Sunday, June 21, 2026

Merayakan Keheningan

 Jika rindumu serupa malam, apakah ada yang lebih gulita daripada keheningan?

Menyeret sedemikian langkah terus menjauh 

Sedikit berlari ketika hati resah tanpa arah

Menyerahkan takdir hidup lagi pada menit kemudian


Hai, Juni. 

Tanahku kering, tidak seperti tahun-tahun lalu ketika ada gerimis mengiringi

hujan seperti berlari tidak seperti puisi- puisi sapardi 

lantas aku juga sama, ada hujan yang hilang di setiap diksi ini


Hai, Juni

Jika kisah kita dibukakan, sudah sampai Bab yang mana? 

Si introvert ini tetap sama, ia tak pandai jujur pada dirinya walaupun dalam tulisan saja

Ia tak berani menatap kisahnya sendiri

yang bisa ia lakukan hanya terus berjalan, menciptakan keheningan-keheningan yang lain


Hai, Juni

Jika ada pembicaraan yang harus kita selesaikan malam ini

kira-kira tentang apa?

apakah tentang kunang-kunang yang hanya bersinar di malam kelam, paginya lalu menghilang?

atau tentang pelangi yang muncul ketika hujan menerjang panas saja?

Atau, tentang kenapa aku jtak juga menyukai kopi seberapapun aku berusaha? 


Hai, Juni

Kesadaranku pernah hampir hilang dijalan

Dalam setengah sadar aku meminta nyawa

Tolong hidupkan aku lagi demi hari ini

Karena ada buku yang belum kuselesaikan

Ada rindu yang belum kujenguk

Ada keheningan yang belum kunikmati

Ada ruang yang belum kukunci

Ada luka yang masih belum bersih

Dan, ada engkau belum kutemui


Hai, Juni

Jika angka-angka hari jadi menjadi penting

Apakah kita harus merayakannya?

Padahal sejatinya bukankah semakin dekat kembali?


Rasa-rasanya pantas saja jika kita menjadi pena dan aksara

Kau menjadikanku juni yang indah 

Walau hanya aku yang memujinya

Dan kau selalu menatapku takjub

Walau hanya aku yang merasakannya


Esok, mari berbincang lebih sering

Agar tidak ada lagi keheningan yang minta dirayakan malam




Monday, July 26, 2021


SILUET CINTA SEBUAH PARTAI DAKWAH

“Sesuatu yang sudah kamu mulai karena Allah, kenapa harus berakhir karena manusia?”

Sekitar tahun 2004, ketika masih memakai seragam putih abu abu dan duduk di kelas 2 SMA, saya mengenal sosok-sosok lembut nan pintar yang kerap hadir pada kegiatan ekstrakurikuler di sekolah yang dinamakan Rohis. Pada awalnya, saya hanya tertarik untuk mulai berhijab saja, tidak ingin kemudian aktif menjadi aktivis dakwah sekolah seperti yang kemudian terjadi setelahnya.

Saat itu Rohis masih merayap, mulai dari hanya berempat, berlima, bahkan tak jarang saya hanya berduaan dengan sang kakak pementor, karena tidak ada yang mau hadir di kegiatan rohis di mushollah sekolah itu. Teman- teman lebih suka pulang lebih cepat dan menonton serial korea Full House yang saat itu sedang booming-boomingnya. Saya ingat sekali satu- satunya teman saya yang kerap mendampingi hadir di kegiatan Rohis, kemudian juga ikut berhijab dan berjuang bersama, kini beliau menetap di Pekanbaru, hafizhah 30 juz dan menjadi istri dan imam besar di salah satu masjid di pekanbaru. (semoga Allah melindunginya dimanapun berada)

Tidak ada hal yang luput dari ingatan saya tentang perjalanan dakwah sekolah, lulus sekolah sampai masa kini, semua masih terekam indah dan membekas keras. Dari halaqoh-halaqoh (pembinaan rohani) yang kami sebut lingkaran cinta itu, banyak sekali hal yang dibahas, mulai dari ilmu-ilmu agama seperti fiqh, akidah akhlak, ilmu Al Quran dan sejenisnya, sampai ilmu muamalah dan Negara. Kurang lengkap apa coba?

Dari sanalah saya mengenal partai dakwah, saya menyebutnya begitu karena saya tidak mengenal partainya dulu baru orang-orangnya, tapi sebaliknya. Bertahun berkecimpung dalam dakwah sosial dan sekolah barulah saya ngeh bahwa kakak-kakak yang baik hati itu ternyata bergabung dalam sebuah partai. Pada masa itu saya tak faham apa itu partai, tapi bersama mereka saya terlebih dahulu mengenal persaudaraan, cinta kasih karena Allah, semangat dakwah kepada siapa saja, dan saling tolong-menolong dalam kebaikan. Partai hanya sebuah wadah, hanya sebuah fisik saja, dia dijalankan oleh para motor penggerak yang solid dan punya tenaga kuda karena Allah saja.

Saya besar dalam kawah dakwah di tanah batak, Sumatera Utara. Melewati berbagai moment-moment kebersamaan yang tidak mungkin dilupakan begitu saja. Mulai dari club-club dakwah sosial dan sekolah, bidang-bidang di DPD, sampai masa-masa pilkada, pileg, pilgub dan pilpres, lengkap dengan warna-warninya. Besar dalam watak keras tanah batak ternyata banyak pengaruhnya dalam kehidupan saya. Partai ini mengajarkan banyak cinta dan semangat, juga ikhlas yang tak harus berbalas. Jadi kalau kamu menginkan imbalan, jualan saja sana, jangan bergabung disini. Karena disini, tidak ada yang akan memberikan imbalan, semua hanya memberi, tidak pernah meminta kembali. Begitu kira-kira pesannya.

Setelah menjadi istri orang Malang, maka halaqoh saya otomatis juga berpindah. Hal pertama yang saya lakukan saat pertama kali menginjakkan kaki untuk menetap di Malang adalah, mencari halaqoh baru. Memulai hal baru di tempat yang benar- benar asing ini pastilah sulit. Tidak ada yang saya kenal selain suami dan keluarga besar. Maka dengan batuan suami, saya akhirnya menemukan saudara baru, yang ketika awal pertama kali bertemu pun sudah menganggap saya saudara dekat. Maka setelah itu, agak lapanglah hati saya, sudah menemukan teman.

Lalu partai? Tentu masih sama. Tidak ada yang berubah dan berkurang cintanya hanya karena badai kecil. Pernah ada badai? Pasti pernah, namanya juga isinya manusia semua. Tidak ada yang sempurna dan luput dari salah. Partai  ini isinya melulu bercerita dan meminta diri untuk bergerak untuk ummat, melakukan hal sekecil apapun yang bisa dilakukan untuk orang lain. Sebarlah kebaikan, walau hanya menyingkirkan batu dari tengah jalan. Seperti itulah kira-kira. Lalu apa hanya sekedar menyingkirkan batu dari tengah jalan? Itu hanya hal terkecil, lantas bagaimana dengan hal terbesar? Yang terbesar adalah  berjuang di parlemen dan Negara. Dan ini dilakukan oleh para kader mumpumi yang sudah diamanahi oleh partai dan tentunya para konstituen.

Partai Keadilan Sejahtera (PKS) namanya. Lalu apa saja yang sudah Partai itu lakukan? Maka coba carilah beritanya di media cetak maupun elektronik. Apakah perjalanan partai yang sudah dimulai sejak era reformasi di tahun 1998 sampai kini, menjadi surut dan berkabut?  Dalam pemilu 2004, partai ini mendapat 7,3% dukungan suara nasional, melonjak dari perolehan suara pada pemilu sebelumnya yang hanya 1,36%. Pada pemilu  2009, PKS mendapat suara keempat terbanyak dan kemudian meluas keseluruh daerah di Indonesia. Kemenangan PKS dalam mengusung pemimpin daerah mulai dari bupati dan gubernur yang diusung melalui kaolisi maupun sendiri, menjadikan PKS partai yang diperhitungkan dan sempat menjadi topik pembahasan dimana-mana.  Dominasi partai-partai besar seperti Golkar dan PDI Perjuangan perlahan-lahan mulai di goyang dengan kehadiran partai dakwah ini. Bahkan sampai saat ini, ketika PKS menjadi salah satu partai oposisi pemerintah, kehadirannya bisa membuat gerah.

PKS sendiri memiliki sistem kaderisasi yang solid, yang tidak dipunyai oleh partai manapun yang kebanyakan berbasis massa. Pembinaan yang wajib didapatkan semua kadernya secara berjenjang, menjadikan semua kadernya bukan hanya solid, tapi juga mumpuni ketika terjun ke masyarakat. Saya yang sudah bergabung selama kurang lebih 16 tahun tentu juga mengalami bagaimana alur terjal  yang dihadapi ketika terjun dalam perencanaan partai dan ketika berada di tengah – tengah masyarakat.  

Para kadernya juga berdinamika. Ada yang yang keluar dan memilih tidak memakai simbol partai lagi, ada yang ikut halaqoh (ngaji) tapi tak mau terlibat sama sekali dengan kegiatan partai, ada yang suka ngomong partai tapi jarang ikut ngaji, ada tim sorak sorai dan pemantau dari balik layar, ada yang memilih terjun dan bergumul dengan keadaan. Semua ada, karena kita manusia. Namun tak pernah di buat masalah, yang utama adalah semua mau berkontribusi dengan cara dan kemampuannya masing-masing.

Lalu, apa saya sendiri pernah merasa lelah dan menarik diri? Tentu pernah.

Ada sebuah moment yang tidak bisa saya ceritakan disini, membuat saya memilih jeda. Namun,  nasehat diatas selalu terngiang-ngiang di kepala saya.  “Sesuatu yang sudah kamu mulai karena Allah kenapa harus berakhir karena manusia? Singkat tapi amat menohok. Saya memilih jeda untuk bermuhasabah tentang dosa dan kesalahan, tapi tidak berniat meninggalkan.

Karena bagaimana mungkin saya bisa meninggalkan separuh jiwa dan hidup saya yang besar bersamanya? Semoga Allah selalu melindungi para guru-guru saya, saudara-saudara seperjuangan saya dan semua orang yang pernah saya kenal dan berbuat baik kepada saya, maafkan semua kesalahan saya dan semoga Allah membalas kebaikan antunna sekalian.

Kamu gak penasaran? Gak pengen gabung?



Salam ukhuwah karena Allah

Zainab Al Kautsar


 

 

 

 

 

Saturday, January 5, 2019

GUMAM

Mari namai saja catatan ini dengan "gumam". Sesuatu yang diucapkan tapi tidak jelas didengar oleh orang di dekatnya. Anggap saja ini sebuah ketidak jelasan untukmu yang membacanya, namun begitu jelas bagiku untuk menuliskan. Namun begitu pun semoga sedikit saja ada rasa yang tertinggal seusai nanti kau meninggalkan tulisan ini.

Dalam beberapa waktu belakangan, kerap timbul banyak gumaman di benak ini. Setiap waktu berganti topik, hingga ingatan menjadi kelimpungan menampung. Akhirnya semua menjadi penghuni ruang gelap paling dasar, tempatku menyembunyikan segala kenangan.

SAHABAT

Dulu, ketika banyak yang melingkari dengan menjual nama cinta dan tuhan, aku menganggap mereka adalah sahabat. Seseorang yang kupercaya dalam suka dan duka, mau tak mau menerima baik dan bobroknya diri. Seiring berjalannya waktu dengan berbagai peristiwa, aku mencatat satu hal. Tidak ada yang benar benar tinggal di sisi badan selain sepi dan kenangan. Tunggu, aku sedang tidak membicarakan tentang si(apa) dan kesalahannya, bukan tentang gurat gurat kecewa di wajah mereka atau di wajahku. Aku hanya ingin menekankan, sungguh bersiaplah untuk sendirian jika manusia menjadi harapan.

Dan aku adalah seorang sahabat yang amat buruk perangai dan akhlak, maka jauhi saja aku. Dengan jarak yang mereka buat selama ini, setidaknya ini membuatku  terbiasa dengan sepi. Tapi tetap saja, semua yang dulu pernah melingkari dan kini dia telah pergi  sewaktu waktu muncul dengan seenaknya saja. Pada moment moment tertentu, ia hadir sesukanya saja, menggeruduk tanpa ampun semua kenangan. Kamu tahu rasanya? ya begitulah, rasanya sungguh tidak enak. 

Sahabat. Jika kau pernah menamai seseorang sebagai sahabat, mungkin kamu salah. Atau aku yang salah? Ah tidak. Mungkin sahabatmu tidak seperti sahabatku. Sahabatmu yang dulu pasti masih menjadi sahabatmu yang sekarang. Mereka pasti masih membersamai dalam suka dan dukamu. Tidak seperti aku. 

Sahabat. Karena aku bukanlah sahabat yang baik buat sahabatku. Tidak sepertimu. Kamu pasti sahabat yang baik buat orang orang di sekitarmu. Hingga mereka tak pernah beranjak dari sisimu hingga kini. Maukah kau berbagi kisah denganku? 

kini? Tidak ada sahabat yang kekal di sisi. Semua berganti, semua berubah. Yang dulu begitu manis, kini bisa menjadi hambar apa adanya saja. Bertegur sapa ala kadarnya, komen komenan di sosial media seperti orang yang baru kenal kemarin saja. Ah, inilah prosesnya. Proses memahamkan diri bahwa yang yang sesungguhnya kekal disisi adalah SENDIRI. Setidaknya kesendirian akan mengajak diri untuk lebih dekat kepada kekasih sejati, Ilahi Robbi. Ikhlas? Harus. 

Gumam selanjutnya adalah tentang CINTA

Tapi aku ingin menuliskan ini di halaman berikutnya saja. 


kenapa aku selalu menyimpan gumam dalam tiap percakapan?
Mungkin karena aku sedang ingin menyembunyikan kenangan lebih dalam

(05/01/2019, Malang, menyibak ingatan)

Wednesday, December 5, 2018

LOST







Puisi puisiku kerap hadir dengan suara yang sama sekali tak jelas
Lambat laun aku sadar, duniaku ada yang hilang
Disergap rutinitas tangisan tangisan bocah, dapur, dan kasur, ia terkikis
Bukan aku tak cinta, aku hanya butuh waktu untuk bermesraan kembali
Dengan malam malam sepi
Dengan tangis 
Dengan Hujan
Dengan Awan
Dengan Alam
Dengan Ketidaksadaran...

Mungkin aku butuh pingsan sejenak
Agar jiwaku bisa memanggil Ruh itu dalam detak
Memanggil tiap diksi untuk bergerak

(Malang, aku masih sadar dan belum pingsan)

Thursday, July 7, 2016

Ketika Engkau Datang



Ketika kamu datang, aku tidak tahu siapa yang mengantarkanmu tiba disini. Entah karena aku kerap melangitkan harap pada hujan atau angin yang membuat jendela kamarku berderit itu. Aku tidak tahu pasti, tapi mungkin kau tidak datang dengan sendirinya, aku yakin ada yang menuntun tangan dan hatimu, ada suara-suara tak kasat mata yang berbisik mempengaruhi akalmu, hingga kau mau saja ada disini. Tempat yang ingin saja kutinggalkan untuk sementara waktu. Tempat yang jauhnya sekian lebarnya lautan. Aku baru saja ingin berkemas kala itu. Ketika ingin pergi itu datang, kehadiranmu menahan langkahku. Siapa kamu?

Ketika kamu datang, siapapun kamu, aku telah berjanji untuk tidak bertanya telah berapa banyak hati yang kau seberangi untuk bisa sampai kesini. Aku faham, jarak ini sudah teramat jauh kau lewati, tentu kau lelah bukan? Akan kubiarkan kau beristirahat, nimatilah hidupmu, jangan khawatirkan apapun, aku menguasai tempat ini.

Ketika kamu datang, aku menahan sekian banyak Tanya untuk kusampaikan, aku takut kau kelimpungan menjawabnya. Maklumlah, aku memang punya sifat buruk, selalu penasaran dengan apapun, termasuk padamu.
Ketika kamu datang banyak hal telah berubah, termasuk tulisan-tulisan ini.

Saturday, December 19, 2015

Tetaplah Ia (Hujan)

Mungkin bahasaku tidak sepuitis dulu, dalam menerjemahkan hujan setiap kali ia hadir.
Ada banyak hal yang berubah (mungkin), dalam beberapa kurun waktu berganti. Ada yang datang dan ada yang digantikannya ketika pergi.
Tapi tetaplah ia (hujan) menjadi cinta yang tak pernah lekang oleh masa manapun. Tidak ada yang menggantikannya, walau sajak tidak lagi selalu mewujudkannya.
 
Tentunya hanya hujan yang masih menyimpan doa-doa yang aku langitkan sejak dulu, beberapa kini hanya menjadi kenangan manis karena satu persatu berwujud nyata, sementara yang lain masih menunggu antrian diantara doa-doa para pecintaNya yang sedang sama menunggu.
 
Bulan kedelapan, di malam-malam yang hujan.
Walau kadang hanya bisa memandangnya lewat pintu dan jendela, sebab ada alasan mengapa kini tidak lagi bisa sesuka hati bermandikan airnya, semua rasa dan cinta tetap sama.
Ia tetap hujan, yang menghadirkan cinta.
 
Bulan kedelapan, kini bersama hujan yang sama aku berbincang, beberapa masa kemudian pengalaman baru akan menantang, menjadi seorang ibu.
 
Ah, hujan, cinta.
Selalu saja menghadirkan sisi melankolis, ketika membersamainya berbincang.

 

Thursday, October 1, 2015

Bulan Ke Enam

Sudah bulan ke enam, purnama senantiasa purnama diantara dua mata. Bagi saya setiap retak di sisi tak mengurangi bentuk sempurnanya. Ketika ia retak sedikit saja, maka tak lama kemudian ia akan kembali utuh ke bentuknya semula, tanpa bekas apa-apa. Saya dan ia selalu berusaha menjadi dan memberi segenap cinta terbaik, pada kekasih terbaik. Sungguh, itu saja sudah lebih dari cukup buat saya untuk memulai langkah selanjutnya.

Bulan ke enam, begitu juga sebuah kehidupan yang ikut muncul bersama. Kadang saya masih amnesia bahwa kini akan teramat banyak cerita yang muncul setelahnya. Begitu juga bertambahnya usia serta amanah.

Bulan ke enam, tentu juga ada pekerjaan lain dari kehidupan sebelumnya yang  minta diselesaikan. Saya bukanlah tipykal manusia yang bijaksana dan bertanggung jawab penuh, begitu banyak kecewa yang saya tinggalkan pada wajah wajah penuh cinta, sedangkan saya saat ini masih saja belum beranjak untuk memperbaikinya. Semoga, sebelum usia menutup segalanya, saya bisa memperbaikinya walau tak sempurna seperti sedia kala.






Bulan ke enam, Oktober yang hujan.

Wednesday, September 9, 2015

Rima



Berbahagialah, ia datang memenuhi janji
Selama ini ia tak benar-benar pergi, hanya sebentar mengembara
Maka kemarilah, mari kita nikmati ceruk-ceruk berisi kenangan ini
Sebagian menggenang, namun tak sedikit yang dilewati begitu saja
Jangan berisik, mari memadamkan nyala netra
Ada yang sedang bersenandung, kidung asmara
Dua rindu tumpah, luruh bersama milyaran doa para peminta
Adakah rasa kita sama?

Tuesday, September 8, 2015

Untuk Lelaki Penjaga Senja

Aku senang membicarakan senja, Kau tahu kenapa?

Sebab disana aku banyak menyaksikan berbagai fenomena, bukan hanya kisah mentari yang ditenggelamkan awan jingga dibalik bukit yang selalu dapat kita lihat dari sini, namun lebih kepada apa yang ia bawa sesudahnya.
Selalu saja, akhir dari perjalanan itu hanya menyisakan 2 hal. Cerita indah atau sebaliknya, duka. Ataukah tidak keduanya? Tapi yang pasti, aku selalu bahagia menemani gurat-gurat jingga tua itu melebur di sela-sela awan yang warnanya berganti-ganti, kadang biru kadang putih, kadang juga abu-abu.
Ada seorang lelaki yang kusebut ‘penjaga senja’, ia kerap kutemani dan menemaniku melewati waktu-waktu berharga senja itu. Mungkin jika kau selalu mengikuti cerita-ceritaku yang sama sekali tak menarik ini, kau pasti akan tahu siapa dia.
Ia, lelaki yang setia menjaga senja. Ia pernah mengatakan padaku : “Mempunyai teman mengarungi senja adalah anugrah “, maka sejak itu akupun mengatakan dengan amat lantang didepannya dengan mata berkaca-kaca “ Aku akan menemanimu mengarungi senja “ Dan, lelaki senja itu hanya tersenyum sembari menatap ke langit yang hampir padam warnanya, menyeruak lamat-lamat gelap.
Menjadi anugrah memang bukan sebuah semata sematan, namun sebuah pilihan diri untuk menjadi apa buat si(apa) yang kita mau. Menentukan pilihan itu membuatku sedikit berarti untuk lelaki senja itu, yang selalu setia menemaniku menjemput fajar hingga malam bersiul-siul kembali, menemani rehatnya tubuh yang lelah. Tidak ada yang lebih setia daripada ia. Tanpa pamrih bahkan tanpa banyak bahasa, ia hanya mengulurkan tangan jika aku terjatuh, menyeka luka, air mata dan keringat yang bergantian hadir. Ia tetap tersenyum penuh kasih sayang tanpa sekalipun berkeluh kesah. Aku tahu ia lelah, namun kasih sayangnya melebihi matahari, melebihi senja itu sendiri.
Begitulah, hari-hari berikutnya aku masih setia disisinya menikmati senja. Hingga suatu kali ia berkata dengan amat lirih dan nafasnya tersengal.
“Aku akan pergi, terimakasih telah menemaniku menikmati senja ini “
Belum lagi keterkejutanku hilang, ia sudah berbalik pergi, menjauh dengan segera.
Aku faham, keniscayaan ini cepat atau lambat akan segera terjadi. Ia yang meninggalkanku atau aku yang meninggalkannya. Doaku kerap melangit, aku akan menemaninya sampai masaku atau masanya berakhir. Karena aku amat menyayanginya. Sepertinya kini ia yang lebih dulu meninggalkan.
Lelaki penjaga senja itu pergi, masih kuingat dengan jelas raut wajahnya ketika itu. Wajahnya amat putih pucat, namun senyumnya tetap mengembang. Ketika aku berteriak memanggilnya, ia hanya berbalik menoleh sambil tetap tersenyum dan mengangguk perlahan, matanya teduh memandang.
Lelaki penjaga senja itu, walau raganya telah pergi namun kasihnya tidak sedikitpun berkurang. Ia yang mengajariku melukis cita-cita di langit malam, walau orang lain mengatakan itu tidak mungkin dan sia-sia belaka, namun ia meyakinkan bahwa ketidakmungkinan bukanlah jurang pemisah antara bisa dan tidak, namun diantara keduanya ada jembatan yang kasat pandang. Tetap yakinlah, maka jembatan itu akan senantiasa terlihat dimata.
Ah, menuliskan ini sembari tak habis-habisnya aku mengusap air mata. Pandanganku mengabur, lebur pada ingatan yang tak henti berputar.


Bahagialah disana, Kek. Kasih sayangNya tentu telah membelaimu disana, tempat yang layak adalah tempat terindahmu disisiNya. Kelak, doakan aku bisa menemuimu disana, berkumpul di JannahNya.


Kakek, Aku sangat mencintaimu.


Monday, September 7, 2015

Bulan ke Lima

Bulan kelima kini, terhitung dari 1 Mei 2015.
Sesayup, jika menilik kembali ke masa-masa beberapa bulan itu amat seru jika tiap episodnya ada cerita yang tertuang disini. Sebuah kisah baru, yang entah kenapa terasa amat singkat sudah mengambil seluruh kisah menjadi cerita baru.
Kini saya resmi menyandang peran sebagai 'istri'.

Buat ia yang telah memberikanku peran.
Tentu tidak banyak yang bisa saya janjikan padanya, kecuali permintaan maaf karena terlalu banyak kecewa ketika peran baru ini belum sepenuhnya menjadi sempurna. Ia adalah penyempurna ibadah dan pengantar jalan untuk bersama-sama menuju jannah. Berdua, saya dan ia mulai belajar menurunkan ego masing-masing untuk mengahadirkan sakinah dirumah kecil ini.

Saya, tentunya yang paling banyak harus belajar beradaptasi menjalankan peran baru itu.
Ketika masih sendiri, saya dengan amat leluasa menentukan keputusan dan jalan hidup yang harus saya tempuh. Ketika mengalami kendala dan rintangan, dengan sendiri pula saya harus mencari jalan keluarnya. Itulah mengapa, sifat keras kepala dan egois adalah PR utama yang harus saya redam kini.

Karena ketika bersama, saya adalah istri dari seorang lelaki yang dipundaknya tersemat amanah untuk membersamai di semua suasana. Tidak ada lagi yang bisa disembunyikan, tidak ada masalah yang tak diceritakan, semuanya berpadu pada pundak kami berdua. Ada pertimbangan-pertimbangan yang harus saya dengarkan, ada nasehat yang harus saya pertimbangkan dan ada seseorang yang wajib saya minta ijinnya ketika hendak melakukan apapun bentuknya.

Apakah 5 bulan adalah waktu yang cukup?
Tidak. Perlu waktu seumur hidup untuk belajar, juga untuk taat.

Saya tidak tahu kapan Allah menguji taat dan sabar, namun pastilah waktu itu tiba. Namun, doa selalu melangit untuk keberkahan keluarga kecil saya ini. Semoga sakinah mawaddah warahmah dalam taat hingga ke syurganya. Ia adalah pilihanNya, dan saya percaya pada pilihan itu.

Saya, dengan segala kekurangan yang mencoba merayap-rayap mengejar ketertinggalan disisinya. Ketika ia tidur dengan amat nyenyak, entah kenapa ketika meresapi tiap lekuk wajahnya maka saya akan berhenti pada satu kesimpulan yang menyadarkan ' ia suamiku, ia imamku '.

Maka tak jarang, saya tiba-tiba menangis, menyadari ada seorang lelaki yang mau menjadi pendamping seorang perempuan sederhana yang miskin papa ini. Saya sadar, tak mempunyai wajah menarik, miskin harta dan juga ibadah. Tidak ada yang bisa dipandang dari saya, namun dengan Kasih sayangNya yang tak terhingga itulah, ia mengirimkan seorang lelaki dari syurga kepada saya.

Saya tidak sepenuhnya mampu melakukan apapun, namun saya kerap berdoa kepada Allah, agar ia senantiasa dijaga dengan sebenar benar penjangaan. Saya akan melakukan semua yang menyenangkan untuknya, asalkan ia bahagia.

Bulan kelima, ini masih belum ada apa apanya.
Kapal baru saja mulai berlayar, masih ada jutaan mil jauhnya saya dan ia sampai pada akhir perhentian.
Dan saya tak henti berdoa, saya dan ia dapat bersama-sama melangkah pada dermaga paling indah itu, Jannah.



Pada kata 'nanti'

Sudah amat lama, bagai hitungan abad merayapi dinding dinding diksi dirumah ini juga dirumah yang lain, amat sepi. Diksi tak sepenuhnya pergi, ia tetap ada namun tak hendak mewujud ikatan kata kata, ia selalu berhenti pada kata 'nanti'.

Hai, ada banyak kabar yang belum lagi dibagi.
Mungkin beberapa waktu belakangan, aku sibuk dengan rutinitas yang sedikit berbeda.
Ada banyak kisah memang, tapi entah kenapa tak satupun yang bisa diikat menjadi rangkaian kalimat seperti biasa.

Namun, tak mengapalah.
Sedikit waktu aku mencoba kembali menilik 'rindu' yang kerap menguntit arah mata ini menatap. Lantas kemudian keinginan untuk merayap perlahan-lahan diantara rerimbunan kata-kata yang lama tak terjamah mulai mengusik.

Semoga, walau melambat, aku tak jauh tertinggal. 

Tuesday, June 23, 2015

Sesuatu yang kau sematkan padaku, adalah berupa detak detak hidup baru.
Kau tahu apa itu?

Thursday, February 26, 2015

Gemintang

Gemintanglah mimpimu, walau matari telah merebut kuasa
Jika mata kehilangan wujudnya, sesungguhnya ia masih merambah cakrawala
Bahkan telah berpindah lebih jauh

Maka siapkanlah
Pandangmu akan mencari-cari
Di sela-sela purnama
Ia tak ada lagi


Saturday, November 22, 2014


Begitulah, bahkan ketika baru akan menuliskannya, aku sudah berhenti pada titik yang belum ada. 
Terkadang, ada rasa kecewa mengapa tiap kata menjadi tercekat pintu keluarnya. Sehingga lelah yang sangat, tak menemukan muara tempat ia menuang segala seperti biasa.
-Padang Rumput Sabana-

Thursday, September 4, 2014

Ah, terkadang begitu. Jika suatu waktu rinduku amat memuncak, maka tangan akan terasa amat lelah bahkan sebelum aku mulai menuliskannya.
-Padang Rumput Sabana-

Tuesday, July 29, 2014

Pada sebuah catatan hati

Sejatinya cinta dan ukhuwah itu takkan pernah berbatas jarak dan waktu. 
Yang menjadikannya begitu indah dan berbeda adalah ketika hati mereka begitu bertaut dalam setiap kondisi. 
Bahkan ketika lidah tak hendak bersua kata dan menerjemah gundah kedalam aksara,
 maka cukuplah hati yang bertaut itu adalah bukti ketika risau dengan keadaan seorang saudari yang tak hendak berbagi. 
Puji bagi Allah yang menjadikan sosok itu nyata dalam jalan hidup ini. 
Bahkan ketika diri kerap menorehkan kecewa, dia adalah orang yang dengan segera memaafkan dan memahami. 
Sungguh anugrah dengan segenap cinta yang luar biasa. 
Begitu juga hadirmu, yang menjadi warna baru dalam episode cerita. 
Hanya untaian doa yang melangit serta rasa terimakasih yang besar yang kupanjatkan pada -Nya. 

Kelak, hanya DIA yang dapat memabalas kebaikan itu.

Sunday, July 27, 2014

Sayang, lagi-lagi kita harus menyerah pada waktu.Bertahanlah...

Thursday, July 24, 2014

KETIKA

Rinduku kertap di sepanjang jalan penantian
Sejenak terik menggigit
Lantas mengunyah rupa-rupa wajah
Menjadi retak berkepanjangan


Tiada kesabaran yang membosankan
Selain hanya menanti kabar kosong
Dari angin yang sepintas lalu mengabarkan
Namun tak ada apa apa sesudahnya

Sepintas lalu rupamu nyata
Lewat gemerisik dedaun yang bersolek embun
Namun ternyata raga mu tetap lisut
Keping-keping kemuning beringsut sujud pada tanah

Kata-kata para pemuja
Menembus langit-langit
Kidung cinta para perindu
Menggetarkan nirwana











Tuesday, July 22, 2014

Jika kau melihat banyak keburukan pada diriku
Atau jika kau mendengar mereka memperbincangkanku beserta seluruh aib kesalahan diri ini
Maka teman, sesungguhnya aku lebih buruk dari apa yang kau lihat dan yang kau dengar.
Karena kasihNya lah aib keburukan diri masih ditutup dengan kemurahan kasihNya.
Aku tak punya alasan untuk membencimu ataupun mereka, sebab apa yang kau lihat dan kau dengar itu benar adanya.
Terimakasih telah mengingatkanku.