Friday, December 21, 2012

Bukan meminta karang

Adalah sebuah kewajaran saat mendapati diri dalam keadaan lemah dan hati tak menentu. Ketika memandang sorotan mata hati yang silih berganti berderet-deret memenuhi sesak di dada, berharap  akan selesai hanya dengan satu helaan nafas. Ketika jauh dari mereka para sahabatku, adalah rindu yang begitu mengganggu diri sehingga terkadang memunculkan segala sesak yang awalnya tak nampak menjadi nyata dihadapan mata, duhai rasanya...

Mungkin benar adanya, jika diri yang tampak ceria luar biasa ini terkadang menyimpan sejumlah masalah rumit yang membuat sang pendengar cerita pun tak dapat berkomentar banyak. Ada luka menganga yang tak ingin dibuka lagi, ada jerit tangis yang terkurung pada ruang kedap suara, ada sejumlah bawaan yang kokoh menempel dibahu lemah, ada.........sejumlah cinta-Nya yang hendak diminta bukti melalui semua cerita ini.

Menghadapi semua sendiri tanpa pegangan mesra yang seharusnya merangkul, adalah  fase yang paling berat dikondisi apapun. Aku tak pernah meminta terlahir untuk mewarisi cerita epik yang tak apik, juga harus menanggung yang tak pernah kunikmati semestinya. Namun, ada saja suara yang selalu menjawab semua pertanyaan rancu itu. Aku yang bertanya dan hatiku yang menjawabnya, aku mengeluh dan hatiku yang menguatkannya, aku terjatuh hingga kemudian bengkit sendiri walau dengan lemah meraja. Berari kesimpulannya adalah tidak  ada alasan untuk mengeluh dan menyalahkan siapapun lewat setiap ragam masalah yang pasti berbeda di tiap jiwa.

Menikmati lahir dikeluarga tak utuh adalah jalan cinta-Nya yang berusaha dinikmati dengan segala rasa. Tak pernah menikmati sosok ayah walau ia ada, sebenarnya adalah hukuman yang entah karena apa harus dialami seorang anak kecil yang tak tahu apa-apa. Juga sama halnya, ketika harus berpisah dengan ibu diusia 7 tahun dan baru bertemu lagi ketika diri telah melewati masa 19 tahun kemudian, adalah cerita panjang yang mungkin hanya enak dinikmati pembaca cengeng yang bersedia mendengar kisah klise ini.

Hanya sosok seorang kakek yang kini tua renta dengan segala sisa ceritanya lah yang setia menemani langkah yang harus terseok tanpa teman ini. Juga beban hidup yang terpanggul di pundak lemah, yang menemani isak di tengah malam ketika menumpahkan segala beban pada sang pemecah masalah. Mungkin moment itulah yang paling indah bagi jiwa sunyi, ketika bercengkrama pada-Nya lewat semua kisah cinderella ini.

Bukan membiasakan mengeluh, sekedar menorehkan kilasan sedikit dari sekian cerita itu adalah sebuah proses memberi teman hati untuk berbicara walau hanya dengan deretan huruf yang membingungkan. Hanya saja ketika bahu ini nyeri dengan sejumlah beban, bolehkah aku sedikit menoleh kepada siapa saja yang ada untuk membantuku menurunkan beban yang terpanggul, agar diri bisa beristirahat sejenak berharap semuanya akan baik-baik saja dengan deretan waktu yang panjang. Ketika semuanya telah kembali normal, maka lamgkah dengan bahu penuh bawaan akan kembali melakukan perjalanan panjang tanpa ujung.

Setidaknya, membiarkan buliran bening itu mengalir adalah syurga yang kuciptakan sendiri untuk menyejukkan telaga yang mungkin kering.
Juga berharap, ada yang dengan suka rela menawarkan bahunya untuk berbagi bawaan. Ah, tapi itu takkan pernah kuhayalkan, karena kekasihku jauh lebih bisa meringankan beban ini walau tanpa wujud raga. Cukuplah DIA saja...

Bukan meminta menjadi karang di tengah samudra-Mu
Ketika setiap teriakan lautan menjadi teman bercengkrama setiap masa

Namun, biarkan jiwa ini menjadi ritmik rindu bagi pertemuan syahdu mereka
Tanpa kesah 
Tanpa lara




0 comments:

Post a Comment