Friday, December 7, 2012

Tentang Kakek




{ Aku dan Senjanya }

Mungkin hanya hatiku yang selalu paham kemana arah mataku menahan derainya. Dengan tertunduk, menghindari tatapan sang mata coklat yang mengikuti langkah ku mengitari seisi rumah. Separuh hari yang kuhabiskan di luar s
ana adalah penantiannya, berharap sesosok teman yang hadir walaupun dalam diam.

Selalu, ketika mataku mencari-cari kehadirannya saat langkah pertama memasuki pintu rumah dan kemudian menemukannya sedang berbaring beralaskan tikar. Entahlah, walau aku datang dalam diam, dia selalu tahu kehadiran jasad ini. Seketika bangkit ketika aku mengintip dari balik pintu kamar, seolah penantian yang dialaminya telah berakhir seketika.

Bertemu dengannya adalah seperti menemukan sepotong hati yang tertinggal. Biarlah, aku ingin mengeja cinta lewat tatapannya, lewat kecupan di punggung tangannya yang keriput, lewat pijatan lembut di tubuh ringkihnya, lewat kenikmatan mendengar semua keluh kesah dan amarahnya.

Syahdu..
Ketika duduk disisinya
Berdialog dalam diam dan saling mengamati langit-langit hati
Menyadari bahwa sosok tua itu adalah cinta dan amanah hidupku

Ketika sendiri adalah hari yang panjang
Menjadi bintang yang selalu muncul ketika matahari tenggelam adalah cita
Menikmati senja dalam cahaya yang memudar
Dan menyadari keindahan ketika matahari meninggalkannya begitu saja

Senja adalah niscaya, namun teman mengarungi senja adalah anugrah

Sekali lagi, aku bukanlah anugrah hanya belajar mencintai senja.

0 comments:

Post a Comment