Friday, December 7, 2012
{Hujan,
dalam tautan kisah kita}
Ternyata, inilah yang dibawa segerombolan pasukan hitam yang mengiringi perjalanan pulangku tadi.
Seakan tahu mengatur posisinya, mereka bersegera menempatkan diri di wilayah yang akan mereka hujani dengan butiran bening.
Dan hasinya...
Tangan mungilku dengan bebasnya menampung jatuhan air dari atap rumah
Yang mengukir kembali ingatan dengan cita yang terukir dib
Ternyata, inilah yang dibawa segerombolan pasukan hitam yang mengiringi perjalanan pulangku tadi.
Seakan tahu mengatur posisinya, mereka bersegera menempatkan diri di wilayah yang akan mereka hujani dengan butiran bening.
Dan hasinya...
Tangan mungilku dengan bebasnya menampung jatuhan air dari atap rumah
Yang mengukir kembali ingatan dengan cita yang terukir dib
awahnya.
Memang, ada kisah yang belum kita wujudkan dengan sebenarnya.
Tapi biarlah, dia akan kembali mengurai rindu bertemu
Lewat tautan hati
Lewat butiran debu yang kita hirup sepanjang jalan
Lewat tekad yang terpatri di ujung hati
Lewat perjalanan bersama diatasnya
Sebentar lagi mungkin, hujan ini adalah bukti betapa derasnya doa kita untuk meminta cinta dalam nyata.
Memang, ada kisah yang belum kita wujudkan dengan sebenarnya.
Tapi biarlah, dia akan kembali mengurai rindu bertemu
Lewat tautan hati
Lewat butiran debu yang kita hirup sepanjang jalan
Lewat tekad yang terpatri di ujung hati
Lewat perjalanan bersama diatasnya
Sebentar lagi mungkin, hujan ini adalah bukti betapa derasnya doa kita untuk meminta cinta dalam nyata.
Aku ingat kala kaki kita berlarian menghindari
rintiknya
Berteduh dalam damainya derap suara hati
Kita menengadahkan tangan menampung setitik air yang jatuh, menikmati lagu syahdu di hatimu
Rinai bahagia yang terlukis di wajah, membuat mendung itu cerah seketika
Kita menengadahkan tangan menampung setitik air yang jatuh, menikmati lagu syahdu di hatimu
Rinai bahagia yang terlukis di wajah, membuat mendung itu cerah seketika
Sebenarnya,
sederhana saja...
Setiap ritme kala ia datang, adalah kenangan.
Aku juga bukanlah hidup yang kekal
Namun hendak membuat setiap detik cerita kita abadi dalam sejarah cinta
Setiap ritme kala ia datang, adalah kenangan.
Aku juga bukanlah hidup yang kekal
Namun hendak membuat setiap detik cerita kita abadi dalam sejarah cinta
Aku ingat kala kaki kita berlarian menghindari rintiknya
Berteduh dalam damainya derap suara hati
Kita menengadahkan tangan menampung setitik air yang jatuh, menikmati lagu syahdu di hatimu
Rinai bahagia yang terlukis di wajah, membuat mendung itu cerah seketika
Ada yang belum kita wujudkan..
Bersama menerobos hujan dan memadu langkah dibawahnya
*Untuk mereka berdua yang membuat setiap spasinya adalah kata yang mewah untukku
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

0 comments:
Post a Comment