Wednesday, September 9, 2015

Rima



Berbahagialah, ia datang memenuhi janji
Selama ini ia tak benar-benar pergi, hanya sebentar mengembara
Maka kemarilah, mari kita nikmati ceruk-ceruk berisi kenangan ini
Sebagian menggenang, namun tak sedikit yang dilewati begitu saja
Jangan berisik, mari memadamkan nyala netra
Ada yang sedang bersenandung, kidung asmara
Dua rindu tumpah, luruh bersama milyaran doa para peminta
Adakah rasa kita sama?

Tuesday, September 8, 2015

Untuk Lelaki Penjaga Senja

Aku senang membicarakan senja, Kau tahu kenapa?

Sebab disana aku banyak menyaksikan berbagai fenomena, bukan hanya kisah mentari yang ditenggelamkan awan jingga dibalik bukit yang selalu dapat kita lihat dari sini, namun lebih kepada apa yang ia bawa sesudahnya.
Selalu saja, akhir dari perjalanan itu hanya menyisakan 2 hal. Cerita indah atau sebaliknya, duka. Ataukah tidak keduanya? Tapi yang pasti, aku selalu bahagia menemani gurat-gurat jingga tua itu melebur di sela-sela awan yang warnanya berganti-ganti, kadang biru kadang putih, kadang juga abu-abu.
Ada seorang lelaki yang kusebut ‘penjaga senja’, ia kerap kutemani dan menemaniku melewati waktu-waktu berharga senja itu. Mungkin jika kau selalu mengikuti cerita-ceritaku yang sama sekali tak menarik ini, kau pasti akan tahu siapa dia.
Ia, lelaki yang setia menjaga senja. Ia pernah mengatakan padaku : “Mempunyai teman mengarungi senja adalah anugrah “, maka sejak itu akupun mengatakan dengan amat lantang didepannya dengan mata berkaca-kaca “ Aku akan menemanimu mengarungi senja “ Dan, lelaki senja itu hanya tersenyum sembari menatap ke langit yang hampir padam warnanya, menyeruak lamat-lamat gelap.
Menjadi anugrah memang bukan sebuah semata sematan, namun sebuah pilihan diri untuk menjadi apa buat si(apa) yang kita mau. Menentukan pilihan itu membuatku sedikit berarti untuk lelaki senja itu, yang selalu setia menemaniku menjemput fajar hingga malam bersiul-siul kembali, menemani rehatnya tubuh yang lelah. Tidak ada yang lebih setia daripada ia. Tanpa pamrih bahkan tanpa banyak bahasa, ia hanya mengulurkan tangan jika aku terjatuh, menyeka luka, air mata dan keringat yang bergantian hadir. Ia tetap tersenyum penuh kasih sayang tanpa sekalipun berkeluh kesah. Aku tahu ia lelah, namun kasih sayangnya melebihi matahari, melebihi senja itu sendiri.
Begitulah, hari-hari berikutnya aku masih setia disisinya menikmati senja. Hingga suatu kali ia berkata dengan amat lirih dan nafasnya tersengal.
“Aku akan pergi, terimakasih telah menemaniku menikmati senja ini “
Belum lagi keterkejutanku hilang, ia sudah berbalik pergi, menjauh dengan segera.
Aku faham, keniscayaan ini cepat atau lambat akan segera terjadi. Ia yang meninggalkanku atau aku yang meninggalkannya. Doaku kerap melangit, aku akan menemaninya sampai masaku atau masanya berakhir. Karena aku amat menyayanginya. Sepertinya kini ia yang lebih dulu meninggalkan.
Lelaki penjaga senja itu pergi, masih kuingat dengan jelas raut wajahnya ketika itu. Wajahnya amat putih pucat, namun senyumnya tetap mengembang. Ketika aku berteriak memanggilnya, ia hanya berbalik menoleh sambil tetap tersenyum dan mengangguk perlahan, matanya teduh memandang.
Lelaki penjaga senja itu, walau raganya telah pergi namun kasihnya tidak sedikitpun berkurang. Ia yang mengajariku melukis cita-cita di langit malam, walau orang lain mengatakan itu tidak mungkin dan sia-sia belaka, namun ia meyakinkan bahwa ketidakmungkinan bukanlah jurang pemisah antara bisa dan tidak, namun diantara keduanya ada jembatan yang kasat pandang. Tetap yakinlah, maka jembatan itu akan senantiasa terlihat dimata.
Ah, menuliskan ini sembari tak habis-habisnya aku mengusap air mata. Pandanganku mengabur, lebur pada ingatan yang tak henti berputar.


Bahagialah disana, Kek. Kasih sayangNya tentu telah membelaimu disana, tempat yang layak adalah tempat terindahmu disisiNya. Kelak, doakan aku bisa menemuimu disana, berkumpul di JannahNya.


Kakek, Aku sangat mencintaimu.


Monday, September 7, 2015

Bulan ke Lima

Bulan kelima kini, terhitung dari 1 Mei 2015.
Sesayup, jika menilik kembali ke masa-masa beberapa bulan itu amat seru jika tiap episodnya ada cerita yang tertuang disini. Sebuah kisah baru, yang entah kenapa terasa amat singkat sudah mengambil seluruh kisah menjadi cerita baru.
Kini saya resmi menyandang peran sebagai 'istri'.

Buat ia yang telah memberikanku peran.
Tentu tidak banyak yang bisa saya janjikan padanya, kecuali permintaan maaf karena terlalu banyak kecewa ketika peran baru ini belum sepenuhnya menjadi sempurna. Ia adalah penyempurna ibadah dan pengantar jalan untuk bersama-sama menuju jannah. Berdua, saya dan ia mulai belajar menurunkan ego masing-masing untuk mengahadirkan sakinah dirumah kecil ini.

Saya, tentunya yang paling banyak harus belajar beradaptasi menjalankan peran baru itu.
Ketika masih sendiri, saya dengan amat leluasa menentukan keputusan dan jalan hidup yang harus saya tempuh. Ketika mengalami kendala dan rintangan, dengan sendiri pula saya harus mencari jalan keluarnya. Itulah mengapa, sifat keras kepala dan egois adalah PR utama yang harus saya redam kini.

Karena ketika bersama, saya adalah istri dari seorang lelaki yang dipundaknya tersemat amanah untuk membersamai di semua suasana. Tidak ada lagi yang bisa disembunyikan, tidak ada masalah yang tak diceritakan, semuanya berpadu pada pundak kami berdua. Ada pertimbangan-pertimbangan yang harus saya dengarkan, ada nasehat yang harus saya pertimbangkan dan ada seseorang yang wajib saya minta ijinnya ketika hendak melakukan apapun bentuknya.

Apakah 5 bulan adalah waktu yang cukup?
Tidak. Perlu waktu seumur hidup untuk belajar, juga untuk taat.

Saya tidak tahu kapan Allah menguji taat dan sabar, namun pastilah waktu itu tiba. Namun, doa selalu melangit untuk keberkahan keluarga kecil saya ini. Semoga sakinah mawaddah warahmah dalam taat hingga ke syurganya. Ia adalah pilihanNya, dan saya percaya pada pilihan itu.

Saya, dengan segala kekurangan yang mencoba merayap-rayap mengejar ketertinggalan disisinya. Ketika ia tidur dengan amat nyenyak, entah kenapa ketika meresapi tiap lekuk wajahnya maka saya akan berhenti pada satu kesimpulan yang menyadarkan ' ia suamiku, ia imamku '.

Maka tak jarang, saya tiba-tiba menangis, menyadari ada seorang lelaki yang mau menjadi pendamping seorang perempuan sederhana yang miskin papa ini. Saya sadar, tak mempunyai wajah menarik, miskin harta dan juga ibadah. Tidak ada yang bisa dipandang dari saya, namun dengan Kasih sayangNya yang tak terhingga itulah, ia mengirimkan seorang lelaki dari syurga kepada saya.

Saya tidak sepenuhnya mampu melakukan apapun, namun saya kerap berdoa kepada Allah, agar ia senantiasa dijaga dengan sebenar benar penjangaan. Saya akan melakukan semua yang menyenangkan untuknya, asalkan ia bahagia.

Bulan kelima, ini masih belum ada apa apanya.
Kapal baru saja mulai berlayar, masih ada jutaan mil jauhnya saya dan ia sampai pada akhir perhentian.
Dan saya tak henti berdoa, saya dan ia dapat bersama-sama melangkah pada dermaga paling indah itu, Jannah.



Pada kata 'nanti'

Sudah amat lama, bagai hitungan abad merayapi dinding dinding diksi dirumah ini juga dirumah yang lain, amat sepi. Diksi tak sepenuhnya pergi, ia tetap ada namun tak hendak mewujud ikatan kata kata, ia selalu berhenti pada kata 'nanti'.

Hai, ada banyak kabar yang belum lagi dibagi.
Mungkin beberapa waktu belakangan, aku sibuk dengan rutinitas yang sedikit berbeda.
Ada banyak kisah memang, tapi entah kenapa tak satupun yang bisa diikat menjadi rangkaian kalimat seperti biasa.

Namun, tak mengapalah.
Sedikit waktu aku mencoba kembali menilik 'rindu' yang kerap menguntit arah mata ini menatap. Lantas kemudian keinginan untuk merayap perlahan-lahan diantara rerimbunan kata-kata yang lama tak terjamah mulai mengusik.

Semoga, walau melambat, aku tak jauh tertinggal.