Friday, December 13, 2013

Apa Kabar Sahabat Hujan?

Apa kabar dedaun yang menjulang rimbun menarikan tarian angin untuk kita? Adakah kini kau pernah mengintip sebentar saja deru angin yang menghantar kabar pembawa hujan?  Ah, kau pasti tahu betapa tiap dedaun yang gugur ke tanah adalah  cerita tertakdir yang tak pernah ia risaukan, sekalipun ia harus tergolek dan terinjak-injak tak dipedulikan. Lantas, adakah kini kau tahu apa yang kurisaukan? Sekali-kali bukan karena takdir yang kini membuat kita tak lagi duduk bersama dalam menikmati hujan, namun karena aku tak pernah mampu menahan rindu yang kerap merambat di nadi ini.

Mungkin ini hanya aku yang terlalu, dan engkau punya banyak cerita kini. Yang lebih indah dari hanya sekedar mengenang masa lalu yang sama sekali tak penting untukmu.

Tapi kini, tenang saja teman.
Untuk membayar tiap kerinduan itu, tiap rinainya turun, aku akan bersegera menyambutnya.
Menengadakahkan wajah, menampung berkah langit dalam sebuah episod bernama Rindu.






Tuesday, December 3, 2013

SEIKAT RUMPUT BASAH




Aku ingin menghadiahkanmu seikat rumput basah
Yang tadi kurangkai bersama hujan
Kuajak Sang Empunya bercerita
Meminta pandangan yang lebih hening tentang masa depan kita

Hujamannya membutakan netra
Bahkan tak ada sesiapa disana ketika aku meronta

Namun dosakah
Bila seikat rumput basah menjadi suara
Mewakili separuh kewarasan
Ketika terpaku menatapmu


Saturday, November 30, 2013

Ramai Sendiri



Dulu sekali, kerap harapan melangit tinggi dan serta merta membayangkan betapa nikmatnya keramaian. Karena kesendirian buatku saat itu adalah kebosanan yang sama sekali tak berwarna, jemu dan melelahkan hati. Sejak dimana seharusnya raga ini hangat oleh himpitan orang-orang yang seharusnya ada seperti orang kebanyakan, aku  harus merelakan tawaran tanpa pilihan dari sang hakin yang telah memvonis keadaan. Berjalan, walau meraba tak tentu arah.

Namun ternyata ketika harapan itu terwujud sebagian, disanalah hati belajar bahwa ternyata menyesuaikan diri dalam keramaian amatlah sulit, sama seperti dulu ketika usia masih amat dini untuk mengerti apa arti sunyi sendiri. Kini usia sudah amat tua untuk tak terbiasa memaknai setiap peristiwa. Tapi inilah kenyataannya, keramaian tak selamanya menjajikan kebahagiaan dan kehangatan. Malah disana, kita harus lebih menyediakan banyak ruang dan perasaan untuk menghadapi banyak wajah dan tingkah. Ya, inilah resiko dari setiap keadaan. Semua ada plus minusnya, ada fase yang kerap menjanjikan banyak cerita.

Dan ternyata, banyak yang merasa’sendiri’ dalam keramaiannya. Banyak yang menyimpan duka dalam tawanya. Aku melihat itu di banyak mata. Yah, Setiap kondisi memang selalu punya peristiwa.

Memaknai kesendirian adalah sebuah kesyukuran. Jika telah berhasil berdamai dengan keadaan, maka pastilah ia akan menjadi sosok yang lapang hatinya, dan cerdas pemikirannya. Tak semua orang mampu melewati kesendirian dengan gagah, tetap berjalan ketujuan bersama seulas senyum tulus yang ia persembahkan buat orang-orang yang ia temui disepanjang jalan, tidak semua.

Kesendirian adalah fase menjernihkan hati dan fikiran. Hikmah dari setiap keadaan tak pernah didapatkan buat mereka yang sempit hatinya dan pendek akalnya. Banyak manusia yang menjalani hidup dengan memprihatinkan bahkan mengakhiri hidup secara tragis. Dan itu semua terjadi ketika hati tak pernah berdamai dengan kenyataan, menjadikan keputusan untuk ‘kalah’ sebagai satu-satunya jalan.

Kini, aku sangat tahu. Jalan yang ditunjukkan sang hakim dengan kesendirian itu ternyata memberikan kehidupan baru, seakan hidup kembali hidup begitu ia memaknai setiap kejadian. Banyak yang hendak kesendirian tunjukkan pada kita, tentang apa saja yang tak dapat kita nikmati ketika raga terbuai dengan keramaian. Sementara kesendirian amat sangat dapat memaknai keramaian sebagai sebuah anugrah yang tak boleh di sia-siakan.




Meraih Langit di Genangan Hujan

Amat sederhana, ketika sewaktu kecil dulu menghayalkan sesuatu akan menjadi apa kelak jika usia telah merambat dewasa. Deretan nomor pada tiap pinta disusun apik. Lantas kemudian di waktu yang lain, hidup telah memaksanya 'bertahan' dari seruan kekalahan. Walau ia tak tahu persis, apa yang sedang ia pertahankan.

Dan fase-fase yang tiap tapaknya mencipta jejak, adalah cara untuk menengok kebelakang ketika nanti diri mencari jalan pulang. Pergantian waktu yang menggilas akal dan menguras imunitas jiwa, seharusnya dapat menjadi penanda bahwa ada banyak hal yang akan menjadi sangat mengejutkan dan sama sekali tak diharapkan. Banyak kejutan-kejutan, yang melapisi manisnya setiap sisi yang telah disediakan. Dan diri harus tahu, bagaimana menempatkan indra perasa agar tak mengganggu panca indra yang lain. Ah, benarkah demikian?

Langit, amat mewah untuk didaki oleh seorang penghayal musiman yang hanya berfungsi ketika hujan tiba. Seringnya, ia akan menatap langit ketika tubuhnya kuyup, dan wajahnya yang menahan perih melawan derai. Ia amat jauh dari kata ‘bersua’ dan ‘berbincang’ dengan mesra tanpa ada pertentangan didalamnya. Yang terjadi malah, banyak gugatan yang melayang-layang tanpa tujuan. Hendak menggapai jauh, namun tak sanggup berdiri melompat.

Namun, sejatinya langit tahu. Bahwa ia tak hanya menemani hujan menghujam, namun juga memberi kesempatan pada nyala matahari untuk mencipta kerontang. Yang terjadi kini, betapa biasnya cengkrama sang penghayal pada langit. Tak sampai-sampai akalnya menafsirkan setiap lorong yang tiap lekuknya mempunyai sekat yang harus ia terobos dengan keberanian.

Langit, masihkah kau simpan mimpi kekanak-kanakan itu?



Wednesday, August 21, 2013

PROLOG 3 RINDU




Lalu sampai dimanakah cerita kita? Apakah akan usai dengan berpisah raga selama bertahun lamanya?

Lalu apakah kabar hujan? Teman yang selalu menemani mimpi dan rapal doa yang kita langitkan bersama hujamannya.
Dirimu pasti sangat tahu, bahwa takkan mungkin aku mengosongkan sebuah bilik hati dari lekat parasmu, setelah sekian lama bersemayam dan telah mengalir bersama darah keseluruh penjuru tubuh.
Maka, pelukan hangat penuh tangis haru di sore itu selepas ashar berjamaah akan menjadi salah satu bahan cerita yang pasti akan ku abadikan semampuku, walau mungkin tak semanis yang kau harap.
Tak ada yang merestui perpisahan kecuali waktu. Apalagi jika kau meminta ijin kepadaku, maka akan dengan sangat cepat aku akan menahan dengan segenap mampu. Namun, perpisahan ini adalah keniscayaan dari pinta yang telah kita langitkan bersama. Maka, bukanlah wewenang diri ini untuk mengahalangi wujudnya menjadi nyata.
Sejujurnya, engkaulah tulisan-tulisanku. Ketika mereka bertanya, apa resep menulis sebaik tulisan yang menurutku masih sangat sederhana itu, aku masih sangat bingung menjawabnya. Aku masih sangat bisa mengingat, bahwa semenjak berteman hujan bersamamu lah perlahan-lahan tulisan tulisan itu hadir dalam keadaannya yang sederhana. Itu artinya, kau telah amat pandai mengambil sebuah ruang di dalam kalbu, yang kemudian mengendap menjadi darah untuk menjadi apa saja dalam bentuk cinta. Kau lekat diingatan, dan tanpa sadar telah mengalirkan jutaan kata-kata untuk kupadukan menjadi wujudmu disana. Maka kini aku tahu, resep menulis yang baik adalah dengan jatuh cinta pada apa yang hendak dituliskan.
Apa kabar mimpi?Sebuah kata yang sanggup menyatukan 3 kegilaan dalam satu wadah. Aku bahkan sempat berfikir, jikalau kita disatukan dalam waktu yang agak lama dalam sebuah event, bayangkanlah apa yang terjadi nantinya? Hal gila? ya, mungkin saja. Bukankah kita sudah banyak mendapat sorotan tajam banyak mata?
Banyak sudah yang kita lalui, dan rata-rata adalah hal yang tak biasa, yang jarang ditempuh oleh mereka sebelumnya. Dan aku menikmati itu, menikmati setiap pembicaraan mimpi, obrolan obsesi, bahkan masalah cinta dan menikah.
Bukankah kau masih ingat? Ketika membicarakan masalah pernikahan dan siapa mempelai pria nya, maka serta merta banyak cerita yang kita gelar dibawah hujan. Dan kini kau telah memanen hasil obrolan itu. Dengan caraNya kini kau telah bersanding, persis dengan orang yang kita perbincangkan, walau saat itu kita tahu bahwa ada yang berhak punya cerita untuk diberikan pada seorang hamba. Kau telah berlari berkilo-kilo meter jauh meninggalkanku, meninggalkan seorang gadis dengan hati dingin dan penuh misteri yang hanya bisa kembali menyendiri meneruskan mimpi.
Lalu mimpi yang lain telah meminta wujudnya, maka berbahagialah. Walaupun itu berarti raga harus terpisah bertahun lamanya. Maafkan diri ini yang tak pernah mampu membahasakan rindu lewat sikap nyata didepanmu, malah terkadang membuat kecewa. Namun kau tetap yang paling tahu, memahami dan merangkulku dengan penuh kasih.
 Lalu jika akhirnya aku hanya bisa mengenangmu lewat hujan, apalah ini adil bagiku?

Namun tak mengapa, terimakasih telah pernah hadir dalam membantuku menjemput mimpi. Aku cukup bahagia hanya dengan bermain hujan sendirian, karena lewat engkau aku sangat tahu bahwa malaikat ada bersama tetes beningnya. Maka walau dianggap gila, aku akan berbincang padaNya lewat hujan yang menjamu rindu bumi, sembari mengingat bahwa pernah ada cerita manis sepanjang hidup yang terkisah dibawahnya. Ah, aku sungguh tak berlebihan, walau banyak orang yang mengatakannya begitu.  Karena cerita itu sungguh abadi dalam saku perjalananku, yang akan kutunjukkan dengan bangga pada siapapun yang mampir untuk minum bersama  atau sekedar berteduh disampingku. Pada siapapun itu, aku takkan pernah bosan menceritakannya satu persatu, walau aku bingung harus memulai dan berhenti dibagian yang mana. Entah denganmu, yang mungkin menganggap semua yang terjadi biasa saja dan tak berarti apa-apa.
Dalam hujan yang lain, aku menitip cinta pada sahabat terkasih ini, Kau.
Kau, 2 rindu yang tak pernah hilang walau sepanjang waktu bertemu.
Seperti halnya hujan yang selalu meninggalkan basah, maka demikian hal nya lah setiap kepingan cerita yang terserak, yang berusaha ku kumpulkan dalam deretan kata. Selalu ada genangan air mata, selalu ada mimpi baru, juga selalu ada rencana-rencana manis dariNya yang tak pernah diduga.
*Melepas si Bungsu yang akan terbang ke Bogor untuk melanjutkan studi S2 nya.
*Untuk si Sulung yang semoga tak berhenti dalam mencintai.
Tulisan ini untuk 2 cinta yang menjadi nyawa dalam setiap tulisan-tulisan ini.


Wednesday, August 14, 2013

Pada Penghujung Harap

Pengharapan sebuah tanya adalah jawaban
Pada seulas senyum manis penuh kepuasan
Apakah pencarian tak menjanjikan pertemuan?
Yang menambah petualang baru dalam samudra rindu

Ketika resah menjadi arah
Juga rimbun khayal yang menjadi raja
Menghantar lelah pada akhirnya
Sadarkah?










Saturday, August 10, 2013

DIALOG ZA




Za, akhirnya malam ini aku menerobos hujaman nya.
Sungguh aku tak tahan melihat pesona nya hanya dari balik pintu. Maka dengan segera, aku menjamu undangan pertemuan malam ini untuk membersamai nya beberapa waktu. Sampai tubuh menggigil, dan lidah kelu dalam pelukan dingin yang merengkuh.

Tapi rindu telah terbayar, bersama sisa gerimis yang masih hendak berkelakar dengan alam. 
Za, selalu ada kenangan bersama tetesnya. Masih kah kau ingat?
(Dialog Za, Zainab Al-Kautsar)

HUJAN SORE INI


Hujan sore ini
Adalah tasbih senja padaNya
Yang syahdu merengkuh waktu
Tanpa tumpahan keluh kesah dan kisah nestapa


Friday, August 9, 2013

SOLAR & KEJUJURAN


Ceritanya sih tadi malam, tapi baru bisa menuliskannya sekarang. Telat sih, tapi moga masih ada yang sudi membacanya dan memakluminya.*ckckckck, gaya gue*

Waktu akan masak sesuatu berhubung perut laper+gak ada makanan tersisa*kasian yak, lebaran pertama aja udah terlantar*maka dengan riang gembira perhatian beralih pada sang kompor minyak. Namun sungguh terlalu, ternyata amunisinya sedang kering kerontang, sang solar telah mengering, dan persediaan ternyata telah lama habis.

Jadilah malam itu mengelana sendirian, berteman jiregen minyak dan uang seadanya. Berhubung terburu-buru, maka uang yang dibawa pun pas pasan, tak lagi dihitung. Dalam hati sebenarnya sedikit curiga, benar gak uang yang dibawa jumlahnya 15 rb. Tapi ya sudahlah, perjalanan pun tetap berlanjut membelah malam.

Di SPBU, seorang pegawai berpakaian satpam menyambut ramah, mungkin ia sedang menggantikan temannya untuk membantu melayani pengunjung. Maka dengan ramah plus senyum manis*ehem* dan percaya diri, saya mengatakan:
"Isi 15 ribu ya, Bang"
Jirigen pun diisi. Nah, pas pembayaran ada sesuatu yang terjadi diluar kendali. Uangnya kuraaaang. Hiks..

Maka dengan malu-malu bin wajah yang di polos-polosin, sebuah permintaan maaf pun dihaturkan.

"Bang, uang saya ternyata kurang. Saya tinggal sebentar ya jirigennya, nanti saya jemput"

Beliau mengiyakan. Maka dengan kecepatan tinggi, sepeda motor pun dipacu diatas kecepatan rata-rata. Ngedumel sedikit lalu beristifgfar, moga kedepannya gak berlanjut jadi pikun akut yak.

Waktu balik ke SPBU, karyawan yang bekerja telah berganti. Ketika dia melihat kedatangan saya yang malu-malu tikus, dia mengerti. 

"Ini mbak jirigennya"
" Iya, Bang "
"Tadi katanya udah ngasih 5 ribu ya?"
Aku mengernyitkan dahi
"Enggak ah, wong saya belum bayar. Nih bang uangnya, 15 ribu kan?"

Aku menyodorkan uang padanya, dia menyambut dengan senyum simpul.

"Aku tadi cuma nyoba aja, Mbak. Ngetes kejujuran, ternyata mbak jujur"

Gubrak

Aku ngeloyor pergi dengan wajah kosong. Kembali membelah malam dengan jirigen minyak dan iringan paduan suara suara cacing kelaparan.

Thursday, August 8, 2013

Hari Ini Dalam Catatan


Menggelandang sendirian menyusuri Rantauprapat ternyata menyenangkan. Sesekali menilik tempat-tempat sejuk yang bisa dijadikan pemberhentian untuk bisa menghayal tralala dan menuliskannya walau beberapa kata, namun apalah daya tempat yang dimaksud kini mendadak ramai, so...kembalilah mencari naungan yang lain.


Walau katanya lebaran itu identik dengan silaturahmi dan saling mengunjungi tetangga-tetanggi, saudara-saudari dan kerabat-kerabit, ternyata jalanan masih saja padat, tempat makan apalagi, juga pusat perbelanjaan, kalau sudah begini, alamat gak minat untuk menyusup kesana. Dan entah kenapa kali ini keinginan untuk menyendiri demi sebuah inspirasi begitu kebat-kebit mengikuti, sampai tak tenang jika sudah berada dirumah diantara riuh rendah suara keluarga yang kini menjajah seisi rumah.

Disepanjang jalan, segerombolan anak-anak usia SD*kayaknya* dengan pistol mainan ditangan nya tampak gagah mejeng di pinggir jalan. Ada juga yang bergerombol naik becak dengan memamerkan pistol mainannya. Haih, jadi inget kisah masa lalu. Beberapa tahun silam waktu masih akrab dengan anak anak seusia dan masih ingusan, maka tembak-menembak dengan anak-anak dari kampung sebelah adalah moment paling dinanti saat lebaran tiba. Belum lagi kalau sudah main meriam, wuih seru banget dengan suara dentumannya. Dulu belum begitu akrab dengan yang namanya petasan, gak seperti zaman sekarang yang dimana mana suara ledakan mengganggu orang tarawih, gak kreatif banget yak. Beda sama zaman kami dulu yang hanya  tahu waktu kapan main meriam dan kapan harus sholat tarawih plus ngaji sore.

Setelah muter-muter gak tentu arah, sampailah kaki menjejak emperan Lapangan Ika Bina, memesan semangkuk es Jakarta(*kok bukan es Rantauprapat aja ya namanya) dan memulai menyusun deret kata, dimulai dari beranda EfBe ini. Namun ya nasib, di samping saya abang-abang pengunjungnya sedang menghisap rokok, asapnya mengarah kesini. Gak ngerti banget tuh orang di pelototin sejak tadi, ckckckck, masak iya saya harus mengeluarkan jurus nenek sihir bawa sapu lidi sambil marah marah baru dia ngerti. Kalau udah gini, seganteng apapun beliau yang di sebelah saya ini, kalau sudah merokok, alamat kaburlah ia dalam pandangan saya. Jiaah...saya tak suka lah lelaki merokok.

Baiklah, ini hanya pembuka. Saya mau nulis dulu yah.

Bye.

MAAF DAN DOSA

Jangan hanya karena satu aib atau dosa kecil, kalian terus2an mengingat dan menjauhi seseorang. Karena tidak ada seorang pun hidup tanpa aib dan dosa ('Aidh Al-Qarni).

Maka, janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dia-lah yang paling mengetahui tentang orang yang bertaqwa (QS. An-Najm: 32)

Sunday, August 4, 2013

KETIKA ENGKAU MENIKAH, WAHAI KADER DAKWAH

KETIKA ENGKAU MENIKAH, WAHAI KADER DAKWAH
Kala sendiri masih menyapa, sosokmu begitu mempesona. Cahaya langit seakan menggantung di raut wajah dan tutur kata, semangat menyala, seperti hendak mengalahkan energi matahari yang berkuasa atas dunia. Ah, sungguh luar biasa. Segala kesibukan kau telan dengan kenikmatan, tak ada waktu yang sia-sia, bahkan mungkin waktu yang disisihkan untuk beristirahat harus rela berbagi dengan kesibukan lain yang datang tanpa kenal lelah.
Lihatlah disekeliling, betapa tatap segala jenis mata memandang dengan khidmat. Mungkin mereka kagum dengan pakaian takwa yang melekat pada raga dan akhlakmu, kagum dengan segudang kegiatan untuk umat yang kau emban, kagum dengan ketaatan yang makin kuat bahkan ketika kesulitan datang mendekat. Atau mungkin ada yang menatap heran, mengapa ada sosok yang begitu menjaga hati dan jiwanya dari pengaruh dunia, heran dengan ke-eksklusiv-an pergaulan yang seakan ingin menjauhi siapapun yang sewaktu-waktu bisa merampas cintanya dari sang Maha cinta, heran dengan kekuatan prinsip yang begitu kuat pada setiap keputusan, termasuk kekuatan prinsip ketika hendak memilih seseorang menjadi pendamping hidupnya. Bisa jadi ada juga yang membenci dan bersikap sinis, menganggap betapa bodohnya orang-orang sepertimu yang tak begitu menikmati dunia sebagaimana mereka yang terlena, mengata-ngatai dengan sumpah serapah ketika mereka merasa tak mampu sepertimu, atau mungkin ketika mereka iri dengan orang-orang yang semakin berpihak dan tertarik pada akhlakmu.
Lalu ketika kau akan menikah, ketika sebuah kabar gembira menyebar secara diam-diam atau terbuka, semua pandangan akan beralih padamu. Mereka akan dengan seksama menanti dan mencari tahu siapa pasanganmu, identitasnya, bahkan menanti untuk diundang dan menikmati suasana pesta walimahan ala kader dakwah. Percayalah, mereka akan membicarakanmu mulai dari mendengar kabar bahagia itu sampai sesudah pesta terjadi, entah itu cerita baik atau tidak sekalipun, yang jelas sosokmu masih menjadi perhatian.
Siapa kini yang duduk mesra disisimu, juga menyita perhatian banyak mata. Apakah ia teman sekufumu sesama penggiat dakwah ataukah yang masih harus dicelupkan kedalam warna warni jalan ini? Siapapun dia mereka hanya menanti satu hal, bagaimana langkahmu sesudah ini? Makin tegap ataukah semakin surut kebelakang, bahkan terhenti tak bernyawa lagi?
Dan setelah itu, sebuah doa mulia kian melangit untukmu, begitu juga dengan harap yang mengiring setiap langkah bahagiamu, dua oraang telah bersatu, semoga langkah memanggul amanah semakin gagah. Adakah kau rasakan itu? Ketika kini telah berdua, bukankah seharusnya semangat dan dukungan bisa makin berlapis? Ketika pendampingmu kini menemani, bukankah seharusnya ada banyak masalah yang kini bisa kau hadapi? Bukankah ketika sekarang kau tak sendiri lagi, seharusnya suaramu makin lantang dalam menyeru kebenaran?
Mari berkaca dari mereka yang membangun dakwah mulai dari pribadi, mencari pasangan, sampai membangun dakwah dalam keluarga kecil mereka. Lihat dan contoh bagaimana mereka mengenyampingkan alasan untuk mencari cela menghindari amanah, mereka makin bersemangat dan semakin mantap dalam kesepakatan menghadapi badai bersama-sama, saling mengingatkan ketika salah satu diantaranya mulai menjauh dan  mengeluh. Adakah itu ada  dalam keluargamu kini?
Atau mungkin ada contoh lain yang menjadi rujukanmu? Pada sosok yang awalnya penggiat dakwah, dan menikah, namun semakin surut cahayanya. Ketika salah satu diantaranya bukannya saling menguatkan amanah, namun malah menyemangati untuk lebih memilih rumah daripada medan dakwah. Satu persatu amanah dihindari dan dilepas, halaqoh pekanan juga dianggap menjadi sebuah kewajiban yang ala kadarnya daripada kena caci, atau hendak menjauh namun takut dikata-katai dan khawatir kena sidang murobbi.  Pada keluarga ini, adakah lagi mereka bangga dengan identitas dakwah yang membesarkan dan membinanya selama ini? Adakah mereka cinta dengan peluh yang menetes dan materi yang tergadai demi membiayai dan bekerja keras demi suksesnya sebuah agenda dakwah?Entahlah, hanya mereka yang tahu. Semoga tak ada kalimat mereka yang memilih untuk berada di belakang layar sebagai penonton dan pemandu sorak daripada berada di garda terdepan dalam menghadapi badai. Karena jika kata itu sudah terlempar, alamat akan benar-benar menyingkirlah ia sebagai sebuah keputusan untuk pensiun dini dan menyerahkan estafet dakwah pada yang lebih muda atau yang masih belum menikah. Memangnya adakah aturan demikian?
Lantas pada engkau yang belum menikah, semoga keinginan mulia itu tetap diijabah Allah dengan sebaik-baiknya jalan. Dan kelak ketika menikah, raga dan semangatmu akan terbarui, langkah akan semakin tegap dan lisan akan semakin lantang mengagungkan kebenaran. Semoga!





Tentang Menikah

Pertanyaan seputar menikah memang tak hanya sekali saja mampir padaku. Bahkan lumayan 'enek' juga menghadapinya. Bukannya enggan berbagi atau pelit kata dalam menjelaskan, namun bagiku menjelaskan panjang lebar pendapat dan prinsipku tentang menikah pada mereka yang tak paham dasar perjalanan dimana aku melabuhkan diri selama ini, maka itu sama halnya dengan sia-sia. Toh mereka tak akan pernah faham.

Banyak malah yang mencemooh prinsip ku dan mungkin juga sama dengan prisnsip akhwat yang lain. Mereka mungkin lelah meyakinkan, atau mungkin cenderung gerah dengan keakraban beberapa kader lain dalam kesendirian ketimbang cepat-cepat menikah. Beberapa diantaranya mencemooh mengapa kader dakwah suka 'plih-pilh'. Ya iyalah mesti memilih, kan gak mungkin juga menerima semua yang datang tanpa seleksi.

Adapun keinginan tentang pendamping hidup yang harus sama-sama dari kader dakwah juga, dalam hal ini sesama kader PKS. Maka inilah penjelasannya.
Jika kader berkeinginan mendapatkan pasangan hidup seperti itu, maka wajarlah. Mereka tak menikah demi kepentingan pribadi, namun untuk keberlangsungan dakwah. Mereka ingin memperjuangkan dakwah dengan makin kuat ketika telah menikah, karena disokong oleh pasangan hidup yang se'fikiran' dan se-ide. Bayangkan saja akan cacatnya sebuah keluarga jika salah satu pasangannnya tak paham dengan perjalanan dakwah pasangannya, ia tak mengerti tentang betapa pentingnya dakwah dalam hidup seorang kader. Maka bisa dipastikan, keluarga seperti ini akan menghilang dari peredaran dan menjauh dari amanah dakwah.

Lantas, apa tak boleh kader dakwah menikah dengan orang umum?
Jawabannya boleh!
Asalkan sang pendamping tersebut mau ikut bergabung dalam jamaah dakwah, mau ikut liqoat(pengajian) mingguan, ikut setiap kegiatan dakwah, dan aktif berinteraksi dengan kader-kader lain. Banyak juga akhwat yang menikah denga lelaki yang awalnya bukan kader dakwah, tidak dilarang. Namun, diantara mereka tak semuanya bertahan. Bersatatus seorang istri yang harus patuh pada suami, menjadikan mereka terkadang harus berbenturan pendapat dengan suami mereka yang kadang tak mendukung langkah dakwah sang istri. Ah, irohis sekali.

Lalu bagaimana denganku?
Aku tetap berkeinginan menikah dengan kader dakwah, yang bisa bersama berjuang tanpa cacat sebelah dalam pemahaman tentang langkah perjuangan. Yang dengan rela membiarkan istri mengambil bagian dalam agenda dakwah yang memang sibuk ini. Yang dengan rela menyokong istri dalam menguatkan langkah ketika telah mulai lelah dan putus asa. Ah, mungkin mimpi ini terlalu indah.

Namun tak menutup kemungkina, menerima mereka yang awalnya bukan bagian dari kader dakwah. But, harus menetapi syarat yang paling dasar, paling urgent, kalau syarat-syarat ini tak sanggup dipenuhi, maka ya sudahlah, lebih baik saya bersabar dalam kesendirian sambil menunggu waktu yang lebih tepat.
Adapun syaratnya adalah...jreng..jreng..:
1. Harus ikut ngaji dulu, minimal 3 bulan.Pengajiannya harus saya yang rekomendasikan.  Darisana akan diilihat progresnya, dia bertahan atau tidak.
2. Harus berhenti merokok, bagi yang merokok.
3. Harus menjaga adab dengan lawan jenis
4. Sholatnya gak boleh tinggal
5. Menerima segala kekurangan diri, termasuk menerima keluarga dengan apa adanya.

Karena pernikahan buatku adalah:
Sebuah bangunan yang baru, yang menaungi siapapun yang ada didalamnya dengan kenyamanan. Pernikahan adalah pertemuan dua orang yang berbeda yang awalnya tak mengenal menjadi satu tim dalam menjalani hidup. Pernikahan adalah ibadah, menggenapkan separuh agama dan membuat bergetar Arasy Allah karenanya. Pernikahan itu begitu khidmat, penuh doa melangit dan harap yang melingkupi sebuah keluarga yang baru terbentuk.
Aku besar dalam ruang lingkup dakwah, maka juga akan berjalan didalamnya sampai ajal tiba. Banyak amanah yang menanti, dan takkan mengerti seribu alasan yang diberi. Dakwah memang tidak butuh kita, bahkan dia tetap mulia tanpa adanya kita. Namun, kitalah yang membutuhkannya. Kita yang meminta ridho Allah ketika melaluinya.
Dakwah telah membuatku dewasa, mengenal Allah, mengenal saudara, mencintai amanah, dan merasa berarti. Dakwah telah menawarkan madu dunia akhirat yang membuatku candu untuk kembali meneguknya, lagi dan lagi.

Maka akan dengan bangga kukatakan: Aku ingin menikah dijalan dakwah.



Air Mata itu..

Bukan sekali, aku dan teman-teman seperjuangan di MY CLUB Labuhanbatu menjadi mentor dalam berbagai event training, termasuk menjadi instruktur pesantren kilat ramadhan di berbagai sekolah di Labuhanbatu yang menjadi mitra My Club dalam membina Rohis disekolah sekolah tersebut. Banyak wajah yang terekam di ingatan, banyak tingkah pola dan ragam karakter yang dijumpai, banyak caci maki ataupun pujian yang mengiringi langkah perjalanan menggaungkan dakwah semampu raga.

Dan dalam setiap tahun di bulan ramadhan, moment pesantren kilat ramadhan adalah moment rutin yang menjadi perhatian semua pengurus My Club. Betapa tidak, biasanya waktu penyelenggaraan pesantren kilat sendiri bersamaan di beberapa sekolah. Karena memang jadwal Sanlat (pesantren Kilat) sendiri telah masuk kelender pendidikan yang dikeluarkan pihak dinas pendidikan. Maka jadilah semua pengurus akan sibuk berbagi jadwal, membagi tenaga instruktur, menyusun materi dan mencari jawal pemateri agar tak bertabrakan dengan sekolah yang lain.

Pada sebuah moment bernama muhasabah...

Kali ini sebuah haru masih melekat sampai kini dalam hatiku, padahal agenda sanlat telah lama usai. Melihat bagaimana tangis haru dan wajah teduh mereka ketika merengungi isi muhasabah, sebuah doa melangit agar mereka bisa menetapi janji untuk menjadi lebih baik, terutama dalam memperbaiki hubungan dengan orang tua. Materi muhasabah yang mengangkat muhasabah memang sangat luar biasa, tak ada hati yang tak tersentuh. Semua menunduk, merenungi dan menikmati sesi muhasabah ini.

Bahkan peserta yang awalnya paling bandel, paling ribut, paling usil dan yang suka nyeletuk perkataan instruktur dan pemateri, adalah dia yang paling keras menangisnya. Dia juga yang paling pede ketika menangis dengan berbagai ekspresi, momentnya ada dalam photo dibawah ini.

Akhirnya...
Allah lah semua doa dan harap bermuara
Pada sebuah generasi ada harap dan pinta
Agar kelak menjadi pembeda
Antara sejuk syurga dan siksa neraka




Monday, July 8, 2013

Sebuah Apresiasi

Betapa kaget nya aku ketika sebuah sms datang meminta izin untuk mengapresiasi salah satu puisiku dalam blognya. Bapak Said Adlin, ketua Dewan Kesenian Labuhanbatu tertarik untuk mengapresiasi salah satu puisi yang dianggapnya menarik, ini dia catatan yang ku intip dalam blognya tadi.

Aku dan Pinta

Hingga ujung kalam-Nya nanti
aku tak hendak menyisipkan lara dalam setiap perjumpaan
Yang kutahu hanya satu
Bilik-bilik hati yang terasa hening ini
kunikmati dengan segenap doa

Bahkan ketika yang ditakdirkan dalam masa itu tiba
Yang terpinta dalam sepanjang sajadah itu
Hanyalah ku dan Mu

Juga tak lupa bahwa jiwa yang sebenarnya
selalu menyimpan kesah ini
Adalah raga yang tak sanggup berdiri
tanpa kasih juga hendak-Nya

Pun jika kelak,mata menutup selamanya
Adalah pinta untuk mati
dalam istiqomah dan husnul khotimah

-Hidup mulia atau mati sahid
Rantauprapat,26 Oktober 2012
Zainab Alkausar 

Demikian Zainab Alkausar mengkomunikasikan isi hatinya kepada pembaca bahwa betapa pun penderitaan hidup yang dialami oleh beliau ( penyair ) , beliau tak pernah mau untuk menunjukkannya kepada sang khalik dalam setiap kesempatan , apakah ketika beliau berdoa,maupun mungkin ketika beliau sholat.Penyair kelihatannya seorang yang menerapkan sikap qona'ah dalam mengharungi kehidupan ini,beliau menikmati saja suasana hati yang dimilikinya sebagai sebuah kebahagiaan tersendiri,ya kebahagiaan hidup berada dekat dengan sang pemberi kebahagiaan,ketenangan,dan keteduhan.
Aku tak hendak menyisipkan lara dalam tiap perjumpaan  
Yang kutahu hanya satu
Bilik-bilik hati yang terasa hening ini
kunikmati dengan segenap doa
( Aku tak mau berkeluh kesah kepada-Mu wahai Allah,karena bagiku segala apa yang Kau beri ke dalam hati ini adalah anugrah yang kunikmati dengan penuh rasa syukur kepada-Mu)

Bahkan dalam setiap doanya , ketika Allah mentakdirkan untuk memanggilnya , Zainab Alkausar tidak menginginkan apa-apa selain hanya Allah dan dirinya saja,karena beliau sadar keluh kesah meskipun di dalam hati adalah bukti bahwa sesungguhnya beliau adalah makhluk yang dha'if yang tak sanggup berbuat apa-apa tanpa kasih sayang dan pertolongan dari Allah semata.
Juga tak lupa bahwa jiwa yang sebenarnya
selalu menyimpan kesah ini
Adalah raga yang tak sanggup berdiri
tanpa kasih juga hendak-Nya
( Kuakui,keluh kesah atas penderitaan hidup yang Kau takdirkan kepadaku selalu mendera hati ini,dan itu adalah bukti bahwa aku ini adalah hamba-Mu yang lemah , jika tanpa kasih sayang dan pertolongan-Mu wahai Allah )
Di akhir puisinya Zainab Alkausar kembali mengungkapkan satu harapan bahwa jika pun Allah memanggilnya nanti Zainab berharap dipanggil dalam istiqomah di jalan Allah,dan husnul khotimah, sebagai akhir kehidupannya yang baik dalam pandangan Allah.
Pun jika kelak,mata menutup selamanya
Adalah pinta untuk mati
dalam istiqomah dan husnul khotimah

Sederhana memang puisi religi berjudul Aku dan Pinta ini,namun kata yang dipilih oleh Zainab untuk mewakili perasaannya begitu lancar mengalir dan menurut saya mampu membuai pembacanya larut dalam suasana hening seperti heningnya bilik-bilik hati Zainab dalam kebahagiaan yang bukan karena materi keduniaan,melainkan karena merasa Allah selalu ada di sana , bersemayam di bilik-bilik hati Zainab.

Siapakah Zainab Alkausar ? Saya juga belum mengenal beliau.Nama itu begitu asing dalam fikiran saya,namun begitu saya disuguhkan oleh sahabat saya Th Pohan seonggok puisi untuk saya beri review atau semacam komentar atau apalah kata Th Pohan,karena katanya puisi-puisi itu akan diterbitkan,maka saya sedikit terperangah membaca puisi-puisi Zainab yang bernada religius.Ada toh anak Rantauprapat yang mampu menulis puisi seapik ini ? fikir saya. Maaf lo bagi penulis puisi yang lain yang satu onggok akan diterbitkan itu,yang lain juga bagus puisinya kok.
Bagi Saudaraku peminat sastra,jika dalam waktu dekat seonggok puisi itu sudah terbit dengan judul :Sajak Langit Panai,silakan simak puisi mereka ; Th Pohan,Agung S,de Puspa,Zainab Alkausar,Ibn Ven,Herlina Hsb,Qaireen Izz,Ahmad Fajar Septian,Faisal,dan Dita Fadhilah Azri.
Sungguh kiranya Allah senantiasa membimbing hati kita semua dalam suasana religius yang berarti Allah masih bersemayam di sana yang salah satunya tercermin dari puisi-puisi yang kita tulis.

Rantauprapat,8 Juli 2013
 
Diposkan oleh Sayyid Adlin Al-Yahya di 17.57


Mengintip Kalbu

Langit rintik
Sore yang basah 
Kembali memetik cinta yang berputik
Tanpa kesah..

Aku merindu-Mu
Dengan gegap nafas memburu
Diam tergugu
Ketika hati mengintip kalbu

Pada segenggam harap
Aku meminta suaka pada-Nya
Kelak disana
Sudi memberi berkah menggapai Jannah


Sunday, July 7, 2013

Jarak Antara Mimpi dan Kenyataan.

Mimpi? Itu mah gua banget..
Sudah ntah berapa banyak mimpi yang di orat-arit di buku diari. Ada sekitar 6o-an mungkin, itu yang tertulis, beda lagi sama yang menari-nari di khayalan setiap waktu, bisa ratusan malah.

Betewe, mimpi itu asyik. Ya iyalah asyik, wong ngeluarin keringet aja enggak, apalagi capek berpeluh ria. Cuma mereka-reka dan memimpikan hal yang terindah yang kita inginkan dalam kehidupan, dan itu adalah hal yang mengasyikkan. Mimpi kan gak capek, wong yang di impikan adalah hal menyenangkan yang diinginkan, emang ada yang memimpikan hal yang buruk untuk dirinya sendiri?kayaknya gak ada deh, kalaupun ada perlu dilestarikan tuh orang, di museumkan kalau perlu.

Tapiiii jarak antara mimpi dan kenyataan itu jauuuuuuuuuh bangeeeet. Kayak bumi sama bulan, kayak laut sama gunung, kayak gula sama garam, kayak.....*halah malah ngawur*. Karena mewujudkan mimpi itu adalah hal yang gak mudah, bahkan tidak jarang banyak mimpi yang hanya berakhir sebagai tulisan semata, dan menghuni lembaran buku yang abadi.

Itulah mengapa kita tak dianjurkan hanya bermimpi tanpa bekerja. Bekerja terus terusan tanpa punya tujuan impian juga kayak berjalan tanpa tujuan, bisa nyebur empang tuh kalau keterusan atau malah nyasar kemana-mana. Artinya memang harus seimbang, realistis saja dalam memimpikan sesuatu dan tetap punya cara usaha untuk mewujudkannya.

Tapi aku pernah mendengar, usaha bisa saja menjadi nomor 2 ketika Allah telah membantu dan turun tangan mengijabah mimpi. Maka kedekatan kepada-Nya amatlah penting dalam rangka aksi pedekate agar segala impian dapat terwujud dengan indahnya. Iya gak sih? Udah ada yang bisa dijadikan saksi mata? Hayo hayo..
Ada tuh cerita ketika aku menuliskan impian pengen ke tanah jawa buat liat Kraton dan menyaksikan hamparan sawah yang menghijau disana, alhamdulillah tercapai. Beberapa waktu lalu aku didaulat menjadi salah satu guru yang diajak ke Jogjakarta untuk study banding kesana. Gak nyangka, padahal waktu menuliskan mimpi yang satu itu, aku sendiri juga gak tahu gimana cara mewujudkannya. Ternyata Allah punya cara yang lebih indah.

So? kalau kamu gimana?



Thursday, July 4, 2013

Apakah cinta harus punya alasan?

Apakah harus ada alasan untuk mencintai? Hah, aneh. Pertanyaan ngawur bin gak nyambung plus lebay. But, ini  realy realy mengganggu fikiran beberapa hari ini. Sebab, ntah darimana datangnya pertanyaan ngawur yang gak tau darimana juntrungannya itu tiba-tiba sudah meneror isi kepalaku untuk meminta jawaban. Mau jawab apa? wong saya juga amatiran kalau soal cinta, gimana bentuk dan sensasinya juga kagak pernah tahu dan rasakan.

Perlukah alasan untuk mencintai?
Kebanyakan yang kena teror pertanyaan ini menjawab dengan koor, 'Perluuuu'. Masak iya cinta gak punya alasan?aneh dong. Wong benci aja pake alasan, masak cinta gak punya alasan.

Nah, dari sekian banyak yang ditanya, jawabannya tetap sama. Namun hatiku belum puas, masih belum cukup dengan jawaban yang biasa itu. Entah butuh jawaban seperti apalagi, aku juga tak tahu pasti, yang jelas ujung-ujungnya aku jadi menilik kedalam diriku sendiri. Seorang perempuan dingin yang gak punya hati dan perasaan ini mana mungkin tahu arti cinta sedangkan banyak hati yang  tersakiti olehnya dan dia tak pernah peduli bahkan tak pernah merasa bersalah. Ah sudahlah, jangan curhat disini, malu sama yang diatas kalau belum apa apa sudah mewek.

Balik lagi ke topik, lagi lagi belum nemuin jawaban. Ada yang bisa bantu? Kalau mencintai itu perlu alasan, maka mungkin aku adalah orang yang tak akan mendapat cinta, mengingat tak punya sifat atau sesuatu yang ideal selayaknya orang mencintai sesamanya. Maka, betapa malangnya nasibku. Apakah ini buntut sebab pertanyaan ini setia nguntit kemana daku pergi? untuk meminta diri berinstropeksi agar merubah diri menjadi ideal layaknya yang lain, agar layak mendapat cinta.

Namun aku ingin mendapat jawaban bahwa cinta itu gak butuh alasan. Adakah yang mencintai tanpa alasan? Sebab, jika alasan mencintai itu tak ada lagi maka apakah cinta juga turut hilang? Sekali lagi, ini pertanyaan aneh. Maka mungkin hatimu juga akan mempertanyakan, haruskan hal ini dipertanyakan? hahaha, aku juga sedang berfikir hal yang sama denganmu.

Maka kali ini, marilah kita sudahi kebingungan ini.

Semoga seperti halnya Allah, yang mencintai Hamba-Nya tanpa Pamrih dan tanpa alasan lebay, dia akan senantiasa mencintai siapa saja yang mendekat dan menghamba padanya, kita bisa mengambil makna tersuratnya nya.




Sunday, June 30, 2013

Semakin Senja 1

Senja, semakin senja saja ternyata. Begitu jingga diufuk sana, juga jingga yang menua di istana kecilku.

Teman, siapapun dirimu, maukah mendengar cerita singkatku? Tentang seorang malaikat yang Allah hadirkan untuk membesarkan, merawat, mendidik dan membentuk karakterku. Dia bukan ibu, bukan ayah, tapi seorang kakek. Pria yang hidup semasa aku bisa melihat dunia, telah hidup sendiri tanpa seorang istri. Dan ketika aku lahir, dia masih harus merawatku sampai saat ini, sampai usianya telah begitu senja.

Jangan tanyakan mengapa aku harus dirawat oleh seorang kakek, karena aku juga bingung akan menjelaskannya darimana dulu. Hidupku penuh warna, juga cerita,  namun belum saatnya aku berbagi untuk hal yang satu ini, karena aku masih ingin memperbincangkan dia, pria senja yang setia disisiku.

Teman, dia begitu senja diusia hampir 90 tahun. Dia selalu sendiri sepanjang hari, dan aku tak punya kuasa menemaninya setiap waktu. Aku harus bekerja, mencari penghidupan untukku dan untuknya. Kami hanya tinggal berdua, menikmati setiap liku waktu dengan hanya berdua. Memperbincangkan apapun yang ada dengan dialog 2 hati yang kadang sama sekali tak nyambung, namun aku menikmatinya.



Saturday, June 29, 2013

Menantikah Cinta?

Menantikah ia yang fitrah pada kalbu?
Sejenak berlabuh pada jingga yang menua
berkejaran pada ombak menghentak
Menyisip duka disela siksa nestapa

Menantikah wahai rinduku?
Jika kali ini aku menyudut takut
Mengendapkan segala obsesi dunia
Disebuah lorong tanpa jeda


None

Semua pasti akan berbalik kan, Za?

Tuesday, June 18, 2013

Inikah aku?

Tensi sedang naik, mengeluarkan segala sifat asli, hati-hati jadi sasaran.

*Menghindarlah selagi bisa

Menghindarlah, karena aku tak suka disapa atau diajak bicara, tak suka keramaian atau hiruk pikuk, tak suka dengan suara sekecil apapun, tak suka dengan apapun selain kesendirian dan tempat pelampiasan.


Maka menghindarlah dariku, karena bisa jadi nanti aku akan melampiaskan padamu, atau membuatmu tersakiti dengan tingkah laku ini. 



Biarkan aku dengan tuhanku yang mengambil sebuah tempat untuk menyendiri, berkasih dengan-Nya yang maha mencinta tanpa sebab.


Tuesday, May 21, 2013

Kembali Menyapa Rindu

Rinduku pada menulis begitu memburu, bahkan aku tak sanggup menahan gejolaknya. Namun kali ini aku tak jua mempertemukan jemari dengan jiwa untuk menghasilkan baris diksi. Ya, kali ini aku kehilangan diriku sendiri. Aku ingin membersemai hari dengan jutaan mimpi baru, mengabadikannya lewat kata dan membaginya dengan siapa yang hendak bersua.

Tuesday, May 7, 2013

Ketika Pagi

Ketika jejak embun menyentuh dedaun Dengan susah payah aku menerjemahkan rasa yang berkelebat ini dalam baris diksi Jika mungkin aku bisa berbicara dengan titi bening itu Maka tak akan bisa aku berpisah sedetik saja dalam membersamainya

Sunday, May 5, 2013

Blog Curhatan

Tetap pe-de dengan rumah sederhana bernama Blog 'embun' ini. Dengan desain apa adanya dan isi tulisan yang hanya curahan hati ini awalnya ingin kupersembahkan untuk diriku semata. Namun, lambat laun aku mengerti mengapa aku begitu suka menulis di blog ini.Karena sifatnya yang berbau curhat, dengan senang hati tanpa mengenal waktu tertentu, setiap ada rasa yang hendak tumpah, maka aku akan melepaskannya disini, dirumah sederhana. Selamat datang didunia mayaku, dunia kedua yang selalu kukunjungi saban hari.

Saturday, May 4, 2013

Masih Tentangmu

Pada kali pertama sejak hatiku kau ambil, aku telah berjanji untuk mencintaimu.
 Ini kali pertama seluruh ruang hatiku kau kuasai, begitu meraja dan menjadi kuasa atas segala rasa. Sangat tak biasa bagiku, namun ulur tangan tulus dan sikap sabar yang begitu lebih dalam menghadapi si watak keras ini adalah keping-keping kenangan yang akan terus kususun hingga utuh.

 Apa kabar keluarga aneh? Maaf jika aku menyebutnya begitu, karena menurut akal kala aku sehat, kita berempat adalah keluarga yang aneh, lain dari kebanyakan teman yang lain. Membersamai kangen dengan ‘meet time’ dan ngopi-ngopi cantik’, menyelesaikan gundah dengan belanja, chating rame-rame didunia maya, juga nekat kesana kemari dengan becak yang menjadi kendaraan favorit.

 Jika inspirasi itu adalah kamu. Bolehkah kukatakan, bahwa energy menulisku akan tumbuh berlipat-lipat jika bersamamu. Mula pertama aku bisa menuliskan cerita perjalanan dibawah hujan dengan begitu apik. Pun dengan cerita-cerita lain yang meluap begitu saja dengan diksi yang entah darimana datangnya, membuat siapapun yang membacanya akan ikut hanyut bersama kebersamaanku denganmu. Berarti inspirasi itu hadir karena ada kamu. Maka, kamu adalah tulisanku.

 Dengan tingkah laku dalam dunia nyata aku sungguh tak pandai mewujudkan rindu dan cinta, bahkan aku selalu mengecewakan. Tapi biarlah, semoga rindu ini bisa menghasilkan karya yang dapat dinikmati banyak orang nantinya. Tulisan ini belum berakhir, karena luapan diksi yang muntah ketika menuliskan cerita cerita kenangan tentangmu begitu menyesakkan rongga fikiranku. Semua kata berjejal menanti, namun kadang bingung menuliskannya.

 Maaf ya, aku kerap melaporkanmu pada kekasihku. Pada-Nya aku selalu menceritakan siapa kamu dan mimpi-mimpi yang begitu melangit itu. Aku ingin DIA tahu, aku sungguh mengharapkan DIA menjagamu dengan sebaik-baiknya penjagaan. Dengan mencintaimu, semangatku untuk terus bersama-Nya juga semakin besar. Untuk Kamu..ya kamu.. Si sulung, Si Bungsu dan si Pucuk. Maya Sebrina, Rossy Nurhasanah, Ayu

Friday, May 3, 2013

Edisi Meet Time

Senja telah menanti, jingga telah menua di ufuk barat.
Baru saja kaki menginjakkan kaki di rumah cinta, kembali pada dunia nyata yang tersisa.
Meet time kali ini sungguh tak terduga, bahkan tidak direncanakan sama sekali. Siang tadi, selepas mengunjungi ROHIS, dan kaki baru saja menjejak lantai rumah, nada sms bergetar dan ajakan untuk bertemu begitu begitu menggiurkan. Ada satu keinginan yang belum kesampaian, bisa mencapai stage 3 dalam arena bermain basket di sebuah area bermain anak di Suzuya Plaza.

Mengekspresikan diri lewat lemparan demi lemparan bola kekeranjang dan menyisakan keringat yang menguap di sela pori-pori wajah, adalah hal yang menyenangkan sekaligus melelahkan. Edisi meet time kali ini adalah yang pertama kalinya terjadi semenjak si sulung berstatus menikah. Terasa berbeda, namun telah menambah warna cerita yang sekarang telah memasukkan nama suami-suami mereka kedalam cerita yang mengalir apa adanya itu. Dan tentu saja aku adalah pendengar paling setia dari cerita itu, hanya sesekali menimpali atau diam saja tanpa ekspresi.

Dua wajah yang kali ini hadir menemani sore, menemani raga yang menjadi semakin segar padahal  lelah awalnya. Aku tahu, ini hanya sarana agar raga saling bertatap mata, ketika rindu untuk meluapkan cerita yang mengendap telah tak tertahankan, maka moment langka seperti ini adalah anugrah yang begitu nikmat rasanya.

Setelah lelah terasa, keringat membanjiri lapisan kulit, juga kaki yang gemetar menahan tubuh yang berdiri meloncat loncat sedari tadi, maka akhirnya kami menyerah. Menyerah karena ternyata kami belum bisa menembus stage 3. ( hahaha *kasihan sekali)

Lalu, sebagai pengobat lelah, sebuah cube tempat berfhoto ria adalah tujuan akhir. Lelah terbayar ketika menyaksikan 3 wajah dalam selembar kertas fhoto dengan berbagai gaya. Senyum mengembang, syukur memenuhi rongga hati, dan semoga Allah meridhai ukhuwah ini.

Aku telah memintamu pada-Nya
Dengan segenap kekurangan yang kerap menerbitkan kecewa, aku memberanikan diri mencintaimu
Pada waktu yang menggamit cerita
Tak sekejap pun aku luput dari mengenangmu

Terimakasih telah menjejak sejarah cintaku
Walaupun aku harus belajar kehilangan sebelum berpisah
Karena sungguh, rindu yang menumpuk ditiap harinya
Hanya bisa kuabadikan lewat deretan kata

*Yang mencintaimu..
Zainab Al-Kausar



Saturday, April 27, 2013

Tentang Mimpi Itu lagi

Beberapa waktu lalu, ketika batinku terhenyak dengan sebuah lintasan yang begitu pekik dihati. Dalam kekeringan iman yang tak lagi menyulut semangat, mungkin Allah tak hendak membiarkan(lagi) jasad ini terlalu lama dalam kelalaian yang nyata, yang bisa membawa langkah kaki menjauh dari kebenaran. Lintasan hati berbisik, " Bisa jadi, kali ini aku akan bermimpi hal itu lagi "

Benar saja, tak membutuhkan waktu lama, firasat itu mewujud. Mimpi itu hadir dengan sangat jelas. Bahkan masih sama dengan beberapa waktu yang lalu, percaya atau tidak, sebelumnya aku sudah memimpikan 2 kali tentang mimpi yang sama persis.

Dalam mimpi yang ketiga kali ini, masih sama persis dengan yang lalu. Aku menghadap sebuah cermin, melihat pantulan wajahku sendiri disana. Namun aku melihat sosok wajah yang mirip diri ini, dengan wajah kusam dan sedikit gelap warna kulitnya. Wajah kusam itu, selama beberapa waktu menimbulkan banyak tanya dihatiku. Apakah gerangan maksud mimpi ini?

Dan lambat laun, aku menyadari maknanya. Apalagi ketika mimpi ini kerap hadir dikala kondisi iman sedang surut, sedang dalam kondisi kering nan gersang. Setidaknya aku tahu ini alarm peringatan dari Allah, sebuah teguran nan manis untuk mengingatkan bahwa kondisi hati sedang butuh penanganan segera. Buatku ini mimpi spesial, berhubung aku juga sangat jarang bermimpi kala tidur.

Tak ada pilihan lain kecuali merapat,tak ada jalan lain selain menemui-Nya. Kembali mengaku salah dan meminta ampun, kembali khusyuk menengadahkan tangan dengan penuh kepasrahan, kembali melangitkan doa, kembali mencari dimana pekat noda yang menghuni hati, kembali dengan sekuat tenaga untuk mengikis endapan pekat dosa. Tentu saja, tak ada pilihan selain kembali.

Terimakasih ya Robb, telah menegur dengan begitu manis.

Friday, April 26, 2013

Adakah Pilihan?

Setelah lelah bermain-main dengan sensasi yang dicari-cari itu, maka adakah pilihan selain kembali? 
Setelah puas menyimpan bara karena tak sepaham dan merasa diacuhkan atau terlalu disudutkan, apakah menyingkir adalah pilihan?

Setiap rasa pasti akan bermuara, pada sebuah akhir bernama lelah dia akan memadu padankan semua perdebatan yang ada. Setiap orang juga punyak hak untuk memilih, namun kerinduan yang datang tanpa diundang bukankah sebuah siksaan jiwa yang akan terus menggerogoti hari? 

Pada jalan terjal bebatuan, kita diajarkan bagaimana menyemai rindu dan memanen cinta dalam bingkai bernama ukhuwah.
Pada jalan tak berujung ini, kita diajarkan bagaimana harus kecewa dan berontak karena tak sepaham dan merasa dinomor sekiankan.
Pada jalan penuh halang rintang ini, kita banyak dipertemukan dengan wajah-wajah penuh cinta, teduh dalam pandangannya, namun juga tak jarang kita menemukan amarah yang menggelora dihadapan mata.
Namun pada akhirnya, adakah pilihan selain kembali? Dakwah yang kita mulai karena Allah, haruskah berakhir karena manusia?

Karena, ketika diri memilih untuk'keluar', apakah ada ganti yang bisa menjadi penghuni rumah hati ketika ia harus digantikan dengan yang lain? Bisa jadi, dengan keegoan itu, diri akan lebih terpuruk dan jauh dari semangat kebaikan itu sendiri.

Bagiku, selalu saja ada jalan untuk kembali.

Semangat Nge-Blog

Ye..ye..ye..Semangat ngotak-ngatik blog nih, rubah sana, rubah sini. Gak tahu deh apa hasilnya, tapi setidaknya sudah memuaskan keingin tahuan sayya. Ya namanya juga gaptek,hehehe.

Berhubung rumah blog nya ada 2, saya juga jadi bingung mengatur postingan agar adil merata. Karena sejauh ini saya nya mah lebih suka mosting dimari, daripada rumah sebelah sono. Ya kedepannya semoga aja saya bisa lebih adil dan merata ya *kok kayak sila ke lima pancasila ya.

Masih harus belajar nih, namanya juga masih amatir. Doain ilmu sayya bertambah ya....

UBAN SANG MALAIKAT SENJA


Acapkali dulu ketika waktu bersantai tiba, kakek selalu meminta untuk mencari uban(rambut yang memutih) dengan imbalan uang receh. Aku yang kala itu masih anak-anak akan dengan sangat senang mengerjakannya. Lalu dengan berjalannya sang waktu, uban di kepala sang kakek terus bertambah banyak, dan kesibukan dengan jenjang pendidikan yang semakin tinggi membuat waktu bersantai dengannya semakin sedikit.

Hingga masa tuanya merambat senja, rambutnya memutih semua. Beberapa kali kakek meminta untuk duduk berdua merambati waktu dengan mencari uban di rambutnya, namun dengan segala alasan kesibukan, aku menampik halus ajakannya, pun juga tak lagi berselera dengan imbalan uang receh, karena dalam saku seragamku sudah dipenuhi banyak uang kertas.

Suatu ketika sang kakek berkata kala aku dan dia duduk di meja makan yang sama :
“ Nak, jika kau tua nanti, apa yang kau inginkan?” Saat itu aku menjawab seenaknya, ,mengatakan bahwa tua itu akan lama lagi masanya, jadi tak perlu memikirkannya saat ini.

Namun, akhirnya aku paham dan berfikir sendiri. Bukankah senja itu adalah sebuah keniscayaan? Ketika tua menerpa, tak ada anugrah terindah selain hadirnya teman di sisi untuk menemani hari. Tak guna harta melimpah, karena masa tua bukalah masa menikmati dunia, namun lebih menghargai sisa usia didunia bersama orang terkasih. Lalu bagaimana masa tuaku? Jika meminta untuk mencarikan uban saja kelak keluargaku enggan, apalagikah jika mengurus raga ringkih yang tak lagi bertenaga?

Uban sang kakek mengajarkanku banyak hal, ada tautan hati yang ingin ia perbincangkan denganku kala itu. 


Tuesday, April 16, 2013

MENANTI HUJAN DALAM KENANGAN TENTANGMU

Aku sangat ingat, bahkan masih sangat lekat diingatan betapa seringnya kita merapal doa diantara jamuan rindu  hujan pada bumi. Aku yang sedari dulu selalu sendiri mulai tertarik pada tulus ulur tanganmu menyambungkan tali ukhuwah yang berbeda dari saudari kebanyakan. Perlahan tapi pasti setiap centi hati mulai kau ambil alih.

Dan masihkah kau ingat, betapa ragam julukan telah tersemat diwajah kita bertiga? Mulai dari trio embek, trio jawa, trio becak, tim ad-hock, dan sebagainya, adalah cerminan betapa raga kita yang kala itu selalu bersama dalam segala aktivitas juga telah mencuri banyak mata dengan tingkah yang kita yang kerap menimbulkan kontroversi. Kita memang berbeda, namun punya rasa gerakan yang sama. Kita memang punya sifat yang saling bertolak belakang, namun begitu manis saat disandingkan. Kita memang tak punya kekuasaan apapun, namun bisa menghandle sebuah kekuatan besar. Kita memang tak selalu sepaham, namun begitu serasi dalam satu keputusan. Itulah kita...

Dan sering sekali, hujan mewarnai langkah tertatih kita. Berdesakan didalam becak, bertiga memandangi hujan dengan tatapan cinta, lalu melangitkan doa dan haarapan pada-Nya. Bahkan tak jarang kita berlarian kecil menghindari tetes rahmat itu, berteduh dalam derap suara hati. Suatu kali kita pernah sengaja memilih membersamai hujan dengan duduk manis dibawah dedaun yang berterbangan serta langit yang telah berubah pekat. Sungguh, kita punya kenangan yang indah dengan hujan itu. Begitu juga dengan segala doa dan cita yang kita gelar dibawah rinainya, dengan segala keyakinan pada kekuasaan Allah, kita meyakinkan diri pada setiap harap itu.

Kita kerap menuai banyak komentar, dan rata-rata negatif. Betapa banyak hati yang tak paham dengan jalan fikiran kita yang nyeleneh dari kebanyakan teman. Kita bertiga juga yang acapkali kena marah dari berbagai pihak dengan segala ulah yang kontroversial itu. Bahkan sampai saat ini, kita masih memecahkan rekor'gila' yang mungkin baru kali ini masuk dalam daftar merah para 'atasan'. Kita tahu, dan berazzam untuk memperbaiki, karena sejatinya sahabat adalah saling mengingatkan.

Seperti mimpi, si bungsu pun telah lebih dulu menuai terkabulnya doa itu. Awal tahun ini dia telah lebih dulu menggenapkan mimpinya untuk menikah, bahkan dengan sosok yang begitu tak asing dengan segala cerita itu. Dan rahmat untuknya datang bertubi-tubi, ketika ALLAH mengamanahkan sebuah janin didalam kandungannya.

Kini, mungkin Allah hendak menunjukkan bahwa DIA begitu merahmati perjalan kita itu. Tanggal 28 nanti, si sulung akan menyusul si bungsu, juga dengan orang yang tak asing dalam cerita-cerita kita. Aku benar-benar tak percaya, betapa ini begitu cepat berlalu. Begitu cepatnya semua kisah itu menjadi kenangan, padahal kami belum menunaikan cita membersamai guyuran hujan deras itu. Tapi sudahlah, bukankah kita harus berbahagia dengan kelanjutan kisah kita?

Aku bahagia teman, sekaligus sedih.Karena ini berarti aku akan kembali sendiri seperti dulu. Namun aku berterimakasih pada jalinan kisah yang menyejarah dihidupku ini, yang telah dapat melahirkan puisi-puisi indah dari dinginnya hatiku, juga yang telah memberi ruh baru pada episode cita-cita kita.

Ini langkah pertama dari cita-cita besar yang kita rangkai, karena Allah juga tak buta dan tak tuli dari menyaksikan harap tulus kita. Aku sudah cukup bahagia, walau hanya dengan menuliskan setiap moment perjalanan kita. Juga teriring doa, kelak aku bisa membukukan kisah menyejarah ini dan membagikan kepada mereka, yang punya mimpi besar dengan segala ketidakmungkinannya.

*Si bungsu yang akan mengejar beasiswa S2 nya semoga lulus dan menuntut ilmu disana. Bukankah ini masuk dalam doa itu?
*Si sulung yang sedang dag dig dug menjelang pernikahannya, semoga dimudahkan.

*Pada hujan yang lain, aku menitipkan doa untuk sahabat terakasih ini.





Saturday, March 30, 2013

Titipan Ungu...

" Ini ada titipan, Kak"
Dewi lantas memberikan sebuah tas jinjing kecil yang dilakban menandakan ada sesuatu didalamnya. Dengan sumingrah aku menerimanya hangat. Beberapa waktu lalu, sang pemilik titipan ungu itu telah mengabarkan akan menitipkan sesuatu untukku melalui temannya yang akan menjadi pemateri mentoring kepenulisan di kota kecilku ini.

Dengan rasa penasaran aku membukanya segera. sebuah kaset CD nasyid dimana ada dia dan kelompok nasyidnya disana, sebuah buku antologi cerpen, sebuah gantungan kunci dari Sibolga, dan satu lagi...sepucuk surat dengan tulisan tangannya yang khas.

Beberapa waktu kemudian, aku jatuh cinta dengan tas jinjing ungu itu. Aku membawanya kemana-mana dan kuisi apa saja yang bisa kubawa, walaupun sebenarnya bisa kumasukkan ke dalam tas ranselku. Kombinasi warna ungu dengan gambar daun yang meneteskan embun menjadikan relaksasi harmoni keindahan disana. Sungguh aku benar-benar terpikat olehnya.

Lama kelamaan aku menyadari, jika tas jinjing itu terus-terusan kubawa kesana kemari maka besar kemungkinan akan rusak. Sejurus kemudian, keputusan untuk 'memusiumkan' tas ungu itu adalah keputusan terbaik. Melipatnya rapi dan menyimpannya dibawah tumpukan buku-buku agar tetap kelihatan bagus.

Titipan ungu itu adalah cerminan sang empunya. Dengan ketulusan yang besar, titipan itu akhirnya mewujud sebuah raga yang indah dan berkesan sampai kapanpun.Ukhuwah yang terajut dengan hanya hitungan beberapa hari semenjak pertemuan pertama kami di mentoring penulisan 1 bulan yang lalu itu ibarat sebuah syair kerinduan yang sanggup memenjarakan setiap rasa agar berubah menjadi raga perjumpaan.

Hanya Allah yang sanggup membalas cinta manusia, juga segala pengorbanannya. Karena diri menyadari, kerap memberi kecewa pada setiap hati yang menautkan namaku pada dinding hati. Pun dengan wujud titipan ungu ini, sebuah doa menghampar pada bumi untuknya, seorang saudari yang merelakan memberi sedikit ruang hatinya untukku yang kerap mengecewakan setiap raga.

Aku selalu mengejar misteri akan sebuah tanya
Pada hamparan kabut yang menyapa 
Dengan segunung kasih yang dibentangkan pada setiap rentang langkah
Ada aku dan guratan noda mengendap lekat

*Terimakasih untuk adindaku Lailan Syafira, atas titipan ungu yang mampu menawan hatiku. Juga segenap perhatian yang menggugurkan setiap sangka akan fenomena tipisnya ukhuwah.