Monday, December 24, 2012

Dia tidak akan kemana-mana...
Hanya sekedar mengeluarkan isi kepala dan hatinya untuk tidak terpendam lama
Takut diri akan menglami sakit yang dalam
Hingga menghilang tanpa jejak...
Pun, kalau harus marah dan berteriak hebat
Dia tak akan kemana-mana, masih diruangan yang sama
Karena cinta telah membesarkannya sampai dimana ia belajar apa itu kecewa
Cukuplah saudara memahami dan membiarkan tingkah gila yang masih lestari

Dia tak akan kemana-mana
Masih menyusun startegi membungkam segala protes itu dengan karya

Diapun masih tetap ada dilingkaran walau wajah mendung menggantung
Bukankah itu lebih baik dari pada manis terlihat, namun seketika menghilang begitu saja?

Masih akan tetap disini, tenang saja kawan...
Jikalau ada terfikir olehmu bahwa kaki akan menjauh
Itu berarti belum ada yang mengenal dengan sebenarnya..

Walaupun sebaiknya, hendaklah ia lebih memahami daripada selalu dipahami

#Jangan ajari dia tentang dakwah, karena dakwah butuh contoh bukan retorika belaka.
#Kalau diri begitu tegasnya berontak, jangan katakan karena ia tidak paham dan karena ego yang berlebihan
#Apakah harus tetap diam mendengarkan, lantas tak boleh menyanggah atau membantah sekedar membela diri barulah dikatakan akhwat yang salihah?
#Dakwah ini mengajarkanku cinta, bukan seperti apa yang kini ada dipandangan, menganggap keputusan pribadi yang diambil menjadi tak penting


Hahahaa...
Inilah gila yang tak perlu lestari...
Karena diri memang bukanlah akhwat sejati seperti saudari kebanyakan
Yang luar biasa legowo di kondisi apapun walau dihantam
Ini cermin, buat memperbaiki diri

Tapi sekali lagi, alangkah baiknya jika yang menyalahkan atau yang disalahkan sama sama mengintropeksi diri.

Sunday, December 23, 2012

Selalu ada bulir bening mengiringinya

Hari minggu yang lalu, seorang keponakan telah lebih dulu menggenapkan separuh agamanya.  Turut bahagia, ketika melihatnya dengan busana putih sederhana duduk manis menanti sumpah janji suami. Lalu, begitu cepat..moment dimana arasy bergetar oleh ijab kabul yang bergema seantero ruangan memenuhi ruang hatiku, sesak.

Selalu saja...
Tangis bahagia itu pecah
Mengiring guncangan arasy yang turut bahagia
Ketika dua insan
Menjadi halal dimata-Nya

Aku juga tak paham, kenapa setiap moment itu tiba, ada tangis bahagia yang tumpah.Untuk mereka yang berbahagia, adalah rasa yang sedemikian hebatnya mengguncang dada. 

Barakallahu adikku...
Mintalah cinta pada-Nya

Dan doakan siapapun yang masih sendiri agar diberi waktu mewujudkannya.

Selamat, shani lestari&irfan

Kosong

Belum berani membuka kuncinya
Karena masih tak sanggup menjaga ruang yang kelak berpenghuni
Pun tak mampu mengangkat wajah padanya
Hingga sampai saat nanti, ada yang berkata dengan ikhlas penuh rindu
" Bagilah bebanmu di pundakku"

Untukmu...
#entah siapa

Friday, December 21, 2012

Bukan meminta karang

Adalah sebuah kewajaran saat mendapati diri dalam keadaan lemah dan hati tak menentu. Ketika memandang sorotan mata hati yang silih berganti berderet-deret memenuhi sesak di dada, berharap  akan selesai hanya dengan satu helaan nafas. Ketika jauh dari mereka para sahabatku, adalah rindu yang begitu mengganggu diri sehingga terkadang memunculkan segala sesak yang awalnya tak nampak menjadi nyata dihadapan mata, duhai rasanya...

Mungkin benar adanya, jika diri yang tampak ceria luar biasa ini terkadang menyimpan sejumlah masalah rumit yang membuat sang pendengar cerita pun tak dapat berkomentar banyak. Ada luka menganga yang tak ingin dibuka lagi, ada jerit tangis yang terkurung pada ruang kedap suara, ada sejumlah bawaan yang kokoh menempel dibahu lemah, ada.........sejumlah cinta-Nya yang hendak diminta bukti melalui semua cerita ini.

Menghadapi semua sendiri tanpa pegangan mesra yang seharusnya merangkul, adalah  fase yang paling berat dikondisi apapun. Aku tak pernah meminta terlahir untuk mewarisi cerita epik yang tak apik, juga harus menanggung yang tak pernah kunikmati semestinya. Namun, ada saja suara yang selalu menjawab semua pertanyaan rancu itu. Aku yang bertanya dan hatiku yang menjawabnya, aku mengeluh dan hatiku yang menguatkannya, aku terjatuh hingga kemudian bengkit sendiri walau dengan lemah meraja. Berari kesimpulannya adalah tidak  ada alasan untuk mengeluh dan menyalahkan siapapun lewat setiap ragam masalah yang pasti berbeda di tiap jiwa.

Menikmati lahir dikeluarga tak utuh adalah jalan cinta-Nya yang berusaha dinikmati dengan segala rasa. Tak pernah menikmati sosok ayah walau ia ada, sebenarnya adalah hukuman yang entah karena apa harus dialami seorang anak kecil yang tak tahu apa-apa. Juga sama halnya, ketika harus berpisah dengan ibu diusia 7 tahun dan baru bertemu lagi ketika diri telah melewati masa 19 tahun kemudian, adalah cerita panjang yang mungkin hanya enak dinikmati pembaca cengeng yang bersedia mendengar kisah klise ini.

Hanya sosok seorang kakek yang kini tua renta dengan segala sisa ceritanya lah yang setia menemani langkah yang harus terseok tanpa teman ini. Juga beban hidup yang terpanggul di pundak lemah, yang menemani isak di tengah malam ketika menumpahkan segala beban pada sang pemecah masalah. Mungkin moment itulah yang paling indah bagi jiwa sunyi, ketika bercengkrama pada-Nya lewat semua kisah cinderella ini.

Bukan membiasakan mengeluh, sekedar menorehkan kilasan sedikit dari sekian cerita itu adalah sebuah proses memberi teman hati untuk berbicara walau hanya dengan deretan huruf yang membingungkan. Hanya saja ketika bahu ini nyeri dengan sejumlah beban, bolehkah aku sedikit menoleh kepada siapa saja yang ada untuk membantuku menurunkan beban yang terpanggul, agar diri bisa beristirahat sejenak berharap semuanya akan baik-baik saja dengan deretan waktu yang panjang. Ketika semuanya telah kembali normal, maka lamgkah dengan bahu penuh bawaan akan kembali melakukan perjalanan panjang tanpa ujung.

Setidaknya, membiarkan buliran bening itu mengalir adalah syurga yang kuciptakan sendiri untuk menyejukkan telaga yang mungkin kering.
Juga berharap, ada yang dengan suka rela menawarkan bahunya untuk berbagi bawaan. Ah, tapi itu takkan pernah kuhayalkan, karena kekasihku jauh lebih bisa meringankan beban ini walau tanpa wujud raga. Cukuplah DIA saja...

Bukan meminta menjadi karang di tengah samudra-Mu
Ketika setiap teriakan lautan menjadi teman bercengkrama setiap masa

Namun, biarkan jiwa ini menjadi ritmik rindu bagi pertemuan syahdu mereka
Tanpa kesah 
Tanpa lara




Wednesday, December 12, 2012

# Klasik



Aku ingin mengenalkanmu pada langit
Pada-Nya aku akan memintakan dunia tanpa payah
Disana ada tempat istirahat paling nyata
Karena sepanjang hidupmu adalah abdi pada janji

Aku ingin mengenalkanmu pada langit
Yang menawanku pada setiap rapal doa

Ku tahu di  raga lelahmu ada sepucuk embun cinta yang merunduk malu pada tanah
Mungkin, bening sempurna itulah  yang selalu terjaga dalam nyala ikhlas untuk hadir dan menghilang tanpa jejak kata

Aku selalu ingin mengenalkanmu pada langit




Tuesday, December 11, 2012

# Ritmik



Coba dengarkan kidung yang berlagu sore ini, ada syair bernama rindu yang dia bisikkan sambil berlalu.

Lalu meninggalkan bekas basah cinta yang mengurai janji untuk bertemu lagi esok hari. 

Sunday, December 9, 2012

Dalam Saung Sederhana Bernama Teduh

Yang kulakukan hanya menatap sendu setiap mata sahabatku. Sama halnya dengan cerita ringan yang mengalir di sisi goyangan lidah. Hari ini menunaikan janji hati untuk mempertemukan jalinan kisah yang selalu mewujud rindu,  berempat mengelilingi meja dengan luapan rasa tanpa raga.


Bukannya sekedar  mencari tempat untuk hanya  memanjakan mata dengan hidangan sesuai selera, pilihan tempat  adalah alasan membuat kebersamaan kian terbarui bersama kunjungan asing kali ini. Pilihan tema yang unik ternyata, baru kusadari bahwa  rindang alam ini yang memaksa hati untuk jujur mengungkap desahnya  dihadapan semua mata cinta sahabatku.

Aliran energi yang keluar dari nasehat terhadap pilihan dan keyakinan-yang menjadi tema kali ini-ternyata mujarab. Dari seorang sahabatku  yang punya segudang ilmu dan pengalaman ini lah, pencerahan itu datang menyongsong sore yang kian temaram.  Begitu bijaksananya....



Dalam saung sederhana bernama teduh...
Setiap lantunan desir angin yang menggoyangkan dahan sawit yang membentang dihadapan, mengusik sisi diksi yang menyusup ruang tanpa nama. Adalah sebuah kebisuan yang menghantam saat riuh rendah suara tenggelam dalam temaramnya senja yang mengejar.

Dalam saung sederhana bernama teduh...
Sebenarnya waktu kian berlari cepat memaksa berpisah, namun bukankah ia adalah niscaya? Hingga tak satupun desir angin itu mengabarkan setuju pada jejak menjauh.

Dalam saung sederhana bernama teduh...
Kutemukan rindang di tatap matamu, maka jangan salahkan jika aku memendam rindu padamu, selalu....

* Terimakasih, ketika cinta terselip dalam sebuah saku rindumu.

Saturday, December 8, 2012

Secangkir Pagi di Hangatnya Kopi

Entah kenapa tak seperti biasa...
Menyandingkan  secangkir kopi hangat yang masih mengepul di meja kerja
Menikmati sendu pagi disisi mentari yang menemani hati yang tertatih
Aku lupa, kapan tepatnya aku menyapa hari secerah ini
Hari libur yang sebenar-benarnya libur. Menemani kakek, hanya berdua dalam memperbincangkan kicau pagi yang menelisik. Ya, aku lupa kapan tepatnya  menikmati pagi dengan sebenar-benarnya hati. Beberapa pekan terakhir, waktu seakan mengejar dan menghentikan kata'istirahat' dalam kamus hari. Mulai dari kuliah, organisasi dan acara-acara yang selalu menggunakan hari minggu sebagai pilihan. Namun, tetap menikmati kenikmatan sibuk itu sebagai anugrah terindah yang kujalani dengan cinta. Aku mencintai jalan yang aku pilih, sangat bahagia dalam langkah yang terkadang jatuh tersungkur menyusurinya.

Alhamdulillah...
All praises to Allah..


Friday, December 7, 2012

Tentang Cintaku dan Mu..




Mulai memunguti remah-remah yang tebar di lantai hati
Meringkuk di sudut paling sudut
Dan hening menatap tangan bergetar yang menampung serpihan
Kehilangan menyusup perlahan


Senyum yang memaksa terkulum
Sekedar menutup detak nadi yang seakan vakum
Robbi, aku merindukan serpihan cinta yang hancur itu

# Adalah hujan yang membuat serpihan itu semakin hanyut, yang membawa arus deras tanpa prediksi. Di sebelah jendela tempatku mengintip aku paham ada syair titipanMu untuk menghibur, yang melukis diksi menjadi puisi paling deklamasi dihatiku. 

# Untuk-Mu yang membawa semua bilik hati ini pergi , masih bolehkah aku meminta ruang dalam bilik itu hanya berdua dengan-Mu lagi?

Hujan


Sepagi ini aku masih menemukan hujamannya
Seakan tak ingin berpisah dengan raganya
Biarlah, aku menyusupkan sejuknya untuk nanti
Ketika aku mencapai gersang yang menguliti




Tentang Kakek




{ Aku dan Senjanya }

Mungkin hanya hatiku yang selalu paham kemana arah mataku menahan derainya. Dengan tertunduk, menghindari tatapan sang mata coklat yang mengikuti langkah ku mengitari seisi rumah. Separuh hari yang kuhabiskan di luar s
ana adalah penantiannya, berharap sesosok teman yang hadir walaupun dalam diam.

Selalu, ketika mataku mencari-cari kehadirannya saat langkah pertama memasuki pintu rumah dan kemudian menemukannya sedang berbaring beralaskan tikar. Entahlah, walau aku datang dalam diam, dia selalu tahu kehadiran jasad ini. Seketika bangkit ketika aku mengintip dari balik pintu kamar, seolah penantian yang dialaminya telah berakhir seketika.

Bertemu dengannya adalah seperti menemukan sepotong hati yang tertinggal. Biarlah, aku ingin mengeja cinta lewat tatapannya, lewat kecupan di punggung tangannya yang keriput, lewat pijatan lembut di tubuh ringkihnya, lewat kenikmatan mendengar semua keluh kesah dan amarahnya.

Syahdu..
Ketika duduk disisinya
Berdialog dalam diam dan saling mengamati langit-langit hati
Menyadari bahwa sosok tua itu adalah cinta dan amanah hidupku

Ketika sendiri adalah hari yang panjang
Menjadi bintang yang selalu muncul ketika matahari tenggelam adalah cita
Menikmati senja dalam cahaya yang memudar
Dan menyadari keindahan ketika matahari meninggalkannya begitu saja

Senja adalah niscaya, namun teman mengarungi senja adalah anugrah

Sekali lagi, aku bukanlah anugrah hanya belajar mencintai senja.

Dijalan Dakwah Aku Menikah





# Moga gak ada yang koment macem-macem :-)
# Belum baca bukunya, adakah yang bersedia meminjamkan? :-D
# Cerita ini hanya curhatan semata, jadi jika ada nama, tempat atau kejadian yang sama, maka pasti ada unsu

r kesengajaan di dalamnya :-)


*********************



Siang itu di lingkaran penuh cahaya, ketika saling memberikan kabar masing-masing, seorang ummahat bertutur tentang keadaannya.
" Alhamdulillah sekarang ana sudah bisa ikhlas dengan kesibukan suami, malah sudah jarang menerornya dengan sms atau telfon kalau dia lama pulang. Bahkan, sekarang suamiku malah bertanya-tanya dengan perubahanku akhir-akhir ini. Begitulah, ternyata ikhlas itu lebih indah "
Kami, yang kebanyakan masih belum menikah hanya tersenyum senang mendengarnya. Berusaha memahami hatinya, walau tak bisa memastikan rasanya. Karena luar biasanya perjuangan sang istri memahami dan berdamai dengan kesibukan sang suami yang merangkap sebagai PNS + Kader dakwah aktif yang punya amanah dimana-mana. 



Masih kuingat perbincangan kami beberapa waktu sebelum kabar bahagia itu, dengan kebutaanku dan teman-teman pada masalah rumah tangga, terjadi perbincangan hangat
" Kakak harus ngerti dong kalau suami kakak itu kader dakwah yang tenaga dan fikirannya sangat dibutuhkan? kakak kan harus bangga punya suami seperti itu?"



" Kalian kan gak tahu, bisa ngomong gitu karena belum mengalami sendiri. Dulu waktu kakak seperti kalian juga bs berkata seperti ini, tapi setelah menikah dan mengalami sendiri, sangat sulit loh ternyata. Beda ceritanya kalau kita ada di posisi istri yang kadang harus sering sendiri, sedang suami kesana-kemari untuk syuro ini itu, acara ini itu, belum lagi kerja setiap hari.....lalu waktu untukku kapan? ketemu cuma pas malam, itupun dalam keadaan lelah " Wajahnya sayu kala menceritakannya, mungkin sesendu hatinya kala itu.



******************************



Sebuah kabar yang menyenangkan kala mendengar satu persatu saudara saudariku menikah. Layaknya satu tubuh, bahagianya adalah senyum manis di wajah ini. Begitupun kala mereka memasuki kehidupan baru, apalagi jika mereka menikah dengan sesama teman seperjuangan, rasanya " Sesuatu" banget. Berharap keluarganya menjadi roda penggerak dakwah yang makin kencang berputar, menggilas rasa malas dan menggerakkan mesin jihad. Dan harapan itu wajar adanya...



Tapi...
Begitulah kita, sang jamaah manusia. Banyak fenomena yang menjadi gambaran untuk menjadi pelajaran bersama. Yang menikah dengan sesama aktivis tarbiyah juga punya serial yang berbeda. Ada yang tak lagi muncul ke permukaan, padahal kala keduanya masih belum menikah, mereka punya jam terbang yang lumayan. 

Ada juga yang aktif, tapi suami atau istrinya malah gak terima, merasa di nomor sekiankan, merasa cemburu kenapa sang suami/ istri yang lebih memperhatikan amanah di luar daripada sang pendamping hidupnya sendiri, bahkan tak jarang timbul cek-cok antara mereka. Inilah realitanya...


Tapi diluar dari semua fenomena itu, tetap saja kriteria sang pendamping hidup buat sang kader tarbyah tak berubah. Walau tak jarang, ada yang memilih jalur yang lain, itu pilihan dan karena mereka mampu menanggung segala resikonya. Karena kriteria paling dasar ini adalah harapan dan cita-cita bersama yang bukan mementingkan hidup sendiri, karena cita-cita kedepan pada dakwah ini akan indah bila dilalui bersama dalam bingkai rumah tangga dengan kondisi apapun didalamnya.



Terakhir...adalah tekad dan harapan yang terpatri didalam hati yang tak mungkin di salahkan atau di perdebatkan. Kala banyak laki-laki atau perempuan yang harus kecewa kala cintanya tak bersambut. Karena kriteria dasar itu tak terpenuhi, tidak juga bisa di salahkan bila mereka ( kader tarbyah) masih berharap banyak kiranya Allah mengijabah kriteria dasar itu




Selalu Embun

Entah kenapa selain hujan yang deras menghujam, kali ini aku begitu merindukan embun.
Dan sepagi ini  kutemukan rintiknya telah menjadi cerita sepanjang malam.
 Aku terperangah menyaksikan embun yang  berkolaborasi dengan butiran bening yang lain, yang akan menambah syahdu pertemuan.

Aku juga tak paham
Bila rasa ini kian menyelinap dalam sekat yang hangat
Kian menyusup raga yang meminta suaka
Untuk sekedar mengemis cinta-Nya

Sekedar memindahkan cerita




# Hari ini, dalam catatan#
18 november 2012

Ada rasa tak biasa kala memasuki pintu dengan iringan tatap rindu itu, ku tahu dia menanti sejak pagi ketika kala pertama aku mengecup punggung tangannya untuk meminta restu. Andaikan kau tahu betapa aku ingin mencium kakiknya seraya menghujaninya dengan bulir bening, yang menguap di benakku sejak menemukan hadirnya duduk lesu di teras rumah tanpa baju.

Sejak pagi, kal
a matahari baru berkenalan dengan embun yang masih menggantung, aku tlah bersiap pergi. Ini hari libur, aku tahu itu. Tapi mungkin kali ini tak ada kata libur buatku, ini minggu yang penting untukku menyelesaikan laporan ke dosen. Tapi...entah kenapa pagi ini aku harus terlebih dahulu mengusap genangan air mata yang tumpah kala telinga menangkap kata-kata curhatnya untuk melepaskan kepergianku. Sungguh hatiku tak enak pagi tadi. Inginku menemani sendirinya sampai nanti, sampai ia tertawa lepas dengan cerita yang kadang hanya itu itu saja, bahkan harus menahan kesal di tanya hal yang sama setiap menit. Apapun itu...

Hal itulah yang membuat pagiku tak nyaman, berada di ruang kelas tutorial dengan sama sekali tak konsentrasi menangkap keterangan dosen untuk menuntaskan laporan PKM. Dalam serbuan gelisah itu, membuat keputusan untuk meninggalkan kelas adalah satu-satunya jalan. Begitulah, untuk kesekian kali aku mengambil keputusan tak layak, dengan meninggalkan kelas seenaknya sendiri tanpa izin.

Dan entah kenapa, mengikuti kata hati. Menjenguknya sebentar seraya mengantarkan makan siang, memastikan suasana hatiku kembali ceria dengan hanya menatap mata coklatnya saja.

Yang jelas, hatiku selalu tertinggal disisinya.

# Hari ini, dalam catatan #

(Part 2)

Memilih menyibukkan diri ke markas dakwah, mendamaikan hati dengan bergabung pada para mujahidah dakwah yang sedang luar biasa sibuk menyiapkan segala keperluan acara. Hari ini, tanggal 18 november 201
2 diselenggarakan seminar kecantikan dengan tema " Muslimah Idaman-Cantik luar dalam" dengan pembicara : dr. Yeva Erince Yusuf dan Ibu Sutias Gatot Pujo Nugroho yang diadakan oleh BIDPUAN( Bidang Perempuan) DPD PKS.

persiapan yang serba mendadak, bahkan malam sebelumnya kami harus pulang larut malam untuk berbenah. Ditambah rangkaian rapat wajihah pada waktu yang sama, manambah cita rasa lelah, sungguh malam minggu yang panjang dan padat. Tapi itulah cinta, yang tak memandang apapun sebagai penghalang, hingga menyerahkan segala daya dalam kobaran usaha untuk berada disisinya.
 

Lelah sedikit terbayar dengan peserta yang membludak, hingga mengharuskan mendatangkan kursi cadangan. Begitu juga antusiasme peserta yang hadir, membuat suara riuh memenuhi aula DPD PKS. Rangkaian uraian materi "cantik" dari sang dokter, mengarahkan semua mata pada sang pembicara. Dalam segala sisi wanita selalu ingin cantik, dan selalu saja tips untuk cantik adalah hal yang diburu sepanjang waktu.
 

Tak lama setelah materi dari dr. Yeva Erince Yusuf tertunai, Aula DPD PKS menjadi sangat hangat dengan kunjungan Ibu Sutias Handayani Gatot Pujo Nugroho yang sekaligus menjadi pembicara kedua. Kebersehajaan beliau begitu terasa dengan salam hangat dan senyum tulus kala menyambut setiap tangan yang menjulur padanya. Tak ada kesan glamour dan angkuh, menjauhkan stigma negative tentang seorang istri gubernur yang punya kehidupan mewah.

Runut cerita dan materi " cantik" dari beliau juga mewarnai acara, sebagai seorang istri Gubernur tentunya beliau punya segudang pengalaman menjadi seorang muslimah yang tampil cantik "luar-dalam". Mengungkap sisi iman sebagai cantik dari dalam seorang muslimah, dan merawat diri dengan alami secara fisik dengan aman melalui produk-produk kosmetik yang halal.

Di selingi dengan penampilan nasyid dari Rohis SMA 1 Bila Hulu, para pemuda yang luar biasa berdakwah dengan lantunan syair yang mengingatkan diri pada ilahi. Tiga penampilan mereka cukup memberi riuh tepuk tangan yang memenuhi seantero ruangan. Begitu juga dengan para pemateri yang sempat bertegur sapa dengan mereka, mungkin mengurai penasaran dengan penampian atraktif nan memukau.

Akhirnya dalam balutan hangat sang bayu, acara ditutup dengan indah. Menutup dengan foto bersama dan saling berjabat erat.
 

Hari yang lelah..
takkan bertahan tanpa sulutan iman

# Hari ini, dalam catatan #

( Part 3)

Menunaikan janji, setelah rencana yang tertunda. Berempat memadati meja segi empat dengan balutan lelah di wajah. Sang tokoh utama terlihat ceria, dengan balutan jilbab putih nan anggun. Dari sanalah,
 kami memulai deretan kidung pembicaraan yang tanpa arah, mencoba mencari kembali suasana hati tanpa kesah.

Ceria, dengan tawa menghias setiap inchi wajah. Di sebuah pusat perbelanjaan yang menjadi tempat berkumpul ini, setidaknya ada segumpal rindu di bilik hati. Begitulah, cerita pun mengalir dengan sendirinya, tentang dakwah, rindu, fenomena futur, bahkan sampai pada hal yang menarik untuk menjadi pembahasan sore ini, pernikahan.


" Bagaimana sebenarnya rasa mantap untuk menerima seorang ikhwan menjadi suami kita?"

" Ya. kalau saya berfikirnya begini: Apakah aku mau menerimanya sebagai seseorang yang menjadi pemimpin di kehidupanku? Misalkan, aku sangat menyukai minum es. Tapi jika suatu hari aku dilarangnya minum es, apakh aku mau mengikutinya dengan sepenuh hati? apakah aku mau mentaati seseorang yang jika suatu saat mungkin takkan mau menuruti jika kita yang melarangnya? Apakah aku mau mengikuti orang yang pasti suatu saat akan membuatku kesal? Pun, apakah kita akan sekedar mengikuti apa yang dia larang, atau melakukan yang lebih dari itu?"
 

" Waaah....jawaban yang luar biasa"

" yaaa itu dia...bagaimanapun dialah yang akan menjadi pengambilan keputusan tertinggi di kehidupan kita, yang memindahkan syurga yang awalnya di bawah telapak kaki ibu kini beralih kepada suami kita, andaikan suatu saat kita meninggal dalam keadaan sedang durhaka pada suami, akan kemanakah tempat kita? neraka? "

Penejelasan dan penuturan kisah yang runut darinya sungguh membuat mata kami bertiga berbinar dan menggariskan pesan baru pada kalbu. Mulai belajar jika kelak hal itu terjadi kehidupan nyata.
 

Pertemua yang singkat, ketika rona senja mulai mengabarkan sore yang menua.
Lalu, terlintas sebuah mahar cinta yang mencoba dipersiapkan untuk nanti.

Terimakasih untuk taujihnya...
AYu Pucuk


# 17 November 2012

Alhamduliilah....

Setelah melalui persiapan dadakan sampai malam hari, dan jumlah guru yang minim karena tersedot untuk mengikuti lomba di Medan, akhirnya kunjungan istri Gubernur Sumatra Utara ke TK Robbani berakhir manis.

2 Kotak besar buku-buku, Lusinan VCD, Makanan tambahan untuk anak serta sejumlah uang, diserahkan langsung oleh Ibu Sutias Handayani kepada pihak sekolah. Dan antusias anak-a
nak yang begitu bersemangat mendapat kunjungan dari tamu yang luar biasa ini menjadikan pemandangan yang menarik sepanjang acara. 

Indahnya...
Menjadi telaga dalam gurun
Seketika bernaung segala hidup
Yang berdetak dalam ruang nadi

Terimakasih...
Dalam untaian syahdu rindu
Ketika mengeja deretan aksara
Yang beriring di depanku

Special moment @school (Alhamdulillah menjadi juara 1 dalam rangkaian lomba menulis di acara JSIT(Jaringan Sekolah Islam Terpadu) Medan)


BAYU YANG MENGUKIR CINTA DI LANGIT KISAHKU

Aku menikmati tatapan tajam itu, bagai elang yang gagah membentang di cakrawala. Saat menyadari akan malaikat kecil yang begitu sempurna menjelma dalam bentuk nyata, aku tak melewatkan kesempatan emas untuk menelisik ruang hatinya yang selalu membuatku punya seribu satu tanya.  Pagi yang cerah itu, dibawah belaian hangat matahari yang perlahan mengusir embun di pucuk dedaun, aku mencoba menghadapinya sendiri, diantara riuh suara anak-anak yang rapi berbaris di halaman sekolah untuk memulai rutinitas berdoa sebelum kelas dimulai.
“Kenapa bang Bayu main sendirian?” Tanyaku membuka pembicaraan, dia mengayunkan sekuat tenaga ayunan yang dia mainkan. Aku mencoba menahan laju gerak ayunan  secara perlahan, khawatir dia terpental ketanah jika tak berpegangan erat.
Tapi aku tak mendapatkan sambutan baik, cerita yang sering kudengar kala itu dari beberapa rekan guru tentang sikapnya yang tempramental dan suka mengeluarkan kata-kata yang tidak baik, akhirnya kini  kuhadapi sendiri. Bayu, seorang anak umur 4 tahun kini berubah menjadi sosok yang berbeda dari umurnya. Bahkan semburan ludah ia hujani ke arahku, mungkin hendak menyuruhku pergi kala itu.
Bayu kecilku segera kurengkuh dalam pelukan, membawanya masuk ke dalam kelas untuk berbicara berdua lewat tatapan hati. Dalam rengkuhanku, ia meronta sekuat tenaga untuk melepaskan diri, namun gagal. Harapanku hanya satu, bisa menatap mata elangnya dari dekat tanpa sekat dan bisa meminta hatinya untuk berbincang walau sejenak. Aku menyayanginya, dan selalu ingin memberikan yang terbaik buat anak-anak ini termasuk untuknya.
Didalam kelas kami saling berhadapan, sekali lagi aku masih menikmati segala tumpahan amarahnya. Sejenak , aku mencoba mencari tatap matanya untuk kuselami dengan segala keterbatasanku. Beberapa kalimat nasehat coba kuhaturkan padanya, setidaknya dia tahu maksud hatiku membawanya menjauhi keramaian diluar sana.
“ Bang Bayu sebenarnya soleh sekali loh, hanya saja terkadang suka digoda syaitan makanya Bayu jadi suka marah-marah dan jadi suka mukulin teman-teman dan Bu Guru. Hayo…Bayu mau jadi temennya syaitan? Tidak kan? Kan lebih baik kita masuk syurga, kalau Bayu sholeh ibu yakin malaikat Ridwan pasti mau memasukkan Bayu ke syurga. Di syurga nanti Bayu bisa meminta apa saja yang Bayu inginkan, tempatnya juga sangaaaaaat indaaah…..” Panjang lebar aku bercerita dihadapannya tentang syurga,tentang teman-teman, tentang orang tua dan tentang guru. Mencoba meminta sedikit ruang dihatinya untuk cerita-cerita itu. Sekali lagi, aku suka tatapan elangnya yang menatapku tajam dan tak perduli. Namun aku yakin, dibalik semua makian dan perlawanannya dengan melemparkan apa saja yang ada didekatnya kepadaku, dia masih mendengar cerita dan ungkapan cinta yang kugelar bersama terik surya yang bercengkrama dengan bumi siang itu. Aku yakin Allah selalu bersama  niat baik.
Terakhir, aku melihat butiran bening menggenang di sudut matanya. Perlahan mengalir dengan sendirinya tanpa bisa dibendung. Aku tak tahu apakah itu air mata penyesalan atau malah ketakutan, tapi yang jelas sorot matanya berubah, menjadi lebih teduh mengalahkan amarah yang awalnya merajai wajahnya. Kini, aku menyukai caranya menutup kisah.
**********************************
Setelah pertemuan 4 mata itu Bayu kecilku berubah. Ternyata, pembicaraan dari hati ke hati itu bisa meninggalkan bekas di benaknya. Perlahan sikapnya berubah, lebih bisa diarahkan dan cepat mengakui kesalahan dengan meminta maaf. Yang tak berubah hanya satu, tatapan garang sang elang yang tajam itu, mengingatkanku pada jiwa petualang yang aktif dan selalu ingin tahu. Begitulah Bayu, yang menorehkan cinta di langit  nan luas.
Ternyata tak ada salahnya membicarakan beberapa hal kepada anak, mencoba curhat dengannya walaupun seolah dia tak mengerti. Setidaknya, walau ia terbatas untuk mengerti kata-kata kita, namun tautan hati takkan ada yang membatasi. La tahzan, Allah selalu bersama niat baik kita.

Mereka memang tak mengerti bahasa lisan
Namun memahami luapan cinta lewat syahdu tatapanmu
Bahasakan cinta itu lewat doa kalam
Yang menghujani hari lelahmu dengan selangit kekuatan

Ingin membahasakan kasih dalam wujud nyata
Ketika tersadar  bahwa diri hanya hamba yang selalu mengemis cinta
Pada-Nya tangan tertengadah dalam lantunan syahdu berbentuk doa
Robbi, kuatkan pundakku memanggul amanah

Rinai rindu yang menyesak hingga buncah pada bulir bening di sudut mata
Kian mengalir bak ritmit serupa kidung
Berlagu dalam tatap sendu
Terus bermain di etalase hatiku
Lalu menyudut dan serupa kabut tipis dalam lelah sang surya
“ Robbi, aku tak punya daya memanggul amanah ini tanpa petunjuk-Mu”





Ini Tentang Kami...



{Hujan, dalam tautan kisah kita}

Ternyata, inilah yang dibawa segerombolan pasukan hitam yang mengiringi perjalanan pulangku tadi.
Seakan tahu mengatur posisinya, mereka bersegera menempatkan diri di wilayah yang akan mereka hujani dengan butiran bening.

Dan hasinya...
Tangan mungilku dengan bebasnya menampung jatuhan air dari atap rumah
Yang mengukir kembali ingatan dengan cita yang terukir dib
awahnya.

Memang, ada kisah yang belum kita wujudkan dengan sebenarnya.
 
Tapi biarlah, dia akan kembali mengurai rindu bertemu
Lewat tautan hati
Lewat butiran debu yang kita hirup sepanjang jalan
Lewat tekad yang terpatri di ujung hati
Lewat perjalanan bersama diatasnya

Sebentar lagi mungkin, hujan ini adalah bukti betapa derasnya doa kita untuk meminta cinta dalam nyata.


Aku ingat kala kaki kita berlarian menghindari rintiknya
Berteduh dalam damainya derap suara hati 
Kita menengadahkan tangan menampung setitik air yang jatuh, menikmati lagu syahdu di hatimu
Rinai bahagia yang terlukis di wajah, membuat mendung itu cerah seketika
Sebenarnya, sederhana saja...
Setiap ritme kala ia datang, adalah kenangan.
Aku juga bukanlah hidup yang kekal
Namun hendak membuat setiap detik cerita kita abadi dalam sejarah cinta

Aku ingat kala kaki kita berlarian menghindari rintiknya
Berteduh dalam damainya derap suara hati
Kita menengadahkan tangan menampung setitik air yang jatuh, menikmati lagu syahdu di hatimu
Rinai bahagia yang terlukis di wajah, membuat mendung itu cerah seketika

Ada yang belum kita wujudkan..
Bersama menerobos hujan dan memadu langkah dibawahnya

*Untuk mereka berdua yang membuat setiap spasinya adalah kata yang mewah untukku



Karena Dakwah Adalah Cinta


Seorang ummahat suatu hari pernah bercerita kepadaku, tentang kisah salah seorang murobbyahnya yang berubah drastis selama tidak bertemu. Jilbab yang dulu lebar menjulur kini menyusut hingga hanya beberapa centi dari lehernya, juga dengan pakaian yang kini tak sempurna menutup aurat.
Saat itu kami hanya terdiam membisu, tak sanggup berkomentar apapun.

Lain lagi dengan romansa seorang saudara di jalan dakwah ini. Ketika ada seorang teman dengan semangat membara berkata “ kalau untuk urusan dakwah, ku acungkan dua jempolku untuknya. Tapi kalau untuk urusan cinta, jempolku kuarahkan kebawah untuknya, payah! bayangkan saja, aktivis dakwah kok malah kayak orang pacaran “
 hanya lantunan istighfar yang kuberikan sebagai komentar, mencoba memahami walau tak mengerti.

Juga ketika sekian kali aku mendengar curhatan seoarang teman tentang seorang saudarinya yang mengenalkannya pada dakwah kini terlihat asing dengan identitas dakwah  yang melekat dulu. Aku mengerti apa yang dia rasakan. Betapa hati seperti teriris sembiluh kala menyaksikan dia yang dulu luar biasa mencotohkan dan menjabarkan dengan semangat menggebu tentang makna dakwah dan aktivitasnnya, kini berubah menjadi sosok yang berbeda…sangat berbeda. Tak perlu menjabarkan apa yang berubah, tapi saat mengenangnya cukuplah buliran bening yang mengendap di sudut mata menjadi saksi hati.
Entahlah, mungkin banyak lagi fenomena yang tumpah di cawan jamaah dakwah ini. Ada yang “berwajah dua”, ada yang larut pada dunia, ada yang tak lagi produktif mengemban amanah dakwah. Ada yang terlempar dan ‘menghilang’, ada yang…..

Lalu aku?

Mencoba melihat diriku didiri mereka. Bukankah saudara kita adalah cerminan diri? Ketika diri bercermin dan melihat bayangan yang muncul di cermin adalah sosok yang jelek dan kurang rapi,lantas kita menghancurkan dan menghardik cermin? Bukankah yang harus diperbaiki itu adalah diri yang bercermin? Bisa jadi ada kewajiban yang belum kita tunaikan, ada hak mereka yang belum kita penuhi.
Dan bukankah aib mereka yang kita tahu bisa jadi belum seberapa dengan aib diri sendiri? Hanya tinggal menunggu waktu kapan Allah mau membukanya di depan mata saudara kita yang lain.
Namun bagiku tetap saja meminta istiqomah itu membersamai langkah, karena sungguh aku tak tahu apa yang terjadi dengan diri yang hina ini. Hanya ingin memantaskan langkah bersama para mujahid dan mujahidah dakwah menuju jannah-Nya, walau merasa diri sangat tak pantas.
Terakhir, bukankah dakwah ini adalah jalan yang telah kau pilih hai kader dakwah? Cinta yang diikrarkan dalam tekadmu dulu adalah nafas itu? Identitas islam yang kau lekatkan dulu adalah piala yang kau junjung dengan bangga dalam setiap kerlingan matamu? Masih adakah ia saat ini?

#Karena dakwah adalah cinta