Monday, September 7, 2015

Bulan ke Lima

Bulan kelima kini, terhitung dari 1 Mei 2015.
Sesayup, jika menilik kembali ke masa-masa beberapa bulan itu amat seru jika tiap episodnya ada cerita yang tertuang disini. Sebuah kisah baru, yang entah kenapa terasa amat singkat sudah mengambil seluruh kisah menjadi cerita baru.
Kini saya resmi menyandang peran sebagai 'istri'.

Buat ia yang telah memberikanku peran.
Tentu tidak banyak yang bisa saya janjikan padanya, kecuali permintaan maaf karena terlalu banyak kecewa ketika peran baru ini belum sepenuhnya menjadi sempurna. Ia adalah penyempurna ibadah dan pengantar jalan untuk bersama-sama menuju jannah. Berdua, saya dan ia mulai belajar menurunkan ego masing-masing untuk mengahadirkan sakinah dirumah kecil ini.

Saya, tentunya yang paling banyak harus belajar beradaptasi menjalankan peran baru itu.
Ketika masih sendiri, saya dengan amat leluasa menentukan keputusan dan jalan hidup yang harus saya tempuh. Ketika mengalami kendala dan rintangan, dengan sendiri pula saya harus mencari jalan keluarnya. Itulah mengapa, sifat keras kepala dan egois adalah PR utama yang harus saya redam kini.

Karena ketika bersama, saya adalah istri dari seorang lelaki yang dipundaknya tersemat amanah untuk membersamai di semua suasana. Tidak ada lagi yang bisa disembunyikan, tidak ada masalah yang tak diceritakan, semuanya berpadu pada pundak kami berdua. Ada pertimbangan-pertimbangan yang harus saya dengarkan, ada nasehat yang harus saya pertimbangkan dan ada seseorang yang wajib saya minta ijinnya ketika hendak melakukan apapun bentuknya.

Apakah 5 bulan adalah waktu yang cukup?
Tidak. Perlu waktu seumur hidup untuk belajar, juga untuk taat.

Saya tidak tahu kapan Allah menguji taat dan sabar, namun pastilah waktu itu tiba. Namun, doa selalu melangit untuk keberkahan keluarga kecil saya ini. Semoga sakinah mawaddah warahmah dalam taat hingga ke syurganya. Ia adalah pilihanNya, dan saya percaya pada pilihan itu.

Saya, dengan segala kekurangan yang mencoba merayap-rayap mengejar ketertinggalan disisinya. Ketika ia tidur dengan amat nyenyak, entah kenapa ketika meresapi tiap lekuk wajahnya maka saya akan berhenti pada satu kesimpulan yang menyadarkan ' ia suamiku, ia imamku '.

Maka tak jarang, saya tiba-tiba menangis, menyadari ada seorang lelaki yang mau menjadi pendamping seorang perempuan sederhana yang miskin papa ini. Saya sadar, tak mempunyai wajah menarik, miskin harta dan juga ibadah. Tidak ada yang bisa dipandang dari saya, namun dengan Kasih sayangNya yang tak terhingga itulah, ia mengirimkan seorang lelaki dari syurga kepada saya.

Saya tidak sepenuhnya mampu melakukan apapun, namun saya kerap berdoa kepada Allah, agar ia senantiasa dijaga dengan sebenar benar penjangaan. Saya akan melakukan semua yang menyenangkan untuknya, asalkan ia bahagia.

Bulan kelima, ini masih belum ada apa apanya.
Kapal baru saja mulai berlayar, masih ada jutaan mil jauhnya saya dan ia sampai pada akhir perhentian.
Dan saya tak henti berdoa, saya dan ia dapat bersama-sama melangkah pada dermaga paling indah itu, Jannah.



1 comments:

Pertiwi Soraya said...

Lanjut mbak... Saya suka dengan cara penyampaian n pilihan bahasanya👍👍👍

Post a Comment