Saturday, August 10, 2013
Za, akhirnya malam ini aku
menerobos hujaman nya.
Sungguh aku tak tahan melihat pesona nya hanya dari balik pintu. Maka dengan
segera, aku menjamu undangan pertemuan malam ini untuk membersamai nya beberapa
waktu. Sampai tubuh menggigil, dan lidah kelu dalam pelukan dingin yang
merengkuh.
Tapi rindu telah terbayar, bersama sisa gerimis yang masih hendak berkelakar
dengan alam.
Za, selalu ada kenangan bersama tetesnya. Masih kah kau ingat?
(Dialog Za, Zainab Al-Kautsar)
Friday, August 9, 2013
Ceritanya sih tadi malam, tapi baru bisa menuliskannya sekarang. Telat sih, tapi moga masih ada yang sudi membacanya dan memakluminya.*ckckckck, gaya gue*
Waktu akan masak sesuatu berhubung perut laper+gak ada makanan tersisa*kasian yak, lebaran pertama aja udah terlantar*maka dengan riang gembira perhatian beralih pada sang kompor minyak. Namun sungguh terlalu, ternyata amunisinya sedang kering kerontang, sang solar telah mengering, dan persediaan ternyata telah lama habis.
Jadilah malam itu mengelana sendirian, berteman jiregen minyak dan uang seadanya. Berhubung terburu-buru, maka uang yang dibawa pun pas pasan, tak lagi dihitung. Dalam hati sebenarnya sedikit curiga, benar gak uang yang dibawa jumlahnya 15 rb. Tapi ya sudahlah, perjalanan pun tetap berlanjut membelah malam.
Di SPBU, seorang pegawai berpakaian satpam menyambut ramah, mungkin ia sedang menggantikan temannya untuk membantu melayani pengunjung. Maka dengan ramah plus senyum manis*ehem* dan percaya diri, saya mengatakan:
"Isi 15 ribu ya, Bang"
Jirigen pun diisi. Nah, pas pembayaran ada sesuatu yang terjadi diluar kendali. Uangnya kuraaaang. Hiks..
Maka dengan malu-malu bin wajah yang di polos-polosin, sebuah permintaan maaf pun dihaturkan.
"Bang, uang saya ternyata kurang. Saya tinggal sebentar ya jirigennya, nanti saya jemput"
Beliau mengiyakan. Maka dengan kecepatan tinggi, sepeda motor pun dipacu diatas kecepatan rata-rata. Ngedumel sedikit lalu beristifgfar, moga kedepannya gak berlanjut jadi pikun akut yak.
Waktu balik ke SPBU, karyawan yang bekerja telah berganti. Ketika dia melihat kedatangan saya yang malu-malu tikus, dia mengerti.
"Ini mbak jirigennya"
" Iya, Bang "
"Tadi katanya udah ngasih 5 ribu ya?"
Aku mengernyitkan dahi
"Enggak ah, wong saya belum bayar. Nih bang uangnya, 15 ribu kan?"
Aku menyodorkan uang padanya, dia menyambut dengan senyum simpul.
"Aku tadi cuma nyoba aja, Mbak. Ngetes kejujuran, ternyata mbak jujur"
Gubrak
Aku ngeloyor pergi dengan wajah kosong. Kembali membelah malam dengan jirigen minyak dan iringan paduan suara suara cacing kelaparan.
Thursday, August 8, 2013
Menggelandang sendirian menyusuri Rantauprapat ternyata menyenangkan.
Sesekali menilik tempat-tempat sejuk yang bisa dijadikan pemberhentian untuk
bisa menghayal tralala dan menuliskannya walau beberapa kata, namun apalah daya
tempat yang dimaksud kini mendadak ramai, so...kembalilah mencari naungan yang
lain.
Walau katanya lebaran itu identik dengan silaturahmi dan saling
mengunjungi tetangga-tetanggi, saudara-saudari dan kerabat-kerabit, ternyata
jalanan masih saja padat, tempat makan apalagi, juga pusat perbelanjaan, kalau
sudah begini, alamat gak minat untuk menyusup kesana. Dan entah kenapa kali ini
keinginan untuk menyendiri demi sebuah inspirasi begitu kebat-kebit mengikuti,
sampai tak tenang jika sudah berada dirumah diantara riuh rendah suara keluarga
yang kini menjajah seisi rumah.
Disepanjang jalan, segerombolan anak-anak usia SD*kayaknya* dengan pistol mainan ditangan nya tampak gagah mejeng di pinggir jalan. Ada juga yang bergerombol naik becak dengan memamerkan pistol mainannya. Haih, jadi inget kisah masa lalu. Beberapa tahun silam waktu masih akrab dengan anak anak seusia dan masih ingusan, maka tembak-menembak dengan anak-anak dari kampung sebelah adalah moment paling dinanti saat lebaran tiba. Belum lagi kalau sudah main meriam, wuih seru banget dengan suara dentumannya. Dulu belum begitu akrab dengan yang namanya petasan, gak seperti zaman sekarang yang dimana mana suara ledakan mengganggu orang tarawih, gak kreatif banget yak. Beda sama zaman kami dulu yang hanya tahu waktu kapan main meriam dan kapan harus sholat tarawih plus ngaji sore.
Setelah muter-muter gak tentu arah, sampailah kaki menjejak emperan Lapangan Ika Bina, memesan semangkuk es Jakarta(*kok bukan es Rantauprapat aja ya namanya) dan memulai menyusun deret kata, dimulai dari beranda EfBe ini. Namun ya nasib, di samping saya abang-abang pengunjungnya sedang menghisap rokok, asapnya mengarah kesini. Gak ngerti banget tuh orang di pelototin sejak tadi, ckckckck, masak iya saya harus mengeluarkan jurus nenek sihir bawa sapu lidi sambil marah marah baru dia ngerti. Kalau udah gini, seganteng apapun beliau yang di sebelah saya ini, kalau sudah merokok, alamat kaburlah ia dalam pandangan saya. Jiaah...saya tak suka lah lelaki merokok.
Baiklah, ini hanya pembuka. Saya mau nulis dulu yah.
Bye.
Jangan hanya karena satu aib atau dosa kecil, kalian terus2an mengingat dan menjauhi seseorang. Karena tidak ada seorang pun hidup tanpa aib dan dosa ('Aidh Al-Qarni).
Maka, janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dia-lah yang paling mengetahui tentang orang yang bertaqwa (QS. An-Najm: 32)
Maka, janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dia-lah yang paling mengetahui tentang orang yang bertaqwa (QS. An-Najm: 32)
Sunday, August 4, 2013
KETIKA
ENGKAU MENIKAH, WAHAI KADER DAKWAH
Kala sendiri
masih menyapa, sosokmu begitu mempesona. Cahaya langit seakan menggantung di
raut wajah dan tutur kata, semangat menyala, seperti hendak mengalahkan energi
matahari yang berkuasa atas dunia. Ah, sungguh luar biasa. Segala kesibukan kau
telan dengan kenikmatan, tak ada waktu yang sia-sia, bahkan mungkin waktu yang
disisihkan untuk beristirahat harus rela berbagi dengan kesibukan lain yang
datang tanpa kenal lelah.
Lihatlah
disekeliling, betapa tatap segala jenis mata memandang dengan khidmat. Mungkin
mereka kagum dengan pakaian takwa yang melekat pada raga dan akhlakmu, kagum
dengan segudang kegiatan untuk umat yang kau emban, kagum dengan ketaatan yang
makin kuat bahkan ketika kesulitan datang mendekat. Atau mungkin ada yang
menatap heran, mengapa ada sosok yang begitu menjaga hati dan jiwanya dari
pengaruh dunia, heran dengan ke-eksklusiv-an pergaulan yang seakan ingin
menjauhi siapapun yang sewaktu-waktu bisa merampas cintanya dari sang Maha
cinta, heran dengan kekuatan prinsip yang begitu kuat pada setiap keputusan,
termasuk kekuatan prinsip ketika hendak memilih seseorang menjadi pendamping
hidupnya. Bisa jadi ada juga yang membenci dan bersikap sinis, menganggap
betapa bodohnya orang-orang sepertimu yang tak begitu menikmati dunia
sebagaimana mereka yang terlena, mengata-ngatai dengan sumpah serapah ketika
mereka merasa tak mampu sepertimu, atau mungkin ketika mereka iri dengan
orang-orang yang semakin berpihak dan tertarik pada akhlakmu.
Lalu ketika
kau akan menikah, ketika sebuah kabar gembira menyebar secara diam-diam atau
terbuka, semua pandangan akan beralih padamu. Mereka akan dengan seksama
menanti dan mencari tahu siapa pasanganmu, identitasnya, bahkan menanti untuk
diundang dan menikmati suasana pesta walimahan ala kader dakwah. Percayalah,
mereka akan membicarakanmu mulai dari mendengar kabar bahagia itu sampai
sesudah pesta terjadi, entah itu cerita baik atau tidak sekalipun, yang jelas
sosokmu masih menjadi perhatian.
Siapa kini
yang duduk mesra disisimu, juga menyita perhatian banyak mata. Apakah ia teman
sekufumu sesama penggiat dakwah ataukah yang masih harus dicelupkan kedalam
warna warni jalan ini? Siapapun dia mereka hanya menanti satu hal, bagaimana
langkahmu sesudah ini? Makin tegap ataukah semakin surut kebelakang, bahkan
terhenti tak bernyawa lagi?
Dan setelah
itu, sebuah doa mulia kian melangit untukmu, begitu juga dengan harap yang
mengiring setiap langkah bahagiamu, dua oraang telah bersatu, semoga langkah
memanggul amanah semakin gagah. Adakah kau rasakan itu? Ketika kini telah
berdua, bukankah seharusnya semangat dan dukungan bisa makin berlapis? Ketika
pendampingmu kini menemani, bukankah seharusnya ada banyak masalah yang kini bisa
kau hadapi? Bukankah ketika sekarang kau tak sendiri lagi, seharusnya suaramu
makin lantang dalam menyeru kebenaran?
Mari berkaca
dari mereka yang membangun dakwah mulai dari pribadi, mencari pasangan, sampai
membangun dakwah dalam keluarga kecil mereka. Lihat dan contoh bagaimana mereka
mengenyampingkan alasan untuk mencari cela menghindari amanah, mereka makin
bersemangat dan semakin mantap dalam kesepakatan menghadapi badai bersama-sama,
saling mengingatkan ketika salah satu diantaranya mulai menjauh dan mengeluh. Adakah itu ada dalam keluargamu kini?
Atau mungkin
ada contoh lain yang menjadi rujukanmu? Pada sosok yang awalnya penggiat
dakwah, dan menikah, namun semakin surut cahayanya. Ketika salah satu
diantaranya bukannya saling menguatkan amanah, namun malah menyemangati untuk
lebih memilih rumah daripada medan dakwah. Satu persatu amanah dihindari dan
dilepas, halaqoh pekanan juga dianggap menjadi sebuah kewajiban yang ala
kadarnya daripada kena caci, atau hendak menjauh namun takut dikata-katai dan
khawatir kena sidang murobbi. Pada keluarga
ini, adakah lagi mereka bangga dengan identitas dakwah yang membesarkan dan
membinanya selama ini? Adakah mereka cinta dengan peluh yang menetes dan materi
yang tergadai demi membiayai dan bekerja keras demi suksesnya sebuah agenda
dakwah?Entahlah, hanya mereka yang tahu. Semoga tak ada kalimat mereka yang
memilih untuk berada di belakang layar sebagai penonton dan pemandu sorak
daripada berada di garda terdepan dalam menghadapi badai. Karena jika kata itu
sudah terlempar, alamat akan benar-benar menyingkirlah ia sebagai sebuah
keputusan untuk pensiun dini dan menyerahkan estafet dakwah pada yang lebih
muda atau yang masih belum menikah. Memangnya adakah aturan demikian?
Lantas pada
engkau yang belum menikah, semoga keinginan mulia itu tetap diijabah Allah
dengan sebaik-baiknya jalan. Dan kelak ketika menikah, raga dan semangatmu akan
terbarui, langkah akan semakin tegap dan lisan akan semakin lantang
mengagungkan kebenaran. Semoga!
Pertanyaan seputar menikah memang tak hanya sekali saja mampir padaku. Bahkan lumayan 'enek' juga menghadapinya. Bukannya enggan berbagi atau pelit kata dalam menjelaskan, namun bagiku menjelaskan panjang lebar pendapat dan prinsipku tentang menikah pada mereka yang tak paham dasar perjalanan dimana aku melabuhkan diri selama ini, maka itu sama halnya dengan sia-sia. Toh mereka tak akan pernah faham.
Banyak malah yang mencemooh prinsip ku dan mungkin juga sama dengan prisnsip akhwat yang lain. Mereka mungkin lelah meyakinkan, atau mungkin cenderung gerah dengan keakraban beberapa kader lain dalam kesendirian ketimbang cepat-cepat menikah. Beberapa diantaranya mencemooh mengapa kader dakwah suka 'plih-pilh'. Ya iyalah mesti memilih, kan gak mungkin juga menerima semua yang datang tanpa seleksi.
Adapun keinginan tentang pendamping hidup yang harus sama-sama dari kader dakwah juga, dalam hal ini sesama kader PKS. Maka inilah penjelasannya.
Jika kader berkeinginan mendapatkan pasangan hidup seperti itu, maka wajarlah. Mereka tak menikah demi kepentingan pribadi, namun untuk keberlangsungan dakwah. Mereka ingin memperjuangkan dakwah dengan makin kuat ketika telah menikah, karena disokong oleh pasangan hidup yang se'fikiran' dan se-ide. Bayangkan saja akan cacatnya sebuah keluarga jika salah satu pasangannnya tak paham dengan perjalanan dakwah pasangannya, ia tak mengerti tentang betapa pentingnya dakwah dalam hidup seorang kader. Maka bisa dipastikan, keluarga seperti ini akan menghilang dari peredaran dan menjauh dari amanah dakwah.
Lantas, apa tak boleh kader dakwah menikah dengan orang umum?
Jawabannya boleh!
Asalkan sang pendamping tersebut mau ikut bergabung dalam jamaah dakwah, mau ikut liqoat(pengajian) mingguan, ikut setiap kegiatan dakwah, dan aktif berinteraksi dengan kader-kader lain. Banyak juga akhwat yang menikah denga lelaki yang awalnya bukan kader dakwah, tidak dilarang. Namun, diantara mereka tak semuanya bertahan. Bersatatus seorang istri yang harus patuh pada suami, menjadikan mereka terkadang harus berbenturan pendapat dengan suami mereka yang kadang tak mendukung langkah dakwah sang istri. Ah, irohis sekali.
Lalu bagaimana denganku?
Aku tetap berkeinginan menikah dengan kader dakwah, yang bisa bersama berjuang tanpa cacat sebelah dalam pemahaman tentang langkah perjuangan. Yang dengan rela membiarkan istri mengambil bagian dalam agenda dakwah yang memang sibuk ini. Yang dengan rela menyokong istri dalam menguatkan langkah ketika telah mulai lelah dan putus asa. Ah, mungkin mimpi ini terlalu indah.
Namun tak menutup kemungkina, menerima mereka yang awalnya bukan bagian dari kader dakwah. But, harus menetapi syarat yang paling dasar, paling urgent, kalau syarat-syarat ini tak sanggup dipenuhi, maka ya sudahlah, lebih baik saya bersabar dalam kesendirian sambil menunggu waktu yang lebih tepat.
Adapun syaratnya adalah...jreng..jreng..:
1. Harus ikut ngaji dulu, minimal 3 bulan.Pengajiannya harus saya yang rekomendasikan. Darisana akan diilihat progresnya, dia bertahan atau tidak.
2. Harus berhenti merokok, bagi yang merokok.
3. Harus menjaga adab dengan lawan jenis
4. Sholatnya gak boleh tinggal
5. Menerima segala kekurangan diri, termasuk menerima keluarga dengan apa adanya.
Karena pernikahan buatku adalah:
Sebuah bangunan yang baru, yang menaungi siapapun yang ada didalamnya dengan kenyamanan. Pernikahan adalah pertemuan dua orang yang berbeda yang awalnya tak mengenal menjadi satu tim dalam menjalani hidup. Pernikahan adalah ibadah, menggenapkan separuh agama dan membuat bergetar Arasy Allah karenanya. Pernikahan itu begitu khidmat, penuh doa melangit dan harap yang melingkupi sebuah keluarga yang baru terbentuk.
Aku besar dalam ruang lingkup dakwah, maka juga akan berjalan didalamnya sampai ajal tiba. Banyak amanah yang menanti, dan takkan mengerti seribu alasan yang diberi. Dakwah memang tidak butuh kita, bahkan dia tetap mulia tanpa adanya kita. Namun, kitalah yang membutuhkannya. Kita yang meminta ridho Allah ketika melaluinya.
Dakwah telah membuatku dewasa, mengenal Allah, mengenal saudara, mencintai amanah, dan merasa berarti. Dakwah telah menawarkan madu dunia akhirat yang membuatku candu untuk kembali meneguknya, lagi dan lagi.
Maka akan dengan bangga kukatakan: Aku ingin menikah dijalan dakwah.
Banyak malah yang mencemooh prinsip ku dan mungkin juga sama dengan prisnsip akhwat yang lain. Mereka mungkin lelah meyakinkan, atau mungkin cenderung gerah dengan keakraban beberapa kader lain dalam kesendirian ketimbang cepat-cepat menikah. Beberapa diantaranya mencemooh mengapa kader dakwah suka 'plih-pilh'. Ya iyalah mesti memilih, kan gak mungkin juga menerima semua yang datang tanpa seleksi.
Adapun keinginan tentang pendamping hidup yang harus sama-sama dari kader dakwah juga, dalam hal ini sesama kader PKS. Maka inilah penjelasannya.
Jika kader berkeinginan mendapatkan pasangan hidup seperti itu, maka wajarlah. Mereka tak menikah demi kepentingan pribadi, namun untuk keberlangsungan dakwah. Mereka ingin memperjuangkan dakwah dengan makin kuat ketika telah menikah, karena disokong oleh pasangan hidup yang se'fikiran' dan se-ide. Bayangkan saja akan cacatnya sebuah keluarga jika salah satu pasangannnya tak paham dengan perjalanan dakwah pasangannya, ia tak mengerti tentang betapa pentingnya dakwah dalam hidup seorang kader. Maka bisa dipastikan, keluarga seperti ini akan menghilang dari peredaran dan menjauh dari amanah dakwah.
Lantas, apa tak boleh kader dakwah menikah dengan orang umum?
Jawabannya boleh!
Asalkan sang pendamping tersebut mau ikut bergabung dalam jamaah dakwah, mau ikut liqoat(pengajian) mingguan, ikut setiap kegiatan dakwah, dan aktif berinteraksi dengan kader-kader lain. Banyak juga akhwat yang menikah denga lelaki yang awalnya bukan kader dakwah, tidak dilarang. Namun, diantara mereka tak semuanya bertahan. Bersatatus seorang istri yang harus patuh pada suami, menjadikan mereka terkadang harus berbenturan pendapat dengan suami mereka yang kadang tak mendukung langkah dakwah sang istri. Ah, irohis sekali.
Lalu bagaimana denganku?
Aku tetap berkeinginan menikah dengan kader dakwah, yang bisa bersama berjuang tanpa cacat sebelah dalam pemahaman tentang langkah perjuangan. Yang dengan rela membiarkan istri mengambil bagian dalam agenda dakwah yang memang sibuk ini. Yang dengan rela menyokong istri dalam menguatkan langkah ketika telah mulai lelah dan putus asa. Ah, mungkin mimpi ini terlalu indah.
Namun tak menutup kemungkina, menerima mereka yang awalnya bukan bagian dari kader dakwah. But, harus menetapi syarat yang paling dasar, paling urgent, kalau syarat-syarat ini tak sanggup dipenuhi, maka ya sudahlah, lebih baik saya bersabar dalam kesendirian sambil menunggu waktu yang lebih tepat.
Adapun syaratnya adalah...jreng..jreng..:
1. Harus ikut ngaji dulu, minimal 3 bulan.Pengajiannya harus saya yang rekomendasikan. Darisana akan diilihat progresnya, dia bertahan atau tidak.
2. Harus berhenti merokok, bagi yang merokok.
3. Harus menjaga adab dengan lawan jenis
4. Sholatnya gak boleh tinggal
5. Menerima segala kekurangan diri, termasuk menerima keluarga dengan apa adanya.
Karena pernikahan buatku adalah:
Sebuah bangunan yang baru, yang menaungi siapapun yang ada didalamnya dengan kenyamanan. Pernikahan adalah pertemuan dua orang yang berbeda yang awalnya tak mengenal menjadi satu tim dalam menjalani hidup. Pernikahan adalah ibadah, menggenapkan separuh agama dan membuat bergetar Arasy Allah karenanya. Pernikahan itu begitu khidmat, penuh doa melangit dan harap yang melingkupi sebuah keluarga yang baru terbentuk.
Aku besar dalam ruang lingkup dakwah, maka juga akan berjalan didalamnya sampai ajal tiba. Banyak amanah yang menanti, dan takkan mengerti seribu alasan yang diberi. Dakwah memang tidak butuh kita, bahkan dia tetap mulia tanpa adanya kita. Namun, kitalah yang membutuhkannya. Kita yang meminta ridho Allah ketika melaluinya.
Dakwah telah membuatku dewasa, mengenal Allah, mengenal saudara, mencintai amanah, dan merasa berarti. Dakwah telah menawarkan madu dunia akhirat yang membuatku candu untuk kembali meneguknya, lagi dan lagi.
Maka akan dengan bangga kukatakan: Aku ingin menikah dijalan dakwah.
Subscribe to:
Posts (Atom)
.jpg)



