Sunday, August 4, 2013

KETIKA ENGKAU MENIKAH, WAHAI KADER DAKWAH

KETIKA ENGKAU MENIKAH, WAHAI KADER DAKWAH
Kala sendiri masih menyapa, sosokmu begitu mempesona. Cahaya langit seakan menggantung di raut wajah dan tutur kata, semangat menyala, seperti hendak mengalahkan energi matahari yang berkuasa atas dunia. Ah, sungguh luar biasa. Segala kesibukan kau telan dengan kenikmatan, tak ada waktu yang sia-sia, bahkan mungkin waktu yang disisihkan untuk beristirahat harus rela berbagi dengan kesibukan lain yang datang tanpa kenal lelah.
Lihatlah disekeliling, betapa tatap segala jenis mata memandang dengan khidmat. Mungkin mereka kagum dengan pakaian takwa yang melekat pada raga dan akhlakmu, kagum dengan segudang kegiatan untuk umat yang kau emban, kagum dengan ketaatan yang makin kuat bahkan ketika kesulitan datang mendekat. Atau mungkin ada yang menatap heran, mengapa ada sosok yang begitu menjaga hati dan jiwanya dari pengaruh dunia, heran dengan ke-eksklusiv-an pergaulan yang seakan ingin menjauhi siapapun yang sewaktu-waktu bisa merampas cintanya dari sang Maha cinta, heran dengan kekuatan prinsip yang begitu kuat pada setiap keputusan, termasuk kekuatan prinsip ketika hendak memilih seseorang menjadi pendamping hidupnya. Bisa jadi ada juga yang membenci dan bersikap sinis, menganggap betapa bodohnya orang-orang sepertimu yang tak begitu menikmati dunia sebagaimana mereka yang terlena, mengata-ngatai dengan sumpah serapah ketika mereka merasa tak mampu sepertimu, atau mungkin ketika mereka iri dengan orang-orang yang semakin berpihak dan tertarik pada akhlakmu.
Lalu ketika kau akan menikah, ketika sebuah kabar gembira menyebar secara diam-diam atau terbuka, semua pandangan akan beralih padamu. Mereka akan dengan seksama menanti dan mencari tahu siapa pasanganmu, identitasnya, bahkan menanti untuk diundang dan menikmati suasana pesta walimahan ala kader dakwah. Percayalah, mereka akan membicarakanmu mulai dari mendengar kabar bahagia itu sampai sesudah pesta terjadi, entah itu cerita baik atau tidak sekalipun, yang jelas sosokmu masih menjadi perhatian.
Siapa kini yang duduk mesra disisimu, juga menyita perhatian banyak mata. Apakah ia teman sekufumu sesama penggiat dakwah ataukah yang masih harus dicelupkan kedalam warna warni jalan ini? Siapapun dia mereka hanya menanti satu hal, bagaimana langkahmu sesudah ini? Makin tegap ataukah semakin surut kebelakang, bahkan terhenti tak bernyawa lagi?
Dan setelah itu, sebuah doa mulia kian melangit untukmu, begitu juga dengan harap yang mengiring setiap langkah bahagiamu, dua oraang telah bersatu, semoga langkah memanggul amanah semakin gagah. Adakah kau rasakan itu? Ketika kini telah berdua, bukankah seharusnya semangat dan dukungan bisa makin berlapis? Ketika pendampingmu kini menemani, bukankah seharusnya ada banyak masalah yang kini bisa kau hadapi? Bukankah ketika sekarang kau tak sendiri lagi, seharusnya suaramu makin lantang dalam menyeru kebenaran?
Mari berkaca dari mereka yang membangun dakwah mulai dari pribadi, mencari pasangan, sampai membangun dakwah dalam keluarga kecil mereka. Lihat dan contoh bagaimana mereka mengenyampingkan alasan untuk mencari cela menghindari amanah, mereka makin bersemangat dan semakin mantap dalam kesepakatan menghadapi badai bersama-sama, saling mengingatkan ketika salah satu diantaranya mulai menjauh dan  mengeluh. Adakah itu ada  dalam keluargamu kini?
Atau mungkin ada contoh lain yang menjadi rujukanmu? Pada sosok yang awalnya penggiat dakwah, dan menikah, namun semakin surut cahayanya. Ketika salah satu diantaranya bukannya saling menguatkan amanah, namun malah menyemangati untuk lebih memilih rumah daripada medan dakwah. Satu persatu amanah dihindari dan dilepas, halaqoh pekanan juga dianggap menjadi sebuah kewajiban yang ala kadarnya daripada kena caci, atau hendak menjauh namun takut dikata-katai dan khawatir kena sidang murobbi.  Pada keluarga ini, adakah lagi mereka bangga dengan identitas dakwah yang membesarkan dan membinanya selama ini? Adakah mereka cinta dengan peluh yang menetes dan materi yang tergadai demi membiayai dan bekerja keras demi suksesnya sebuah agenda dakwah?Entahlah, hanya mereka yang tahu. Semoga tak ada kalimat mereka yang memilih untuk berada di belakang layar sebagai penonton dan pemandu sorak daripada berada di garda terdepan dalam menghadapi badai. Karena jika kata itu sudah terlempar, alamat akan benar-benar menyingkirlah ia sebagai sebuah keputusan untuk pensiun dini dan menyerahkan estafet dakwah pada yang lebih muda atau yang masih belum menikah. Memangnya adakah aturan demikian?
Lantas pada engkau yang belum menikah, semoga keinginan mulia itu tetap diijabah Allah dengan sebaik-baiknya jalan. Dan kelak ketika menikah, raga dan semangatmu akan terbarui, langkah akan semakin tegap dan lisan akan semakin lantang mengagungkan kebenaran. Semoga!





0 comments:

Post a Comment