Friday, December 7, 2012
#
Hari ini, dalam catatan#
18
november 2012
Ada rasa tak biasa kala memasuki pintu dengan iringan tatap rindu itu, ku tahu dia menanti sejak pagi ketika kala pertama aku mengecup punggung tangannya untuk meminta restu. Andaikan kau tahu betapa aku ingin mencium kakiknya seraya menghujaninya dengan bulir bening, yang menguap di benakku sejak menemukan hadirnya duduk lesu di teras rumah tanpa baju.
Sejak pagi, kal
Ada rasa tak biasa kala memasuki pintu dengan iringan tatap rindu itu, ku tahu dia menanti sejak pagi ketika kala pertama aku mengecup punggung tangannya untuk meminta restu. Andaikan kau tahu betapa aku ingin mencium kakiknya seraya menghujaninya dengan bulir bening, yang menguap di benakku sejak menemukan hadirnya duduk lesu di teras rumah tanpa baju.
Sejak pagi, kal
a matahari baru
berkenalan dengan embun yang masih menggantung, aku tlah bersiap pergi. Ini hari
libur, aku tahu itu. Tapi mungkin kali ini tak ada kata libur buatku, ini
minggu yang penting untukku menyelesaikan laporan ke dosen. Tapi...entah kenapa
pagi ini aku harus terlebih dahulu mengusap genangan air mata yang tumpah kala
telinga menangkap kata-kata curhatnya untuk melepaskan kepergianku. Sungguh
hatiku tak enak pagi tadi. Inginku menemani sendirinya sampai nanti, sampai ia
tertawa lepas dengan cerita yang kadang hanya itu itu saja, bahkan harus
menahan kesal di tanya hal yang sama setiap menit. Apapun itu...
Hal itulah yang membuat pagiku tak nyaman, berada di ruang kelas tutorial dengan sama sekali tak konsentrasi menangkap keterangan dosen untuk menuntaskan laporan PKM. Dalam serbuan gelisah itu, membuat keputusan untuk meninggalkan kelas adalah satu-satunya jalan. Begitulah, untuk kesekian kali aku mengambil keputusan tak layak, dengan meninggalkan kelas seenaknya sendiri tanpa izin.
Dan entah kenapa, mengikuti kata hati. Menjenguknya sebentar seraya mengantarkan makan siang, memastikan suasana hatiku kembali ceria dengan hanya menatap mata coklatnya saja.
Yang jelas, hatiku selalu tertinggal disisinya.
Hal itulah yang membuat pagiku tak nyaman, berada di ruang kelas tutorial dengan sama sekali tak konsentrasi menangkap keterangan dosen untuk menuntaskan laporan PKM. Dalam serbuan gelisah itu, membuat keputusan untuk meninggalkan kelas adalah satu-satunya jalan. Begitulah, untuk kesekian kali aku mengambil keputusan tak layak, dengan meninggalkan kelas seenaknya sendiri tanpa izin.
Dan entah kenapa, mengikuti kata hati. Menjenguknya sebentar seraya mengantarkan makan siang, memastikan suasana hatiku kembali ceria dengan hanya menatap mata coklatnya saja.
Yang jelas, hatiku selalu tertinggal disisinya.
#
Hari ini, dalam catatan #
(Part 2)
Memilih menyibukkan diri ke markas dakwah, mendamaikan hati dengan bergabung pada para mujahidah dakwah yang sedang luar biasa sibuk menyiapkan segala keperluan acara. Hari ini, tanggal 18 november 201
(Part 2)
Memilih menyibukkan diri ke markas dakwah, mendamaikan hati dengan bergabung pada para mujahidah dakwah yang sedang luar biasa sibuk menyiapkan segala keperluan acara. Hari ini, tanggal 18 november 201
2
diselenggarakan seminar kecantikan dengan tema " Muslimah Idaman-Cantik
luar dalam" dengan pembicara : dr. Yeva Erince Yusuf dan Ibu Sutias Gatot Pujo Nugroho yang diadakan oleh BIDPUAN(
Bidang Perempuan) DPD PKS.
persiapan yang serba mendadak, bahkan malam sebelumnya kami harus pulang larut malam untuk berbenah. Ditambah rangkaian rapat wajihah pada waktu yang sama, manambah cita rasa lelah, sungguh malam minggu yang panjang dan padat. Tapi itulah cinta, yang tak memandang apapun sebagai penghalang, hingga menyerahkan segala daya dalam kobaran usaha untuk berada disisinya.
Lelah sedikit terbayar dengan peserta yang membludak, hingga mengharuskan mendatangkan kursi cadangan. Begitu juga antusiasme peserta yang hadir, membuat suara riuh memenuhi aula DPD PKS. Rangkaian uraian materi "cantik" dari sang dokter, mengarahkan semua mata pada sang pembicara. Dalam segala sisi wanita selalu ingin cantik, dan selalu saja tips untuk cantik adalah hal yang diburu sepanjang waktu.
Tak lama setelah materi dari dr. Yeva Erince Yusuf tertunai, Aula DPD PKS menjadi sangat hangat dengan kunjungan Ibu Sutias Handayani Gatot Pujo Nugroho yang sekaligus menjadi pembicara kedua. Kebersehajaan beliau begitu terasa dengan salam hangat dan senyum tulus kala menyambut setiap tangan yang menjulur padanya. Tak ada kesan glamour dan angkuh, menjauhkan stigma negative tentang seorang istri gubernur yang punya kehidupan mewah.
Runut cerita dan materi " cantik" dari beliau juga mewarnai acara, sebagai seorang istri Gubernur tentunya beliau punya segudang pengalaman menjadi seorang muslimah yang tampil cantik "luar-dalam". Mengungkap sisi iman sebagai cantik dari dalam seorang muslimah, dan merawat diri dengan alami secara fisik dengan aman melalui produk-produk kosmetik yang halal.
Di selingi dengan penampilan nasyid dari Rohis SMA 1 Bila Hulu, para pemuda yang luar biasa berdakwah dengan lantunan syair yang mengingatkan diri pada ilahi. Tiga penampilan mereka cukup memberi riuh tepuk tangan yang memenuhi seantero ruangan. Begitu juga dengan para pemateri yang sempat bertegur sapa dengan mereka, mungkin mengurai penasaran dengan penampian atraktif nan memukau.
Akhirnya dalam balutan hangat sang bayu, acara ditutup dengan indah. Menutup dengan foto bersama dan saling berjabat erat.
Hari yang lelah..
takkan bertahan tanpa sulutan iman
persiapan yang serba mendadak, bahkan malam sebelumnya kami harus pulang larut malam untuk berbenah. Ditambah rangkaian rapat wajihah pada waktu yang sama, manambah cita rasa lelah, sungguh malam minggu yang panjang dan padat. Tapi itulah cinta, yang tak memandang apapun sebagai penghalang, hingga menyerahkan segala daya dalam kobaran usaha untuk berada disisinya.
Lelah sedikit terbayar dengan peserta yang membludak, hingga mengharuskan mendatangkan kursi cadangan. Begitu juga antusiasme peserta yang hadir, membuat suara riuh memenuhi aula DPD PKS. Rangkaian uraian materi "cantik" dari sang dokter, mengarahkan semua mata pada sang pembicara. Dalam segala sisi wanita selalu ingin cantik, dan selalu saja tips untuk cantik adalah hal yang diburu sepanjang waktu.
Tak lama setelah materi dari dr. Yeva Erince Yusuf tertunai, Aula DPD PKS menjadi sangat hangat dengan kunjungan Ibu Sutias Handayani Gatot Pujo Nugroho yang sekaligus menjadi pembicara kedua. Kebersehajaan beliau begitu terasa dengan salam hangat dan senyum tulus kala menyambut setiap tangan yang menjulur padanya. Tak ada kesan glamour dan angkuh, menjauhkan stigma negative tentang seorang istri gubernur yang punya kehidupan mewah.
Runut cerita dan materi " cantik" dari beliau juga mewarnai acara, sebagai seorang istri Gubernur tentunya beliau punya segudang pengalaman menjadi seorang muslimah yang tampil cantik "luar-dalam". Mengungkap sisi iman sebagai cantik dari dalam seorang muslimah, dan merawat diri dengan alami secara fisik dengan aman melalui produk-produk kosmetik yang halal.
Di selingi dengan penampilan nasyid dari Rohis SMA 1 Bila Hulu, para pemuda yang luar biasa berdakwah dengan lantunan syair yang mengingatkan diri pada ilahi. Tiga penampilan mereka cukup memberi riuh tepuk tangan yang memenuhi seantero ruangan. Begitu juga dengan para pemateri yang sempat bertegur sapa dengan mereka, mungkin mengurai penasaran dengan penampian atraktif nan memukau.
Akhirnya dalam balutan hangat sang bayu, acara ditutup dengan indah. Menutup dengan foto bersama dan saling berjabat erat.
Hari yang lelah..
takkan bertahan tanpa sulutan iman
#
Hari ini, dalam catatan #
( Part 3)
Menunaikan janji, setelah rencana yang tertunda. Berempat memadati meja segi empat dengan balutan lelah di wajah. Sang tokoh utama terlihat ceria, dengan balutan jilbab putih nan anggun. Dari sanalah,
( Part 3)
Menunaikan janji, setelah rencana yang tertunda. Berempat memadati meja segi empat dengan balutan lelah di wajah. Sang tokoh utama terlihat ceria, dengan balutan jilbab putih nan anggun. Dari sanalah,
kami memulai deretan kidung
pembicaraan yang tanpa arah, mencoba mencari kembali suasana hati tanpa kesah.
Ceria, dengan tawa menghias setiap inchi wajah. Di sebuah pusat perbelanjaan yang menjadi tempat berkumpul ini, setidaknya ada segumpal rindu di bilik hati. Begitulah, cerita pun mengalir dengan sendirinya, tentang dakwah, rindu, fenomena futur, bahkan sampai pada hal yang menarik untuk menjadi pembahasan sore ini, pernikahan.
" Bagaimana sebenarnya rasa mantap untuk menerima seorang ikhwan menjadi suami kita?"
" Ya. kalau saya berfikirnya begini: Apakah aku mau menerimanya sebagai seseorang yang menjadi pemimpin di kehidupanku? Misalkan, aku sangat menyukai minum es. Tapi jika suatu hari aku dilarangnya minum es, apakh aku mau mengikutinya dengan sepenuh hati? apakah aku mau mentaati seseorang yang jika suatu saat mungkin takkan mau menuruti jika kita yang melarangnya? Apakah aku mau mengikuti orang yang pasti suatu saat akan membuatku kesal? Pun, apakah kita akan sekedar mengikuti apa yang dia larang, atau melakukan yang lebih dari itu?"
" Waaah....jawaban yang luar biasa"
" yaaa itu dia...bagaimanapun dialah yang akan menjadi pengambilan keputusan tertinggi di kehidupan kita, yang memindahkan syurga yang awalnya di bawah telapak kaki ibu kini beralih kepada suami kita, andaikan suatu saat kita meninggal dalam keadaan sedang durhaka pada suami, akan kemanakah tempat kita? neraka? "
Penejelasan dan penuturan kisah yang runut darinya sungguh membuat mata kami bertiga berbinar dan menggariskan pesan baru pada kalbu. Mulai belajar jika kelak hal itu terjadi kehidupan nyata.
Pertemua yang singkat, ketika rona senja mulai mengabarkan sore yang menua.
Lalu, terlintas sebuah mahar cinta yang mencoba dipersiapkan untuk nanti.
Terimakasih untuk taujihnya...AYu Pucuk
Ceria, dengan tawa menghias setiap inchi wajah. Di sebuah pusat perbelanjaan yang menjadi tempat berkumpul ini, setidaknya ada segumpal rindu di bilik hati. Begitulah, cerita pun mengalir dengan sendirinya, tentang dakwah, rindu, fenomena futur, bahkan sampai pada hal yang menarik untuk menjadi pembahasan sore ini, pernikahan.
" Bagaimana sebenarnya rasa mantap untuk menerima seorang ikhwan menjadi suami kita?"
" Ya. kalau saya berfikirnya begini: Apakah aku mau menerimanya sebagai seseorang yang menjadi pemimpin di kehidupanku? Misalkan, aku sangat menyukai minum es. Tapi jika suatu hari aku dilarangnya minum es, apakh aku mau mengikutinya dengan sepenuh hati? apakah aku mau mentaati seseorang yang jika suatu saat mungkin takkan mau menuruti jika kita yang melarangnya? Apakah aku mau mengikuti orang yang pasti suatu saat akan membuatku kesal? Pun, apakah kita akan sekedar mengikuti apa yang dia larang, atau melakukan yang lebih dari itu?"
" Waaah....jawaban yang luar biasa"
" yaaa itu dia...bagaimanapun dialah yang akan menjadi pengambilan keputusan tertinggi di kehidupan kita, yang memindahkan syurga yang awalnya di bawah telapak kaki ibu kini beralih kepada suami kita, andaikan suatu saat kita meninggal dalam keadaan sedang durhaka pada suami, akan kemanakah tempat kita? neraka? "
Penejelasan dan penuturan kisah yang runut darinya sungguh membuat mata kami bertiga berbinar dan menggariskan pesan baru pada kalbu. Mulai belajar jika kelak hal itu terjadi kehidupan nyata.
Pertemua yang singkat, ketika rona senja mulai mengabarkan sore yang menua.
Lalu, terlintas sebuah mahar cinta yang mencoba dipersiapkan untuk nanti.
Terimakasih untuk taujihnya...AYu Pucuk
# 17 November 2012
Alhamduliilah....
Setelah melalui persiapan dadakan sampai malam hari, dan jumlah guru yang minim karena tersedot untuk mengikuti lomba di Medan, akhirnya kunjungan istri Gubernur Sumatra Utara ke TK Robbani berakhir manis.
2 Kotak besar buku-buku, Lusinan VCD, Makanan tambahan untuk anak serta sejumlah uang, diserahkan langsung oleh Ibu Sutias Handayani kepada pihak sekolah. Dan antusias anak-a
Setelah melalui persiapan dadakan sampai malam hari, dan jumlah guru yang minim karena tersedot untuk mengikuti lomba di Medan, akhirnya kunjungan istri Gubernur Sumatra Utara ke TK Robbani berakhir manis.
2 Kotak besar buku-buku, Lusinan VCD, Makanan tambahan untuk anak serta sejumlah uang, diserahkan langsung oleh Ibu Sutias Handayani kepada pihak sekolah. Dan antusias anak-a
nak yang begitu
bersemangat mendapat kunjungan dari tamu yang luar biasa ini menjadikan
pemandangan yang menarik sepanjang acara.
Indahnya...
Menjadi telaga dalam gurun
Seketika bernaung segala hidup
Yang berdetak dalam ruang nadi
Terimakasih...
Dalam untaian syahdu rindu
Ketika mengeja deretan aksara
Yang beriring di depanku
Indahnya...
Menjadi telaga dalam gurun
Seketika bernaung segala hidup
Yang berdetak dalam ruang nadi
Terimakasih...
Dalam untaian syahdu rindu
Ketika mengeja deretan aksara
Yang beriring di depanku
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

0 comments:
Post a Comment