-
Sesuatu yang dilakukan tanpa kesadaran, terkadang menghasilkan sesuatu yang amnesia untuk di ingat kedepannya.
Wednesday, March 19, 2014
Mungkin aku yang memang selalu salah menafsir. Tak pernah ada sesiapa muncul ketika jerit telah memekik sekuatnya, bahkan menggelepar karena kelelahan. Aku terlalu hiperbola, mungkin. Mereka-reka dengan terlalu bersemangat pada apapun yang dihidangkan, padahal bisa jadi ada yang tak boleh kujamah disana. Lantas setelah itu, semangat akan merunduk perlahan-lahan dan berbalik arah segera. Ia akan berlari sekencang kakinya, dan akan berhenti jika telah menabrak sesuatu yang dilaluinya.
-Hutan Hujan Tropis-
Aku ingin kau menilaiku apa adanya, jujur menyeringai jika panas surya telah mencapai ubun-ubun kepala atau refleks memeluk kedua tanganmu sendiri ketika gigil malam merasuki pori-pori.
Aku amat sederhana, cinta.
Bahkan takkan pernah pantas menerima perlakuan istimewa apapun dari tiap-tiap wajah yang menyunggingkan senyum ketika bertemu, entah senyum keihklasan atau terpaksa saja.
Aku juga bukan teman yang baik untukmu, cinta.
Karena entah kenapa, mungkin sudah milyaran kali hatiku berubah-ubah dari istiqomah memperlakukanmu dengan amat layak, sebagaimana lazimnya.
Dipenghujung tiap kali malam meniupkan ruh senyap dalam kebisuannya, aku akan terus berkaca, layakkah aku menyambut bangga pada wajah yang tersembul disana? Namun tak mungkin pula ia dihancurkan hingga menjadi ribuan keping, karena sama sekali tak memberikan obat apa-apa pada si pesakitan yang malang.
Karena itu, jujurlah padaku.
Dimana kau simpan caci itu, aku sangat membutuhkannya.
Sabana
“Kau akan berhasil dalam setiap pelajaran, dan kau harus percaya akan
berhasil, dan berhasillah kau; anggap semua pelajaran mudah, dan semua akan
menjadi mudah; jangan takut pada pelajaran apa pun, karena ketakutan itu
sendiri kebodohan awal yang akan membodohkan semua.”
—
Bumi Manusia
Pramoedya Ananta Toer
Wednesday, March 5, 2014
Tentu masih meraba-raba dimana ia kini diantara tiap titik embun yang menggelayuti daun. Sepertinya mereka adalah sepasang kekasih yang punya sifat berbeda walau wujudnya tak sama. aku kini lelah menanti. Tak sampai-sampai hadirnya disini, apakah ia masih betah berpetualang ke bagian dunia yang lain?
Tak perlu bersedih, bisiknya
Bukankah kau masih bisa menitip pesan untukku lewat siluet yang mengantar cahaya?
Aku tak bisa menulis lagi kini, sungutku kesal
Aku tak bermain-main jika mengatakan bahwa kataku amat kering ketika kau tak membersamai lagi
Terlalu banyak yang harus kuulang dari awal lagi tanpamu
Dasar penghayal musiman, gertaknya
Mau tak mau kau harus mengakrabi terik, kini
tetap ada banyak kisah yang terlukis dibawahnya, percayalah
Sebagaimana aku menemanimu mendapatkan sejarah, maka terik juga akan setia menemanimu bertemu karya
Kelak jika aku datang kau takkan lagi menantiku, ujarnya
Hanya butuh waktu untuk membiasakan perpisahan ini
Hiduplah bersama paparan cahaya
Itu akan baik untukmu melihat masa depan yang pernah kau langitkan bersamaku
Subscribe to:
Comments (Atom)
.jpg)
.jpg)

.jpg)
