Wednesday, March 19, 2014


Aku ingin kau menilaiku apa adanya, jujur menyeringai jika panas surya telah mencapai ubun-ubun kepala atau refleks memeluk kedua tanganmu sendiri ketika gigil malam merasuki pori-pori.

Aku amat sederhana, cinta. 
Bahkan takkan pernah pantas menerima perlakuan istimewa apapun dari tiap-tiap wajah yang menyunggingkan senyum ketika bertemu, entah senyum keihklasan atau terpaksa saja.

Aku juga bukan teman yang baik untukmu, cinta.
Karena entah kenapa, mungkin sudah milyaran kali hatiku berubah-ubah dari istiqomah memperlakukanmu dengan amat layak, sebagaimana lazimnya.

Dipenghujung tiap kali malam meniupkan ruh senyap dalam kebisuannya, aku akan terus berkaca, layakkah aku menyambut bangga pada wajah yang tersembul disana? Namun tak mungkin pula ia dihancurkan hingga menjadi ribuan keping, karena sama sekali tak memberikan obat apa-apa pada si pesakitan yang malang.

Karena itu, jujurlah padaku.
Dimana kau simpan caci itu, aku sangat membutuhkannya.

Sabana



0 comments:

Post a Comment