Friday, December 7, 2012

Special moment @school (Alhamdulillah menjadi juara 1 dalam rangkaian lomba menulis di acara JSIT(Jaringan Sekolah Islam Terpadu) Medan)


BAYU YANG MENGUKIR CINTA DI LANGIT KISAHKU

Aku menikmati tatapan tajam itu, bagai elang yang gagah membentang di cakrawala. Saat menyadari akan malaikat kecil yang begitu sempurna menjelma dalam bentuk nyata, aku tak melewatkan kesempatan emas untuk menelisik ruang hatinya yang selalu membuatku punya seribu satu tanya.  Pagi yang cerah itu, dibawah belaian hangat matahari yang perlahan mengusir embun di pucuk dedaun, aku mencoba menghadapinya sendiri, diantara riuh suara anak-anak yang rapi berbaris di halaman sekolah untuk memulai rutinitas berdoa sebelum kelas dimulai.
“Kenapa bang Bayu main sendirian?” Tanyaku membuka pembicaraan, dia mengayunkan sekuat tenaga ayunan yang dia mainkan. Aku mencoba menahan laju gerak ayunan  secara perlahan, khawatir dia terpental ketanah jika tak berpegangan erat.
Tapi aku tak mendapatkan sambutan baik, cerita yang sering kudengar kala itu dari beberapa rekan guru tentang sikapnya yang tempramental dan suka mengeluarkan kata-kata yang tidak baik, akhirnya kini  kuhadapi sendiri. Bayu, seorang anak umur 4 tahun kini berubah menjadi sosok yang berbeda dari umurnya. Bahkan semburan ludah ia hujani ke arahku, mungkin hendak menyuruhku pergi kala itu.
Bayu kecilku segera kurengkuh dalam pelukan, membawanya masuk ke dalam kelas untuk berbicara berdua lewat tatapan hati. Dalam rengkuhanku, ia meronta sekuat tenaga untuk melepaskan diri, namun gagal. Harapanku hanya satu, bisa menatap mata elangnya dari dekat tanpa sekat dan bisa meminta hatinya untuk berbincang walau sejenak. Aku menyayanginya, dan selalu ingin memberikan yang terbaik buat anak-anak ini termasuk untuknya.
Didalam kelas kami saling berhadapan, sekali lagi aku masih menikmati segala tumpahan amarahnya. Sejenak , aku mencoba mencari tatap matanya untuk kuselami dengan segala keterbatasanku. Beberapa kalimat nasehat coba kuhaturkan padanya, setidaknya dia tahu maksud hatiku membawanya menjauhi keramaian diluar sana.
“ Bang Bayu sebenarnya soleh sekali loh, hanya saja terkadang suka digoda syaitan makanya Bayu jadi suka marah-marah dan jadi suka mukulin teman-teman dan Bu Guru. Hayo…Bayu mau jadi temennya syaitan? Tidak kan? Kan lebih baik kita masuk syurga, kalau Bayu sholeh ibu yakin malaikat Ridwan pasti mau memasukkan Bayu ke syurga. Di syurga nanti Bayu bisa meminta apa saja yang Bayu inginkan, tempatnya juga sangaaaaaat indaaah…..” Panjang lebar aku bercerita dihadapannya tentang syurga,tentang teman-teman, tentang orang tua dan tentang guru. Mencoba meminta sedikit ruang dihatinya untuk cerita-cerita itu. Sekali lagi, aku suka tatapan elangnya yang menatapku tajam dan tak perduli. Namun aku yakin, dibalik semua makian dan perlawanannya dengan melemparkan apa saja yang ada didekatnya kepadaku, dia masih mendengar cerita dan ungkapan cinta yang kugelar bersama terik surya yang bercengkrama dengan bumi siang itu. Aku yakin Allah selalu bersama  niat baik.
Terakhir, aku melihat butiran bening menggenang di sudut matanya. Perlahan mengalir dengan sendirinya tanpa bisa dibendung. Aku tak tahu apakah itu air mata penyesalan atau malah ketakutan, tapi yang jelas sorot matanya berubah, menjadi lebih teduh mengalahkan amarah yang awalnya merajai wajahnya. Kini, aku menyukai caranya menutup kisah.
**********************************
Setelah pertemuan 4 mata itu Bayu kecilku berubah. Ternyata, pembicaraan dari hati ke hati itu bisa meninggalkan bekas di benaknya. Perlahan sikapnya berubah, lebih bisa diarahkan dan cepat mengakui kesalahan dengan meminta maaf. Yang tak berubah hanya satu, tatapan garang sang elang yang tajam itu, mengingatkanku pada jiwa petualang yang aktif dan selalu ingin tahu. Begitulah Bayu, yang menorehkan cinta di langit  nan luas.
Ternyata tak ada salahnya membicarakan beberapa hal kepada anak, mencoba curhat dengannya walaupun seolah dia tak mengerti. Setidaknya, walau ia terbatas untuk mengerti kata-kata kita, namun tautan hati takkan ada yang membatasi. La tahzan, Allah selalu bersama niat baik kita.

Mereka memang tak mengerti bahasa lisan
Namun memahami luapan cinta lewat syahdu tatapanmu
Bahasakan cinta itu lewat doa kalam
Yang menghujani hari lelahmu dengan selangit kekuatan

Ingin membahasakan kasih dalam wujud nyata
Ketika tersadar  bahwa diri hanya hamba yang selalu mengemis cinta
Pada-Nya tangan tertengadah dalam lantunan syahdu berbentuk doa
Robbi, kuatkan pundakku memanggul amanah

Rinai rindu yang menyesak hingga buncah pada bulir bening di sudut mata
Kian mengalir bak ritmit serupa kidung
Berlagu dalam tatap sendu
Terus bermain di etalase hatiku
Lalu menyudut dan serupa kabut tipis dalam lelah sang surya
“ Robbi, aku tak punya daya memanggul amanah ini tanpa petunjuk-Mu”





0 comments:

Post a Comment