Thursday, August 8, 2013

Hari Ini Dalam Catatan


Menggelandang sendirian menyusuri Rantauprapat ternyata menyenangkan. Sesekali menilik tempat-tempat sejuk yang bisa dijadikan pemberhentian untuk bisa menghayal tralala dan menuliskannya walau beberapa kata, namun apalah daya tempat yang dimaksud kini mendadak ramai, so...kembalilah mencari naungan yang lain.


Walau katanya lebaran itu identik dengan silaturahmi dan saling mengunjungi tetangga-tetanggi, saudara-saudari dan kerabat-kerabit, ternyata jalanan masih saja padat, tempat makan apalagi, juga pusat perbelanjaan, kalau sudah begini, alamat gak minat untuk menyusup kesana. Dan entah kenapa kali ini keinginan untuk menyendiri demi sebuah inspirasi begitu kebat-kebit mengikuti, sampai tak tenang jika sudah berada dirumah diantara riuh rendah suara keluarga yang kini menjajah seisi rumah.

Disepanjang jalan, segerombolan anak-anak usia SD*kayaknya* dengan pistol mainan ditangan nya tampak gagah mejeng di pinggir jalan. Ada juga yang bergerombol naik becak dengan memamerkan pistol mainannya. Haih, jadi inget kisah masa lalu. Beberapa tahun silam waktu masih akrab dengan anak anak seusia dan masih ingusan, maka tembak-menembak dengan anak-anak dari kampung sebelah adalah moment paling dinanti saat lebaran tiba. Belum lagi kalau sudah main meriam, wuih seru banget dengan suara dentumannya. Dulu belum begitu akrab dengan yang namanya petasan, gak seperti zaman sekarang yang dimana mana suara ledakan mengganggu orang tarawih, gak kreatif banget yak. Beda sama zaman kami dulu yang hanya  tahu waktu kapan main meriam dan kapan harus sholat tarawih plus ngaji sore.

Setelah muter-muter gak tentu arah, sampailah kaki menjejak emperan Lapangan Ika Bina, memesan semangkuk es Jakarta(*kok bukan es Rantauprapat aja ya namanya) dan memulai menyusun deret kata, dimulai dari beranda EfBe ini. Namun ya nasib, di samping saya abang-abang pengunjungnya sedang menghisap rokok, asapnya mengarah kesini. Gak ngerti banget tuh orang di pelototin sejak tadi, ckckckck, masak iya saya harus mengeluarkan jurus nenek sihir bawa sapu lidi sambil marah marah baru dia ngerti. Kalau udah gini, seganteng apapun beliau yang di sebelah saya ini, kalau sudah merokok, alamat kaburlah ia dalam pandangan saya. Jiaah...saya tak suka lah lelaki merokok.

Baiklah, ini hanya pembuka. Saya mau nulis dulu yah.

Bye.

0 comments:

Post a Comment