Tuesday, September 8, 2015
Aku
senang membicarakan senja, Kau tahu kenapa?
Sebab
disana aku banyak menyaksikan berbagai fenomena, bukan hanya kisah mentari yang
ditenggelamkan awan jingga dibalik bukit yang selalu dapat kita lihat dari
sini, namun lebih kepada apa yang ia bawa sesudahnya.
Selalu
saja, akhir dari perjalanan itu hanya menyisakan 2 hal. Cerita indah atau
sebaliknya, duka. Ataukah tidak keduanya? Tapi yang pasti, aku selalu bahagia
menemani gurat-gurat jingga tua itu melebur di sela-sela awan yang warnanya
berganti-ganti, kadang biru kadang putih, kadang juga abu-abu.
Ada
seorang lelaki yang kusebut ‘penjaga senja’, ia kerap kutemani dan menemaniku
melewati waktu-waktu berharga senja itu. Mungkin jika kau selalu mengikuti
cerita-ceritaku yang sama sekali tak menarik ini, kau pasti akan tahu siapa
dia.
Ia,
lelaki yang setia menjaga senja. Ia pernah mengatakan padaku : “Mempunyai teman
mengarungi senja adalah anugrah “, maka sejak itu akupun mengatakan dengan amat
lantang didepannya dengan mata berkaca-kaca “ Aku akan menemanimu mengarungi
senja “ Dan, lelaki senja itu hanya tersenyum sembari menatap ke langit yang
hampir padam warnanya, menyeruak lamat-lamat gelap.
Menjadi
anugrah memang bukan sebuah semata sematan, namun sebuah pilihan diri untuk
menjadi apa buat si(apa) yang kita mau. Menentukan pilihan itu membuatku
sedikit berarti untuk lelaki senja itu, yang selalu setia menemaniku menjemput
fajar hingga malam bersiul-siul kembali, menemani rehatnya tubuh yang lelah.
Tidak ada yang lebih setia daripada ia. Tanpa pamrih bahkan tanpa banyak
bahasa, ia hanya mengulurkan tangan jika aku terjatuh, menyeka luka, air mata
dan keringat yang bergantian hadir. Ia tetap tersenyum penuh kasih sayang tanpa
sekalipun berkeluh kesah. Aku tahu ia lelah, namun kasih sayangnya melebihi
matahari, melebihi senja itu sendiri.
Begitulah,
hari-hari berikutnya aku masih setia disisinya menikmati senja. Hingga suatu
kali ia berkata dengan amat lirih dan nafasnya tersengal.
“Aku akan
pergi, terimakasih telah menemaniku menikmati senja ini “
Belum
lagi keterkejutanku hilang, ia sudah berbalik pergi, menjauh dengan segera.
Aku
faham, keniscayaan ini cepat atau lambat akan segera terjadi. Ia yang
meninggalkanku atau aku yang meninggalkannya. Doaku kerap melangit, aku akan menemaninya
sampai masaku atau masanya berakhir. Karena aku amat menyayanginya. Sepertinya
kini ia yang lebih dulu meninggalkan.
Lelaki
penjaga senja itu pergi, masih kuingat dengan jelas raut wajahnya ketika itu.
Wajahnya amat putih pucat, namun senyumnya tetap mengembang. Ketika aku
berteriak memanggilnya, ia hanya berbalik menoleh sambil tetap tersenyum dan
mengangguk perlahan, matanya teduh memandang.
Lelaki
penjaga senja itu, walau raganya telah pergi namun kasihnya tidak sedikitpun
berkurang. Ia yang mengajariku melukis cita-cita di langit malam, walau orang
lain mengatakan itu tidak mungkin dan sia-sia belaka, namun ia meyakinkan bahwa
ketidakmungkinan bukanlah jurang pemisah antara bisa dan tidak, namun diantara
keduanya ada jembatan yang kasat pandang. Tetap yakinlah, maka jembatan itu
akan senantiasa terlihat dimata.
Ah,
menuliskan ini sembari tak habis-habisnya aku mengusap air mata. Pandanganku
mengabur, lebur pada ingatan yang tak henti berputar.
Bahagialah
disana, Kek. Kasih sayangNya tentu telah membelaimu disana, tempat yang layak
adalah tempat terindahmu disisiNya. Kelak, doakan aku bisa menemuimu disana,
berkumpul di JannahNya.
Kakek, Aku
sangat mencintaimu.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

0 comments:
Post a Comment