Saturday, November 22, 2014


Begitulah, bahkan ketika baru akan menuliskannya, aku sudah berhenti pada titik yang belum ada. 
Terkadang, ada rasa kecewa mengapa tiap kata menjadi tercekat pintu keluarnya. Sehingga lelah yang sangat, tak menemukan muara tempat ia menuang segala seperti biasa.
-Padang Rumput Sabana-

Thursday, September 4, 2014

Ah, terkadang begitu. Jika suatu waktu rinduku amat memuncak, maka tangan akan terasa amat lelah bahkan sebelum aku mulai menuliskannya.
-Padang Rumput Sabana-

Tuesday, July 29, 2014

Pada sebuah catatan hati

Sejatinya cinta dan ukhuwah itu takkan pernah berbatas jarak dan waktu. 
Yang menjadikannya begitu indah dan berbeda adalah ketika hati mereka begitu bertaut dalam setiap kondisi. 
Bahkan ketika lidah tak hendak bersua kata dan menerjemah gundah kedalam aksara,
 maka cukuplah hati yang bertaut itu adalah bukti ketika risau dengan keadaan seorang saudari yang tak hendak berbagi. 
Puji bagi Allah yang menjadikan sosok itu nyata dalam jalan hidup ini. 
Bahkan ketika diri kerap menorehkan kecewa, dia adalah orang yang dengan segera memaafkan dan memahami. 
Sungguh anugrah dengan segenap cinta yang luar biasa. 
Begitu juga hadirmu, yang menjadi warna baru dalam episode cerita. 
Hanya untaian doa yang melangit serta rasa terimakasih yang besar yang kupanjatkan pada -Nya. 

Kelak, hanya DIA yang dapat memabalas kebaikan itu.

Sunday, July 27, 2014

Sayang, lagi-lagi kita harus menyerah pada waktu.Bertahanlah...

Thursday, July 24, 2014

KETIKA

Rinduku kertap di sepanjang jalan penantian
Sejenak terik menggigit
Lantas mengunyah rupa-rupa wajah
Menjadi retak berkepanjangan


Tiada kesabaran yang membosankan
Selain hanya menanti kabar kosong
Dari angin yang sepintas lalu mengabarkan
Namun tak ada apa apa sesudahnya

Sepintas lalu rupamu nyata
Lewat gemerisik dedaun yang bersolek embun
Namun ternyata raga mu tetap lisut
Keping-keping kemuning beringsut sujud pada tanah

Kata-kata para pemuja
Menembus langit-langit
Kidung cinta para perindu
Menggetarkan nirwana











Tuesday, July 22, 2014

Jika kau melihat banyak keburukan pada diriku
Atau jika kau mendengar mereka memperbincangkanku beserta seluruh aib kesalahan diri ini
Maka teman, sesungguhnya aku lebih buruk dari apa yang kau lihat dan yang kau dengar.
Karena kasihNya lah aib keburukan diri masih ditutup dengan kemurahan kasihNya.
Aku tak punya alasan untuk membencimu ataupun mereka, sebab apa yang kau lihat dan kau dengar itu benar adanya.
Terimakasih telah mengingatkanku.

SEPASANG PAGI

Za, lihatlah pagi ini.
Entah kapan terakhir kali aku menyadari bahwa begitu banyak kisah yang ingin matahari perbincangkan diantara silau keemasan yang menyembul diantara rerimbun daun yang kering (walau masih pagi) karena hujan tak turun beberapa hari ini. 
Sudah lama sekali memang, tak ada wujud pagi, embun dan matahari yang kuselipkan di rambut-rambut kalimat.
Ah, ternyata keadaaanya sudah teramat kusut.
Lama sekali aku tak merawatnya.

Za, memang tak ada hujan
namun haruskah aku menekuk kepala dan bersedih terlalu lama menangisi diri yang kenapa harus begitu akutnya mencintai hujan lantas terkapar kekeringan ketika musimnya berganti sejenak kepada kekuasaan matahari?
Aku memang penulis musiman, Za.
Maafkan aku.

Adapun yang hilang beberapa masa yang lalu tentu masih bisa dihidangkan lagi di altar pesembahan menu-menu aneka rasa kata.
Karena di atas meja-meja yang kita duduk melingkarinya ini, selalu ada kesempatan kita untuk saling menatap walau kata kita senyap.
Dan tentu saja, kita dilarang memperbincangkan keresahan, kesedihan, kehilangan, dan kebencian ketika menyantap menu spesial yang disiapkan spesial untuk kita.

Kekhawatiran itu aku maklumi, Za
Seperti yang dulu kerap kita diskusikan, bahwa bisa jadi suatu masa nanti aku ataupun engkau akan mengalami masa dimana kita takkan bisa menatap dan merangkul dengan erat.
Kita mungkin akan berjauhan dengan segala kondisi yang tak pernah kita prediksi sebelumnya.
Dan rasa kehilangan akan mencabik-cabik hati, disertai demam kerinduan yang menjalar sampai ke nadi.
Ketika itu kita mungkin hanya akan melihat kesunyian
maka pekerjaan kita selanjutnya adalah saling mendeteksi keberadaan masing-masing
Dan bergegas menyusul

Seperti halnya saat ini
Aku bergegeas menyusulmu

Kapankah kita kembali menarikan pena?
Aku amat rindu, Za.

Thursday, May 1, 2014

SEBUAH EPILOG

Persahabatan adalah musim yang selalu semi, dedaun dan bunga menjadi indah walau terkadang satu-satu harus rebah menatap cakrawala.

Bukan tak pernah mau untuk menuliskan sebait atau dua bait kalimat tentangnya atau terlampau sibuk untuk tak menyempatkan diri berkisah sebentar saja, ada alasan yang tak bisa terucap lisan ini ketika pertanyaan itu kerap di lontarkan darinya untukku.
Bersebab ia terlalu dekat, merapat, dan membaur dalam tiap sisi ingatanlah, yang mengakibatkan otakku selalu lumpuh dalam membahasakannya walau dalam bentuk yang sederhana. Karena ada masa, sesuatu yang indah itu hanya dapat dirasakan keindahannya lewat sensasi rasa yang ia ciptakan tanpa mampu mewujudkan keindahan itu dalam bentuk rupa bahasa. Aku selalu khawatir, kebodohanku dalam bertutur membuat segala keindahan itu menjadi pudar. Dan jika hal itu terjadi, maka bisa dipastikan aku takkan dapat memaafkan diriku sendiri.
Tapi tak mengapalah, kali ini akan kuminta hatiku berdamai. Semoga hati berkenan memberikan ijin padaku untuk mengangkat sebuah nama yang kusimpan rapi di bilik-biliknya, akan kutunjukkan ia pada sesiapa yang mungkin ingin mengetahuinya. Semoga penuturan sederhana ini mendapat pemakluman jika dirasa kurang ‘asam garamnya’
****************************

Aku lupa kapan tepatnya, tapi mungkin sekitar tahun 2011 atau setelahnya, aku pernah mencoba menyapanya lewat inbox facebook. Rasa inginku berkomunikasi dengan si pemilik nama yang indah dan lumayan membuatku penasaran itu, membuatku memberanikan diri menyapa, karena sejatinya kami tak pernah mengenal. Lalu setelah itu aku lupa, mungkin interaksi kami di dunia maya yang tak begitu sering terhubung membuat aku tak lagi dapat mengenalnya lebih jauh seperti inginku kala itu.
Bertahun kemudian, aku kembali bertemu akun facebook si pemilik nama indah itu. Ia mendarat dan komentar pada postingan facebook yang kala itu sedikit curhat mengenai tugas dari mentoring penulisan dalam organisasi menulis yang kala itu aku ikuti. Ternyata, ia, si pemilik nama itu esok harinya akan datang menjadi mentor dalam mentoring kelas menulis esok harinya. Forum kepenulisan yang saat itu aku ikuti baru saja membuka cabang di kota kecil kami. Dan sebagai konseuensinya, para pengurus wilayah yang berada di Medan, harus bergantian datang ke kota kami untuk memberikan pelatihan menulis setiap 2 minggu sekali. Dan pada waktu itu, giliran si pemilik nama indah itu yang menjejak kota kami.
Tidak menyangka, dapat bertemu raga
Padahal beberapa waktu lalu ia hanya ada dalam rekaan saja
Cuma berbekal sebuah nama
Kini ia telah sempurna
Menjadi cerita
Setelah pertemuan itu, tak dinyana kami semakin dekat. Ia supel, ramah dan bersahaja. Ia tak segan-segan sms lebih dahulu, atau menelfon untuk bercerita apa saja, bahkan tanpa diminta. Waktu yang mengiringi kami, menjadikan masing-masing kami seolah telah berteman sangat lama. Padahal kami baru satu kali bertemu, dan jarak geografis daerah juga tak memungkinkan kami untuk rutin bersua.
Namun dari komunikasi yang sederhana itulah, aku menemukan banyak hal darinya, jujur aku pun belajar banyak. Setidaknya, secara tidak langsung masing-masing kami pasti sama sama belajar ketika tiap kali membahas banyak hal, mulai dari sastra , dakwah, dan cinta.
Sejauh ini kami memang amat hobi berbincang lama, bahkan dalam hitungan jam, lewat telfon tentunya. Kami berbincang apa saja, atau hanya sekedar tertawa terbahak-bahak bersama, mendengarkan masing-masing kami bernyanyi lagu kesukaan, atau curhat sendu berbumbu air mata haru. Maka tak heranlah, teman-teman banyak yang sudah menganggap kami berdua adalah pasangan soulmate, belahan jiwa. Mungkin kami terlanjur saling memahami dan menyanyangi. Mungkin….
Dan yang paling membahagiakan dari semua cerita cerita dan kabar darinya, ada satu hal yang membuatku menjadi sahabat yang paling bersyukur bahkan hingga saat ini. Beberapa tahun sudah ketika kala itu ia meninggalkan lingkaran cahaya, tempat ia biasa melarungkan cinta pada jamaah dan dakwah. Ada miris yang sangat didadaku waktu itu, namun doa yang tulus dalam sujud sujud panjangku, aku selalu menyelipkan ia. Maka, ketika ia mengabarkan tekad untuk kembali kelingkaran cahaya, adalah sebuah kado persahabatan yang amat indah. Tak ada bahagia yang membuncah selain ucapan hamdallah yang menggema pada ruang jiwaku. Ah, bahagia itu memang sederhana. Sesederhana kado bahagia pertama buatku darinya ini.
Aku masih ingat lagu yang kulantunkan untuknya by telephone, tengah malam, saat ia berada di perjalanan pulang bersama teman-teman FLP seusai melaksanakan kegiatan untuk kami disini. Syair yang tulus, menggambarkan betapa inginku menghadiahkannya beribu kunang-kunang agar malam tak terlalu kelam untuknya, namun tentu aku tak bisa.
Aku masih seperti yang dulu
Mencintaimu dengan rasa imanku
Sampai kini, semua belum berubah
Sebab cintaku, bukan karena dunia
Setelah lagu itu kulantunkan, telfon diakhiri. Maka sms itu pun datang, mengatakan bahwa ia ingin kembali. Benar-benar kembali.
**************************************
Mungkin waktu teramat berkuasa atas kita, hingga siapapun tak punya kuasa untuk menarik, mengulur atau mengobrak-abriknya seenak mau kita. Waktu memang menjadi tuan rumah dari kisah kita yang terlampau sederhana ini. Namun aku meyakini, waktu takkan bisa menguasai ikrar kasih yang telah kita langitkan semenjak tatap mata kita bertemu untuk yang pertama.
Maka untukmu, Dinda..
Seperti apapun rupa laku yang kadang sengaja ku munculkan dan kau tak menyukainya, adalah frasa-frasa yang kuajarkan padamu agar kau lebih banyak memahami ketimbang meminta untuk dipahami. Karena dengan memahamilah, sejatinya kita telah mentarbiyah jiwa-jiwa yang rapuh dan kosong tanpa lentera. Aku, mungkin sedang terpaku menyesali kesengajaanku untuk membiarkanmu sendiri menghadapi hidup yang begitu gagah mempertontonkan kekuatannya kepada kita. Namun, aku telah lebih dulu menitipkanmu pada sang maha. KepadaNya lah, aku mempercayakan keselamatanmu lebih dari apapun. Semoga kau mengerti dan memaafkan kelemahanku.









Tuesday, April 22, 2014

Esensi Ketiadaan

Esensi dari ketiadaaan adalah menyulam apapun yang tidak ada menjadi jalinan kerangka untuk menjadikannya ada.
-padang rumput sabana-
Sebenarnya, segala yang ada pasti menjadi tak ada ataupun sebaliknya. Maka memang tak ada yang senantiasa ada, selain yang fana. 

Friday, March 21, 2014

Karena terlalu banyak yang hendak kutuliskan tentangmu, maka baiknya aku menunda satu chapter kisah untuk di publikasikan nanti. 
-Padang Rumput Sabana-

Thursday, March 20, 2014

Panas terik menaungi kepala yang berat, di bawa-bawa dengan paksa, bahkan tanpa senyum ketika bertemu sapa dengan siapa saja. Hatinya gundah gulana, bahkan matanya telah amat mendung. Ia tahan sebisanya, ia paksa hatinya berdialog dengan apa saja yang masih waras dalam jiwa dan isi kepalanya. Tak ingin ia menghujani siang terik dalam tempat yang tak tepat. Pandangannya hanya ingin melihat rumah, tempatnya paling nyaman untuk berteriak sekeras yang ia mau.

Dan itulah endingnya. Ketika dengan serta merta ia mengambil air wudhu dan berdiri tegak menghadapkan wajah ke arah ka'bah berdiri gagah. Bahkan takbir pertama belum usai ia tunaikan, matanya telah hujan. Pandangannya mengabur, ia memusatkan rasa pada kalimat yang ia baca. Ia resapi maknanya, dan hujan semakin deras tanpa ia bisa ia redam. 

Dalam sujud panjang dan tengadah doa, ia hanya menyelipkan pinta.
'Robbi, jangan tinggalkan aku sendiri. Sudah terlalu banyak dunia ini mengaburkan banyak mata. Maka izinkan aku menyatakan satu hal ya Robb, izinkan aku mencintaiMu dengan kehinaan yang kupunya sebagai hamba. Hanya itu, karena dengan mencintaiMu lah aku mendapatkan segalanya, segala yang terindah'

Diluar sana surya masih saja terik, namun di sebuah sudut kamar ada hujan yang masih saja rintik. 
-Hutan Hujan Tropis-
Sesuatu yang dilakukan tanpa kesadaran, terkadang menghasilkan sesuatu yang amnesia untuk di ingat kedepannya. 
Lelaki berkaca mata itu.....
^.^

Wednesday, March 19, 2014

Ia yang berjejal, menggumpal seakan ingin tumpah ruah, memang sangat merepotkan.
Terkadang aku harus lari sekencang langkah untuk menghindar
Namun tak jarang kepala tengadah dengan pasrah
Menerima segala perlakuan otakku yang kadang tak ditempat
-Hutan Hujan Tropis-

Mungkin aku yang memang selalu salah menafsir.  Tak pernah ada sesiapa muncul ketika jerit telah memekik sekuatnya, bahkan menggelepar karena kelelahan. Aku terlalu hiperbola, mungkin. Mereka-reka dengan terlalu bersemangat pada apapun yang dihidangkan, padahal bisa jadi ada yang tak boleh kujamah disana. Lantas setelah itu, semangat akan merunduk perlahan-lahan dan berbalik arah segera. Ia akan berlari sekencang kakinya, dan akan berhenti jika telah menabrak sesuatu yang dilaluinya. 
-Hutan Hujan Tropis-

Mencari-cari dimana kesadaran ketika merasa seharian amnesia, adalah rutinitas yang kerap dieja saban waktu. Kehilangan separuh atau keseluruhan ingin, bak gubuk rapuh yang tak sempurna menjejak tanah. Ia akan rubuh sepeninggal waktu.
-Klorofil-

Aku ingin kau menilaiku apa adanya, jujur menyeringai jika panas surya telah mencapai ubun-ubun kepala atau refleks memeluk kedua tanganmu sendiri ketika gigil malam merasuki pori-pori.

Aku amat sederhana, cinta. 
Bahkan takkan pernah pantas menerima perlakuan istimewa apapun dari tiap-tiap wajah yang menyunggingkan senyum ketika bertemu, entah senyum keihklasan atau terpaksa saja.

Aku juga bukan teman yang baik untukmu, cinta.
Karena entah kenapa, mungkin sudah milyaran kali hatiku berubah-ubah dari istiqomah memperlakukanmu dengan amat layak, sebagaimana lazimnya.

Dipenghujung tiap kali malam meniupkan ruh senyap dalam kebisuannya, aku akan terus berkaca, layakkah aku menyambut bangga pada wajah yang tersembul disana? Namun tak mungkin pula ia dihancurkan hingga menjadi ribuan keping, karena sama sekali tak memberikan obat apa-apa pada si pesakitan yang malang.

Karena itu, jujurlah padaku.
Dimana kau simpan caci itu, aku sangat membutuhkannya.

Sabana



Pram

“Kau akan berhasil dalam setiap pelajaran, dan kau harus percaya akan berhasil, dan berhasillah kau; anggap semua pelajaran mudah, dan semua akan menjadi mudah; jangan takut pada pelajaran apa pun, karena ketakutan itu sendiri kebodohan awal yang akan membodohkan semua.”
Bumi Manusia
Pramoedya Ananta Toer

Wednesday, March 5, 2014

Masihkah Setia?



Tentu masih meraba-raba dimana ia kini diantara tiap titik embun yang menggelayuti daun. Sepertinya mereka adalah sepasang kekasih yang punya sifat berbeda walau wujudnya tak sama. aku kini lelah menanti. Tak sampai-sampai hadirnya disini, apakah ia masih betah berpetualang ke bagian dunia yang lain?

Tak perlu bersedih, bisiknya
Bukankah kau masih bisa menitip pesan untukku lewat siluet yang mengantar cahaya?

Aku tak bisa menulis lagi kini, sungutku kesal
Aku tak bermain-main jika mengatakan bahwa kataku amat kering ketika kau tak membersamai lagi
Terlalu banyak yang harus kuulang dari awal lagi tanpamu

Dasar penghayal musiman, gertaknya
Mau tak mau kau harus mengakrabi terik, kini
tetap ada banyak kisah yang terlukis dibawahnya, percayalah
Sebagaimana aku menemanimu mendapatkan sejarah, maka terik juga akan setia menemanimu bertemu karya

Kelak jika aku datang kau takkan lagi menantiku, ujarnya
Hanya butuh waktu untuk membiasakan perpisahan ini
Hiduplah bersama paparan cahaya
Itu akan baik untukmu melihat masa depan yang pernah kau langitkan bersamaku