Friday, December 7, 2012

Dijalan Dakwah Aku Menikah





# Moga gak ada yang koment macem-macem :-)
# Belum baca bukunya, adakah yang bersedia meminjamkan? :-D
# Cerita ini hanya curhatan semata, jadi jika ada nama, tempat atau kejadian yang sama, maka pasti ada unsu

r kesengajaan di dalamnya :-)


*********************



Siang itu di lingkaran penuh cahaya, ketika saling memberikan kabar masing-masing, seorang ummahat bertutur tentang keadaannya.
" Alhamdulillah sekarang ana sudah bisa ikhlas dengan kesibukan suami, malah sudah jarang menerornya dengan sms atau telfon kalau dia lama pulang. Bahkan, sekarang suamiku malah bertanya-tanya dengan perubahanku akhir-akhir ini. Begitulah, ternyata ikhlas itu lebih indah "
Kami, yang kebanyakan masih belum menikah hanya tersenyum senang mendengarnya. Berusaha memahami hatinya, walau tak bisa memastikan rasanya. Karena luar biasanya perjuangan sang istri memahami dan berdamai dengan kesibukan sang suami yang merangkap sebagai PNS + Kader dakwah aktif yang punya amanah dimana-mana. 



Masih kuingat perbincangan kami beberapa waktu sebelum kabar bahagia itu, dengan kebutaanku dan teman-teman pada masalah rumah tangga, terjadi perbincangan hangat
" Kakak harus ngerti dong kalau suami kakak itu kader dakwah yang tenaga dan fikirannya sangat dibutuhkan? kakak kan harus bangga punya suami seperti itu?"



" Kalian kan gak tahu, bisa ngomong gitu karena belum mengalami sendiri. Dulu waktu kakak seperti kalian juga bs berkata seperti ini, tapi setelah menikah dan mengalami sendiri, sangat sulit loh ternyata. Beda ceritanya kalau kita ada di posisi istri yang kadang harus sering sendiri, sedang suami kesana-kemari untuk syuro ini itu, acara ini itu, belum lagi kerja setiap hari.....lalu waktu untukku kapan? ketemu cuma pas malam, itupun dalam keadaan lelah " Wajahnya sayu kala menceritakannya, mungkin sesendu hatinya kala itu.



******************************



Sebuah kabar yang menyenangkan kala mendengar satu persatu saudara saudariku menikah. Layaknya satu tubuh, bahagianya adalah senyum manis di wajah ini. Begitupun kala mereka memasuki kehidupan baru, apalagi jika mereka menikah dengan sesama teman seperjuangan, rasanya " Sesuatu" banget. Berharap keluarganya menjadi roda penggerak dakwah yang makin kencang berputar, menggilas rasa malas dan menggerakkan mesin jihad. Dan harapan itu wajar adanya...



Tapi...
Begitulah kita, sang jamaah manusia. Banyak fenomena yang menjadi gambaran untuk menjadi pelajaran bersama. Yang menikah dengan sesama aktivis tarbiyah juga punya serial yang berbeda. Ada yang tak lagi muncul ke permukaan, padahal kala keduanya masih belum menikah, mereka punya jam terbang yang lumayan. 

Ada juga yang aktif, tapi suami atau istrinya malah gak terima, merasa di nomor sekiankan, merasa cemburu kenapa sang suami/ istri yang lebih memperhatikan amanah di luar daripada sang pendamping hidupnya sendiri, bahkan tak jarang timbul cek-cok antara mereka. Inilah realitanya...


Tapi diluar dari semua fenomena itu, tetap saja kriteria sang pendamping hidup buat sang kader tarbyah tak berubah. Walau tak jarang, ada yang memilih jalur yang lain, itu pilihan dan karena mereka mampu menanggung segala resikonya. Karena kriteria paling dasar ini adalah harapan dan cita-cita bersama yang bukan mementingkan hidup sendiri, karena cita-cita kedepan pada dakwah ini akan indah bila dilalui bersama dalam bingkai rumah tangga dengan kondisi apapun didalamnya.



Terakhir...adalah tekad dan harapan yang terpatri didalam hati yang tak mungkin di salahkan atau di perdebatkan. Kala banyak laki-laki atau perempuan yang harus kecewa kala cintanya tak bersambut. Karena kriteria dasar itu tak terpenuhi, tidak juga bisa di salahkan bila mereka ( kader tarbyah) masih berharap banyak kiranya Allah mengijabah kriteria dasar itu




0 comments:

Post a Comment